Wednesday, 5 October 2016

SOSOK: INGGIT GARNASIH





“Aku percaya pada kekuatanku, aku percaya pada akalku, pada tanganku”
(Inggit Garnasih, Kuantar Ke Gerbang – Ramadhan K.H)


Ada yang pernah melihat atau tahu nama sosok perempuan yang duduk di samping Soekarno di atas? Mungkin namanya kurang familiar bila dibandingkan dengan Fatmawati yang konon menjahit bendera merah putih. Atau seperti nama R.A Kartini yang semua orang tahu dengan kecerdasan yang beliau miliki, mampu menyuarakan dan menggelorakan semangat emansipasi di kalangan perempuan tanah kelahirannya, bahkan pribumi atau sering kita sebut bumiputera. Atau juga Tjut Njak Dien, pahlawan perempuan yang menggelorakan semangat melawan penjajah Belanda dari tanah rencong bersama suaminya Teuku Umar. Atau Dewi Sartika, tokoh perintis pendidikan untuk kaum perempuan dari tanah Pasundan. 

Ia adalah Inggit Garnasih. Sosok perempuan biasa yang karena kesetiaan, kesabaran, dan budi luhurnya meninggalkan teladan dan menginspirasi bagi perempuan Indonesia. Inggit Garnasih lahir tanggal 17 Februari 1888 di Desa Kamasan, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung. Ia adalah istri kedua Soekarno. Inggit Garnasih dikenal bukan hanya karena ia adalah istri dari Presiden Republik Indonesia yang pertama, namun karena perjalanan hidupnya yang setia, sabar, dan penuh semangat mendampingi Soekarno saat menjalani hari-hari beratnya dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sehingga Bung Karno menyebutnya sebagai tulang punggung dan tangannya. Inggit mendampingi Soekarno selama kurang lebih dua puluh tahun dari tahun 1923 sampai 1943. Jauh sebelum Soekarno diangkat sebagai Presiden Republik Indonesia yang pertama. 

Karena semangat dan perjuangannya yang tulus saat mendampingi Soekarno, penggalan kisah hidup Inggit diabadikan dalam film berjudul "Soekarno" garapan sutradara ternama, Hanung Bramantyo. Sosok yang memerankan Inggit Garnasih dalam film tersebut adalah Maudy Koesnadi. Dan dalam film berjudul "Ketika Bung Di Ende" garapan sutradara Viva Westi yang menceritakan kisah hidup Soekarno saat menjalani hidup dalam keterasingan di Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur karena di buang oleh pemerintah Hindia Belanda, sosok Inggit Garnasih diperankan oleh Paramitha Rusady. 

Inggit Garnasih lahir dari pasangan Arjipan dan Amsi. Lahir dengan nama Garnasih, Inggit tumbuh menjadi sosok wanita yang cantik. Banyak pria yang tidak henti melihat senyumannya. Ada cerita menarik dibalik penambahan kata Inggit pada nama Garnasih. Menurut Sejarawan Rushdy Hoesein, Inggit adalah sosok gadis desa yang cantik jelita, sehingga ada cerita, atas kelebihan (kecantikan) yang Inggit miliki itu, banyak yang memberikan uang (dalam bentuk penghargaan) berupa Ringgit. Dari itu, nama Inggit tersemat. 

Mengenai kisah asmaranya, Inggit muda saat itu menaruh hati pada seorang pemuda bernama Sanusi. Namun kisah itu tidak berlanjut karena Inggit cemburu mendengar kabar bahwa Sanusi akan dinikahkan dengan wanita lain. Kemudian Inggit memutuskan menikah dengan seorang kopral residen Belanda bernama Nata Atmaja saat usianya enam belas tahun. Namun pernikahan itu tidak berlangsung lama dan pada tahun 1904 keduanya bercerai. Inggit yang masih menyimpan rasa pada Sanusi, akhirnya menikah dengan Sanusi setelah pemuda yang dicintainya itu bercerai. 

Haji Sanusi adalah saudagar kaya yang menjadi anggota Sarekat Islam dan juga teman mertua sekaligus guru Soekarno, yaitu HOS Tjokroaminoto.

