Malam. Semarang pukul 23.42. Ngayal semaunya dan ngomong semuanya. Dua orang teman baru pulang setelah berhaha-hihi lebih kurang tiga jam. Masih membahas soal yang sama, kerjaan. Bukan, bukan. Mereka bukan ngomong soal, gimana kerjaanmu? atau gimana bosmu? Masih seputar, ada lowongan dimana? mau daftar dimana lagi? ya, masih seputar itu sedikit diselingi dengan guyonan penghibur diri. Si Acit baru saja resign dari kerjaannya dengan gaji terakhir yang belum dibayarkan. Si Deden masih nyaman dengan kerjaannya yang santai. Aku? jangan tanya. Masih selalu memalingkan obrolan dengan membahas tugas-tugas dari kampus. Presentasi, bikin kurva serta tetek bengek yang kulebih-lebihkan biar kelihatan sibuk saja. Aku sedang tak ada gairah ngobrol soal kerjaan.
Setelah ngobrol ngalor ngidul tak jelas, seperti biasa, si Acit membuka obrolan. Memang, dia begitu. Manusia dengan beribu kisah.
"Aku ndue cerito, Ndes," ia berbicara sedikit tak jelas dengan tawanya yang menumpuk.
Ia bilang bahwa di tengah pekerjaannya yang nggak asyik, sebelum ia resign tentunya, ada saja satu dua hal yang datang sebagai penghibur. Kali ini anak dari bosnya yang kena giliran untuk dibahas. Katanya, anak bosnya ini "rodok loro" yang berarti rada sakit. Bagaimana tidak. Anak itu masih kelas satu SD. Punya babysitter usianya sekitar dua puluh tahunan. Awalnya kami, aku dan si Deden mendengarkan dengan biasa.
"Cah iki ki rodok loro, Ndes. Sumpah," kata Acit kembali dengan tawanya yang selip-selipan.
"Loro piye? Cerito sek to. Ngguyune mengko," Deden mulai kesal. Aku hanya senyum-senyum menunggu Acit melanjutkan ceritanya.
"Dadi ki ndeknen kan jek kelas siji SD. Dolan neng kantor mbek babysistere. Njur. . . "
"Babysitter, Ndes. Sister sister," Deden memotong.
"Lha yo pokokmen kui. Lha, cah iki ki seneng ngguselke ndase neng selangkangane babysitter-e kui, Ndes. Gek didulang ngono to, jugujug ngguselke ndase. Kadangan yo neng susune. Aku yo mung ngguya-ngguyu tok to. Cah iki piye iso ngono ki diwaraih sopo ngono lho."
Aku ketawa. Mencoba membayangkan apa yang diceritakan si Acit ini. Soal benar tidaknya cerita itu, biar dua malaikat di kanan kirinya yang menjelaskannya kelak. Tapi asli, aku ketawa kencang. Tenggorokanku sampai kering dibuatnya. Brengsek.
"Lha njur si babystitter-e kui pye, Ndes? Moso meneng ae?" tanyaku.
"Ngono-ngono tok kae. Saru dek, ah. Mung ngomong ngono tok. Lha Pak'e kan weruh kui, yo tekon ngene, koe ki ngopo to, Dek? rodok loro ig. hahahaha."
"Cah cilike piye terusan?" Deden tanya. Aku ketawa. Acit masih ketawa juga.
"Mung ngguya-ngguyu tok. Cengar-cengir rak jelas. Njur kan aku tekon to, Dek, koe ki ngopo to kok ngono? Tekonku yo mbek ngguya-ngguyu. Pekok og cah iki. Hahahah". Acit ketawa dibarengi dengan asap rokok yang mengepul keluar dari mulutnya. "Terus ndeknen jawab opo jal?" Lanjutnya.
"Opo?"Aku dan Deden hampir berbarengan.
"Enak og, Om. hahahaha. Goblok rak kui?"
"Hahahahahahaha," aku, Acit dan Deden ketawa kencang.
Untuk bahasan yang satu ini aku lebih tertarik ketimbang membahas soal mendaftar pekerjaan. Mereka datang membawa cerita yang biasa namun, ketawa bersama akan menguatkan humor yang ditawarkan disamping juga untuk menghargai si penyaji cerita.