Pertemuan Dengan Soekarno

Perkenalan Soekarno dan Inggit terjadi di dahului dengan rentetan kejadian. Soekarno yang saat itu baru lulus dari HBS pada Juni 1921, Soekarno melanjutkan pendidikannya di Technise Hooge School) THS Bandung yang sekarang menjadi ITB. Menurut sejarawan Rushdy Hoesein, Soekarno yang saat itu adalah suami dari Oetari, anak pertama HOS Tjokroaminoto, berangkat ke Bandung dengan surat dari HOS Tjokroaminoto untuk menemui H. Sanusi agar membantu mencarikan pondokan untuk Soekarno. Setelah gagal menemukan pondokan, akhirnya Soekarno tinggal di rumah H. Sanusi dan Inggit Garnasih atas izin mereka berdua. Beberapa selang waktu kemudian, Oetari, istri Soekarno datang berkunjung ke Bandung untuk menemui suaminya. H. Sanusi dan Inggit yang tahu bahwa mereka berdua adalah pasangan suami istri akhirnya menempatkan Oetari dan Soekarno pada satu kamar. Akan tetapi pada suatu saat Soekarno menceritakan pada Inggit bahwa ia dan Oetari sama sekali belum pernah berhubungan layaknya pasangan suami istri. Menurut keterangan Soekarno, hubungannya dengan Oetari seperti hubungan antara kakak dan adik. Tidak lebih. Dan Soekarno ingin agar Oetari ditempatkan di kamar yang berbeda. Sampailah pada akhirnya Soekarno memutuskan untuk mengembalikan Oetari pada orangtuanya secara baik-baik.

Soekarno kembali pada rutinitasnya, yaitu sebagai seorang pelajar dan sering melakukan diskusi di pondokannya. Tak terkecuali berdiskusi dengan Inggit. Karena H. Sanusi sering pergi karena ada urusan di luar rumah. Hingga pada suatu saat Soekarno dengan berani mengungkapkan perasaannya pada Inggit karena ia menemukan sosok yang dirasa sangat luar biasa. Soekarno merasa Inggit adalah seorang Ibu, teman dan kekasih. Begitu pula apa yang dirasakan Inggit. Ia merasa pernikahannya dengan H. Sanusi yang sudah tidak harmonis, akhirnya terpikat pada pemuda yang mondok di rumahnya. Dengan berani pula Soekarno berterus terang pada H. Sanusi tentang perasaanya pada Inggit. Karena melihat Soekarno yang serius tentang perasaannya pada Inggit dan setelah mendengar keterangan Soekarno, akhirnya H. Sanusi dan Inggit bercerai dengan terhormat dan secara baik-baik. Dan tidak keberatan apabila mantan istrinya itu menikah dengan Soekarno. Tidak lupa juga H. Sanusi meberikan pesan pada Soekarno agar menjaga Inggit dengan baik. Dan kepada mantan istrinya, H. Sanusi berharap agar Inggit dapat membimbing Soekarno supaya menjadi orang penting karena Soekarno saat itu sedang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Pada tahun 1923 akhirnya Soekarno resmi mempersunting Inggit. Pada saat itu Soekarno berusia dua puluh dua tahun dan Inggit menginjak usia tiga puluh tiga tahun. Menurut keterangan Jajang, juru pelihara rumah Inggit Garnasih, H. Sanusi turut serta sebagai saksi pernikahan itu. Ada yang unik dari pernikahan Soekarno-Inggit. Karena dalam surat nikah Soekarno dan Inggit, usia Soekarno ditulis dua puluh empat tahun sementara usia Inggit ditulis dua puluh tiga tahun.

Selama hampir dua puluh tahun Inggit mendampingi Soekarno menjalani masa-masa suka dan duka. Karena tidak dikaruniai anak, akhirnya mereka mengangkat anak dari kakak Inggit dan mereka memberi nama Ratna Djuami atau sering dipanggil Omi. Apalagi sebagai seorang yang ikut serta dalam pergerakan nasional, Soekarno kerap kali menjadi buronan pemerintah Hindia-Belanda. Soekarno sempat dijebloskan dalam penjara Banceuy, Bandung, karena keberaniannya mengkritik pemerinta Hindia-belanda. Dari dalam penjara Banceuy inilah, Soekarno mebuat pledoi yang terkenal dengan judul “Indonesia Menggugat” yang membuat pemerintah Hindia-Belanda semakin murka. Kemudian ia dipindahkan ke penjara Sukamiskin yang letaknya kurang lebih 10 km di luar kota Bandung. Pada saat itu kesetiaan Inggit diuji. Setiap dua kali dalam seminggu Inggit menjenguk suaminya itu di penjara Sukamiskin yang menempuh jarak kurang lebih 30 km dari Caiteu. Inggit menempuhnya dengan berjalan kaki dengan alasan mengirit ongkos. Inggit menjadi informan bagi Soekarno atas apa yang terjadi di luar penjara. Dengan menggunakan kode-kode yang diberikan Inggit, Soekarno tetap tahu apa yang terjadi selama dirinya dalam penjara. Dalam keadaan seperti itu, Inggit Garnasih adalah orang yang paling berjasa dalam memberikan semua yang diperlukan Soekarno.

Saat Soekarno dipenjara, PNI dibubarkan oleh orang anggotanya sendiri yaitu, Sartono. Kemudia mendirikan Partindo. Setelah keluar dari penjara, Soekarno juga bergabung denga Partindo. Apa yang dilakukan Soekarno tidak berubah hanya karena ia dipenjara. Sehingga pemerintah Hindia-Belanda menjadi semakin marah dan menganggap Soekarno tidak mempan apabila dipenjara namun masih di tanah Jawa. Akhirnya Soekarno “dibuang” ke Ende, Flores. Demi kesetiaanya kepada sang suami, Inggit pun ikut serta dalam pembuangan tersebut dan mebawa serta ibunya, Amsi dan anaknya, Omi. Karena tidak tahu akan berapa lama selama pembuangan, akhirnya Inggit menjual rumahnya yang di Bandung.

Pada Saat Di Ende

“Aku sudah tahu, meskipun tidak dikatakan berapa lama kami harus hidup dalam pembuangan, aku sudah harus siap. Untuk hidup di sana itu sampai ajal.”
(Inggit Garnasih, Kuantar Ke Gerbang – Ramadhan K.H)


Ende merupakan tempat yang sangat asing. Begitulah yang dirasakan Inggit dan keluarganya. Tidak ada satu orang pun yang mengenal Soekarno. Pada saat-saat seperti itu, Inggit memang berperan sebagai kawan, partner diskusi yang intens serta sebagai seorang yang tidak kenal lelah menyemangati Soekarno. Sangking ketatnya penjagaan terhadap Soekarno sehingga setiap keluar rumah, Soekarno terus dijaga oleh polisi pemerintah Hindia-Belanda. Soekarno tidak diperbolehkan orasi atau apapun yang berhubungan dengan pergerakan karena pemerintah Hindia-Belanda khawatir pengaruhnya akan seperti saat Soekarno berada di tanah Jawa. Soekarno pun akhirnya berpikir bagaimana caranya agar ia bisa terus aktif dalam pergerakan. Akhirnya ia memilih cara lain yaitu dengan membentuk sebuah grup sandiwara sejenis teater dan menamakannya Tonil Kelimutu dan atas hubungannya yang baik dengan pastor yang ditugaskan di Ende, akhirnya sandiwara itu dapat dipentaskan di gedung Maria Immaculata.

Banyak peristiwa yang terjadi selama Soekarno dan Inggit di Ende. Soekarno sempat terkena malaria dan Inggit harus menerima kenyataan bahwa ibunya, Amsi meninggal dunia dan dimakamkan di sana. Soekarno dan Inggit juga mengangkat anak dari keluarga Atmosudirjo, keluarga dari Jawa dan memberi nama Kartika.

“Inggit merupakan tiga bentuk dalam satu kepribadian. Yakni ibu, kawan dan kekasih yang selalu memberi tanpa harus menerima.”
(Poeradisastra – The X Files of Bung Karno)


Setelah dari Ende, pada tahun 1938. pemerintah Hindia-Belanda memutuskan untuk memindahkan Soekarno ke Bengkulu. Dengan tabah dan sabar, Inggit tetap setia menemani Soekarno untuk pindah ke Bengkulu. Pembuangan Soekarno ke Bengkulu dirasakan telah memutus hubungan peran politiknya dengan Indonesia. Dan hampir saja orang tidak mengingat lagi ada sosok bernama Soekarno. Di Bengkulu, Soekarno menjadi seorang guru di sekolah Muhammadiyah dan berkenalan dengan Ketua Muhammadiyah Bengkulu, Hasan Din. Karena melihat Soekarno sebagai guru dan dengan alasan agar melanjutkan sekolahnya, Hasan Din menitipkan anaknya yaitu, Fatmah pada Soekarno agar diasuh dan Soekarno mengganti namanya menjadi Fatmawati.