Setelah bercerita kesana kemari dan ketawa yang sampai menguras kering tenggorokanku, aku tawarkan mereka untuk minum kopi di burjo pertigaan depan.
"Gah ah. Kopi ki ireng og wernone," Acit menolak. Deden tertarik. Tapi bukan untuk kopi. Ia lapar karena memang sedari tadi perutnya bunyi terus.
"Yo kan ono white kopi to, Cuk?" aku memberi tawaran ke Acit.
"Meneh kui. Kopi rak jelas. Jarene white kopi. Jebul yo wernone coklat. Indonesia ki aneh-aneh wae og. Mesti ki goro-goro didikane Orde Baru ki," jawab Acit.
"Kok iso tekan Orde Baru mbarang ki piye?" tanya Deden.
"Lha piye? Jek enak jamanku, to?" Acit bertanya balik.
"Hahahaha. Koe ki asu donan. Kopi iso tekan Orde-ordenan ki piye. Piye gelem rak?" aku kembali menawarkan.
Keputusan akhirnya bulat. Kami berangkat ke burjo naik motor si Deden berbonceng tiga. Dengan posisi aku yang nyetir, Acit di tengah karena badannya paling kecil dan di belakang si Deden tentunya. Acit masih juga belum berhenti ngoceh. Di jalan, ia merajuk.
"Den, koe ki kakeane. Ojo maju-maju to, Ndes. Manukmu ki lho nempel bokongku," aku ketawa.
"Ki jane motor mung nggo wong loro, Cit. Wis to menengo. Diluk meneh yo tekan," jawab si Deden.
Di burjo, Deden yang memang sudah lapar langsung memesan magelangan. Acit memesan bubur kacang ijo dengan es, tapi kesal karena tidak diberi sirup. Aku hanya memesan susu coklat panas dan rokok surya satu batang dan kaget waktu tahu ternyata burjo ada wifinya. Deden berbisik ke aku karena melihat dua cewek berjilbab yang sedang makan mi dokdok.
"Ndes, adem ya. Wajahnya itu lho. Mirip yang main di Roman Picisan versi syari'ah," aku kaget. Deden tiba-tiba berbahasa Indonesia.
"Ndes, rungokno. Roman Picisan, Roman Kamaru, Boy, Anak Langit, Anak setan, luweh. Aku ki rak mudeng," jawabku. Si Acit mengajak kami duduk.
"Norman, Cuk, Norman," kata si Deden membenarkan. "Subhanallah," lanjutnya.
Acit bertanya padaku soal kabar si Mira, teman kampus dulu yang selalu kami bahas berdua. Aku bilang dia sudah bekerja. Acit sebenarnya bukan menanyakan soal itu. Aku paham betul, Acit ingin mengulang masa-masa dimana kami membahas soal si Mira ini dari ujung kuku jempol kaki sampai ujung rambutnya yang kebetulan tidak bercabang. Soal bodinya yang aduhai. Tapi aku hanya senyam-senyum. Karena butuh waktu sekitar dua jam untuk berdiskusi soal bodi si Mira ini. Juga karena ada banyak orang. Aku sungkan membahasnya. Deden juga hanya ketawa-ketawa melihat muka si Acit yang berubah seketika saat membahas si Mira dengan sesekali mencuri-curi pandang pada cewek berjilbab tadi.
"Ini tadi yang pesen magelangan minumya apa ya, A?" tanya si mamang burjo. Maksudnya si Deden. Karena Deden yang memesan magelangan.
"Dia nggak pesen magelangan, A". Jawab Acit. "Dia cuma pesen supaya Hak Angket DPR soal KPK itu, jangan disetujui. Sama tadi dia pesen ke saya minta tolong nanyain ke Aa, keluarga A6 itu yang mana yang anaknya KD sama yang mana yang anaknya Asanti. Gitu, A." Lanjutnya.
Aku ketawa kencang. Deden ketawa tapi sedikit ia tahan. Edan. Pembeli yang lain yang lagi pada makan ikut ketawa juga. Kebetulan malam ini ramai dan di tv ada GP dengan posisi sementara Pedrosa yang memimpin balapan. Biasanya sepi karena di samping burjo ada ayam geprek, dan di depannya ada nasi goreng yang kebetulan juga dua-duanya tutup. Memang Acit edan. Si Mamang hanya senyum dan kembali menanyakan minum apa ke si Deden.
"Es teh aja, A," jawab Deden. Sambil melangkah untuk ambil tahu bakso.
"Aku ji, Den," kataku. Maksudnya minta tolong pada Deden, sekalian ambilkan satu.
Magelangan untuk si Deden datang. Kemudian tanpa memikirkan kepulan uap yang menandakan magelangannya masih panas, Deden langsung melahapnya. Perlu diketahui, Dedenlah yang bayar semua pesanan kami. Baik dia. Katanya baru gajian. Aku juga dikasih ceban untuk beli rokok. Aku bilang nanti kalau aku diterima di BI, aku bakal balikin duitnya. Dengan wajah sok ngeboss, Deden bilang nggak usah.
"Aku meh amal neng koe," kata Deden padaku.
Setengah jam kemudian mereka pamit pulang. Cuaca lumayan dingin. Tapi karena aku dari pagi belum mandi, rasanya biasa saja. Hari ini, kedatangan mereka sangat membuatku terhibur. Karena setelah wisudaan Oktober lalu, praktis kami jarang berkumpul. Yasudah. Kami harus menjalankan hidup masing-masing. Bertemu bila ada waktu, memberi like atau love di Instagram bila mereka apload foto atau menyapa lewat grup Line angkatan.
Hari ini, disamping aku senang karena dua temanku datang, di sisi lain ada sesuatu yang sedang terjadi pada temanku di lain tempat. Dia mengapload gambar di Instagram dengan caption yang, ya lumayan sedih. Sepertinya menyangkut soal asmara. Aku jadi ingat pacarku. Sedang apa dia? Oh tadi dia bilang mau tidur saat di chat. Aku disuruhnya untuk tidur juga. Kujawab nanti, duluan aja.
"Besok aku berangkat pagi," katanya.
"Berangkat kemana?"
"Hmmm. Biasa deh. Sekolah lah. Besok ulangan sejarah"
"Hahaha. Udah lulus juga. Oke, sekarang tidur."
"Iya kamu juga tidur."
"Nanti, ya. Masih sore ini mah. Duluan aja."
"Jangan pagi-pagi terus tidurnya."
"Jangan Instastory-an mulu."
"Hahaha, nggak."
"Iya."
"Jangan lupa makan."
"Iya."
"Jangan lupa mapan."
"Iya. Pasti. Eh?" aku kaget.
"Hahahaha,"
"Hahahaha,"
"Aku tidur, ya?"
"Monggo."
And on, and on, and on. Capek dia, kasihan. Aku juga capek, kasihan, nggak? Nggak? Oke fine. Aku rebahan. Pikiran dan bayangan seketika memenuhi otak tanpa bisa antre. Sial. Nggak tahu dari mana datangnya, tiba-tiba aku berpikir bagaimana caranya agar aku bisa jadi anak seorang tentara. Biar bisa jadi seperti Sammy Notaslimboy atau Pidie Baiq. Oh, ternyata aku memang demikan. Aku anak kolong. Karena sudah tercapai apa yang aku ingin sebelumnya, kemudian aku berpikir bagaimana caranya agar bisa bikin video Q and A dengan Fathia Izzati. Oh, nggak mungkin. Bahasa Inggrisku jelek. Aku berpikir lagi. Kali ini bagaimana caranya agar aku bisa tidur. Karena aku belum ngantuk sedikitpun.
Pukul 02.43. Senin. Giliran Angel dari Sarah McLachlan yang mengalun. Aku ingat soal helmku yang ketinggalan di bengkel waktu servis motor kemarin. Oh ya. I'll tell you something. Lanjutkan hidup. Jalani yang ada. Masa depan nanti aja. Intinya buat hari ini lebih baik dari kemarin. Soal masa depan enak, itu bonus. Ah. Itu kata-kata siapa, aku lupa. Intinya itu. Karena cerita ini nggak ada pesan moralnya, aku buat saja. Walaupun nggak nyambung sama cerita yang tadi di atas.
Selebihnya, kalau punya ingatan yang kurang tajam sepertiku, menuliskannya kembali akan menjadi solusi terbaik. Kalau kata anak sekarang, Solusi yang hakiki. Apa itu artinya, aku nggak tahu.
Mari pejamkan mata dan tidur.
0 comments:
Post a Comment