Seiring berjalannya waktu, Soekarno merasakan ada benih cinta antara dirinya dan Fatmawati. Inggit pun merasakan demikian. Hingga akhirnya Soekarno berterus terang tentang perasaannya itu pada Inggit dan tentang keinginannya untuk mempunyai keturunan. Pada film “Soekarno” garapan Hanung Bramantyo, kejadian itu digambarkan dengan marahnya Inggit pada Soekarno dan dengan tegas menolak untuk dipoligami. Dengan berpikiran logis bahwa Soekarno ingin mempunyai keturuan, akhirnya Inggit bersedia bila Soekarno ingin menikah lagi dengan syarat bercerai. Tetapi Soekarno tidak tega apabila harus menceraikan Inggit yang sudah begitu berjasa menemaninya selama hampir dua puluh tahun.

Hal ini menjadi demikian larut sampai akhirnya Soekarno dibebaskan dan kembali ke Jakarta. Pada saat itu kedudukan telah diambil alih oleh Jepang. Di Jakarta Soekarno bertemu dengan tokoh-tokoh pergerakan lainnya yang tergabung dalam 4 Serangkai yakni, Ia sendiri, Moh. Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan KH. Mas Mansyur. Dalam pergerakannya itu, keinginan Soekarno untuk mempunyai anak tidak pernah surut.

Soekarno akhirnya memutuskan untuk menceraikan Inggit pada tahun 1943. Atas pendapat teman-temannya yang tergabung dalam 4 Serangkai, Soekarno menceraikan Inggit dengan syarat agar Soekarno membelikan rumah untuk Inggit menikmati hari tuanya di Bandung. Soekarno pun menyanggupi syarat itu. Dalam masa tuanya Inggit tidak pernah menikah lagi dan menghabiskan masa tuanya di Bandung dengan kedua anak angkatnya Ratna Djuami dan Kartika. Ia bekerja sebagai pembuat jamu dan bedak kemudian dijualnya untuk menyambung hidup.

“Mencintai adalah menerima rasa sakit itu.”
(Inggit Garnasih, Kuantar Ke Gerbang – Ramadhan K.H)


Akhirnya sampailah pada akhir dari tugas seorang Inggit Garnasih sebagai sosok yang menemani dan mengantar Engkusnya (panggilan Inggti pada Soekarno) sampai ke gerbang kemerdekaan. Selesai sudah tugas Inggit sebagai Ibu, kawan dan kekasih yang setia bagi Bung Karno. Atau mungkin juga sebagai guru, sebagai teman seperjuangan dan pahlawan bagi Bung Karno.

Pada tahun 1960, Inggit sakit dan Bung Karno menjenguknya. Bung Karno mengakui bahwa Inggit lah tulang punggung dan tangan kanannya selama mereka berkeluarga dan dalam masa-masa sulit memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Hingga usia tuanya Inggit tetap bekerja dan meneruskan hidupnya di Bandung.

Pada tahun 1984, Inggit meninggal dunia empat belas tahun setelah kepergia Soekarno. Tepatnya pada tanggal 13 April 1984. Memang, nama ibu Inggit tidak sepopuler dibandingkan nama-nama yang saya sebutkan di atas. Tetapi peran Inggit Garnasih sangat berpengaruh pada pembentukan karakter Soekarno yang dikemudian hari menjadi Presiden Indonesia yang Pertama dan Sebagai Proklamator kemerdekaan Indonesia bersama Moh. Hatta.

“Aku telah mengantarkan seseorang sampai di gerbang yang amat berharga.”
(Inggit Garnasih, Kuantar Ke Gerbang – Ramadhan K.H)

Menurut kawan-kawan, pantaskah ibu Inggit mendapat gelar pahlawan?



Sumber: 
Metro TV. Melawan Lupa
Kuantar Ke Gerbang, Ramadhan K.H
Gambar : Google

2 comments: