“Aku percaya pada
kekuatanku, aku percaya pada akalku, pada tanganku”
(Inggit Garnasih, Kuantar Ke Gerbang – Ramadhan K.H)
Ada yang pernah melihat atau tahu nama sosok perempuan yang
duduk di samping Soekarno di atas? Mungkin namanya kurang familiar bila
dibandingkan dengan Fatmawati yang konon menjahit bendera merah putih. Atau
seperti nama R.A Kartini yang semua orang tahu dengan kecerdasan yang beliau
miliki, mampu menyuarakan dan menggelorakan semangat emansipasi di kalangan
perempuan tanah kelahirannya, bahkan pribumi atau sering kita sebut bumiputera.
Atau juga Tjut Njak Dien, pahlawan perempuan yang menggelorakan semangat
melawan penjajah Belanda dari tanah rencong bersama suaminya Teuku Umar. Atau
Dewi Sartika, tokoh perintis pendidikan untuk kaum perempuan dari tanah
Pasundan.
Ia adalah Inggit Garnasih. Sosok perempuan biasa yang
karena kesetiaan, kesabaran, dan budi luhurnya meninggalkan teladan dan
menginspirasi bagi perempuan Indonesia. Inggit Garnasih lahir tanggal 17
Februari 1888 di Desa Kamasan, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung. Ia adalah
istri kedua Soekarno. Inggit Garnasih dikenal bukan hanya karena ia adalah
istri dari Presiden Republik Indonesia yang pertama, namun karena perjalanan
hidupnya yang setia, sabar, dan penuh semangat mendampingi Soekarno saat
menjalani hari-hari beratnya dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Sehingga Bung Karno menyebutnya sebagai tulang punggung dan tangannya. Inggit
mendampingi Soekarno selama kurang lebih dua puluh tahun dari tahun 1923 sampai
1943. Jauh sebelum Soekarno diangkat sebagai Presiden Republik Indonesia yang
pertama.
Karena semangat dan perjuangannya yang tulus saat
mendampingi Soekarno, penggalan kisah hidup Inggit diabadikan dalam film
berjudul "Soekarno" garapan sutradara ternama, Hanung Bramantyo.
Sosok yang memerankan Inggit Garnasih dalam film tersebut adalah Maudy
Koesnadi. Dan dalam film berjudul "Ketika Bung Di Ende" garapan
sutradara Viva Westi yang menceritakan kisah hidup Soekarno saat menjalani
hidup dalam keterasingan di Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur karena di buang
oleh pemerintah Hindia Belanda, sosok Inggit Garnasih diperankan oleh Paramitha
Rusady.
Inggit Garnasih lahir dari pasangan Arjipan dan Amsi. Lahir
dengan nama Garnasih, Inggit tumbuh menjadi sosok wanita yang cantik. Banyak
pria yang tidak henti melihat senyumannya. Ada cerita menarik dibalik
penambahan kata Inggit pada nama Garnasih. Menurut Sejarawan Rushdy Hoesein,
Inggit adalah sosok gadis desa yang cantik jelita, sehingga ada cerita, atas kelebihan
(kecantikan) yang Inggit miliki itu, banyak yang memberikan uang (dalam bentuk
penghargaan) berupa Ringgit. Dari itu, nama Inggit tersemat.
Mengenai kisah asmaranya, Inggit muda saat itu menaruh hati
pada seorang pemuda bernama Sanusi. Namun kisah itu tidak berlanjut karena
Inggit cemburu mendengar kabar bahwa Sanusi akan dinikahkan dengan wanita lain.
Kemudian Inggit memutuskan menikah dengan seorang kopral residen Belanda
bernama Nata Atmaja saat usianya enam belas tahun. Namun pernikahan itu tidak
berlangsung lama dan pada tahun 1904 keduanya bercerai. Inggit yang masih
menyimpan rasa pada Sanusi, akhirnya menikah dengan Sanusi setelah pemuda yang
dicintainya itu bercerai.
Haji Sanusi adalah saudagar kaya yang menjadi anggota
Sarekat Islam dan juga teman mertua sekaligus guru Soekarno, yaitu HOS
Tjokroaminoto.
Pertemuan Dengan Soekarno
Perkenalan Soekarno dan Inggit terjadi di dahului dengan rentetan kejadian. Soekarno yang saat itu baru lulus dari HBS pada Juni 1921, Soekarno melanjutkan pendidikannya di Technise Hooge School) THS Bandung yang sekarang menjadi ITB. Menurut sejarawan Rushdy Hoesein, Soekarno yang saat itu adalah suami dari Oetari, anak pertama HOS Tjokroaminoto, berangkat ke Bandung dengan surat dari HOS Tjokroaminoto untuk menemui H. Sanusi agar membantu mencarikan pondokan untuk Soekarno. Setelah gagal menemukan pondokan, akhirnya Soekarno tinggal di rumah H. Sanusi dan Inggit Garnasih atas izin mereka berdua. Beberapa selang waktu kemudian, Oetari, istri Soekarno datang berkunjung ke Bandung untuk menemui suaminya. H. Sanusi dan Inggit yang tahu bahwa mereka berdua adalah pasangan suami istri akhirnya menempatkan Oetari dan Soekarno pada satu kamar. Akan tetapi pada suatu saat Soekarno menceritakan pada Inggit bahwa ia dan Oetari sama sekali belum pernah berhubungan layaknya pasangan suami istri. Menurut keterangan Soekarno, hubungannya dengan Oetari seperti hubungan antara kakak dan adik. Tidak lebih. Dan Soekarno ingin agar Oetari ditempatkan di kamar yang berbeda. Sampailah pada akhirnya Soekarno memutuskan untuk mengembalikan Oetari pada orangtuanya secara baik-baik.
Soekarno kembali pada rutinitasnya, yaitu sebagai seorang
pelajar dan sering melakukan diskusi di pondokannya. Tak terkecuali berdiskusi
dengan Inggit. Karena H. Sanusi sering pergi karena ada urusan di luar rumah.
Hingga pada suatu saat Soekarno dengan berani mengungkapkan perasaannya pada
Inggit karena ia menemukan sosok yang dirasa sangat luar biasa. Soekarno merasa
Inggit adalah seorang Ibu, teman dan kekasih. Begitu pula apa yang dirasakan
Inggit. Ia merasa pernikahannya dengan H. Sanusi yang sudah tidak harmonis,
akhirnya terpikat pada pemuda yang mondok di rumahnya. Dengan berani pula
Soekarno berterus terang pada H. Sanusi tentang perasaanya pada Inggit. Karena
melihat Soekarno yang serius tentang perasaannya pada Inggit dan setelah
mendengar keterangan Soekarno, akhirnya H. Sanusi dan Inggit bercerai dengan
terhormat dan secara baik-baik. Dan tidak keberatan apabila mantan istrinya itu
menikah dengan Soekarno. Tidak lupa juga H. Sanusi meberikan pesan pada
Soekarno agar menjaga Inggit dengan baik. Dan kepada mantan istrinya, H. Sanusi
berharap agar Inggit dapat membimbing Soekarno supaya menjadi orang penting
karena Soekarno saat itu sedang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Pada tahun 1923 akhirnya Soekarno resmi mempersunting
Inggit. Pada saat itu Soekarno berusia dua puluh dua tahun dan Inggit menginjak
usia tiga puluh tiga tahun. Menurut keterangan Jajang, juru pelihara rumah
Inggit Garnasih, H. Sanusi turut serta sebagai saksi pernikahan itu. Ada yang
unik dari pernikahan Soekarno-Inggit. Karena dalam surat nikah Soekarno dan
Inggit, usia Soekarno ditulis dua puluh empat tahun sementara usia Inggit
ditulis dua puluh tiga tahun.
Selama hampir dua puluh tahun Inggit mendampingi Soekarno
menjalani masa-masa suka dan duka. Karena tidak dikaruniai anak, akhirnya
mereka mengangkat anak dari kakak Inggit dan mereka memberi nama Ratna Djuami
atau sering dipanggil Omi. Apalagi sebagai seorang yang ikut serta dalam
pergerakan nasional, Soekarno kerap kali menjadi buronan pemerintah
Hindia-Belanda. Soekarno sempat dijebloskan dalam penjara Banceuy, Bandung,
karena keberaniannya mengkritik pemerinta Hindia-belanda. Dari dalam penjara
Banceuy inilah, Soekarno mebuat pledoi yang terkenal dengan judul “Indonesia
Menggugat” yang membuat pemerintah Hindia-Belanda semakin murka. Kemudian ia dipindahkan
ke penjara Sukamiskin yang letaknya kurang lebih 10 km di luar kota Bandung.
Pada saat itu kesetiaan Inggit diuji. Setiap dua kali dalam seminggu Inggit
menjenguk suaminya itu di penjara Sukamiskin yang menempuh jarak kurang lebih
30 km dari Caiteu. Inggit menempuhnya dengan berjalan kaki dengan alasan
mengirit ongkos. Inggit menjadi informan bagi Soekarno atas apa yang terjadi di
luar penjara. Dengan menggunakan kode-kode yang diberikan Inggit, Soekarno
tetap tahu apa yang terjadi selama dirinya dalam penjara. Dalam keadaan seperti
itu, Inggit Garnasih adalah orang yang paling berjasa dalam memberikan semua
yang diperlukan Soekarno.
Saat Soekarno dipenjara, PNI dibubarkan oleh orang
anggotanya sendiri yaitu, Sartono. Kemudia mendirikan Partindo. Setelah keluar
dari penjara, Soekarno juga bergabung denga Partindo. Apa yang dilakukan
Soekarno tidak berubah hanya karena ia dipenjara. Sehingga pemerintah
Hindia-Belanda menjadi semakin marah dan menganggap Soekarno tidak mempan
apabila dipenjara namun masih di tanah Jawa. Akhirnya Soekarno “dibuang” ke
Ende, Flores. Demi kesetiaanya kepada sang suami, Inggit pun ikut serta dalam
pembuangan tersebut dan mebawa serta ibunya, Amsi dan anaknya, Omi. Karena
tidak tahu akan berapa lama selama pembuangan, akhirnya Inggit menjual rumahnya
yang di Bandung.
Pada Saat Di Ende
“Aku sudah tahu,
meskipun tidak dikatakan berapa lama kami harus hidup dalam pembuangan, aku
sudah harus siap. Untuk hidup di sana itu sampai ajal.”
(Inggit Garnasih, Kuantar Ke Gerbang – Ramadhan K.H)
Ende merupakan tempat yang sangat asing. Begitulah yang
dirasakan Inggit dan keluarganya. Tidak ada satu orang pun yang mengenal
Soekarno. Pada saat-saat seperti itu, Inggit memang berperan sebagai kawan,
partner diskusi yang intens serta sebagai seorang yang tidak kenal lelah
menyemangati Soekarno. Sangking ketatnya penjagaan terhadap Soekarno sehingga setiap
keluar rumah, Soekarno terus dijaga oleh polisi pemerintah Hindia-Belanda.
Soekarno tidak diperbolehkan orasi atau apapun yang berhubungan dengan
pergerakan karena pemerintah Hindia-Belanda khawatir pengaruhnya akan seperti
saat Soekarno berada di tanah Jawa. Soekarno pun akhirnya berpikir bagaimana
caranya agar ia bisa terus aktif dalam pergerakan. Akhirnya ia memilih cara
lain yaitu dengan membentuk sebuah grup sandiwara sejenis teater dan
menamakannya Tonil Kelimutu dan atas hubungannya yang baik dengan pastor yang
ditugaskan di Ende, akhirnya sandiwara itu dapat dipentaskan di gedung Maria
Immaculata.
Banyak peristiwa yang terjadi selama Soekarno dan Inggit di
Ende. Soekarno sempat terkena malaria dan Inggit harus menerima kenyataan bahwa
ibunya, Amsi meninggal dunia dan dimakamkan di sana. Soekarno dan Inggit juga
mengangkat anak dari keluarga Atmosudirjo, keluarga dari Jawa dan memberi nama
Kartika.
“Inggit merupakan
tiga bentuk dalam satu kepribadian. Yakni ibu, kawan dan kekasih yang selalu memberi
tanpa harus menerima.”
(Poeradisastra – The X Files of Bung Karno)
Setelah dari Ende, pada tahun 1938. pemerintah
Hindia-Belanda memutuskan untuk memindahkan Soekarno ke Bengkulu. Dengan tabah
dan sabar, Inggit tetap setia menemani Soekarno untuk pindah ke Bengkulu.
Pembuangan Soekarno ke Bengkulu dirasakan telah memutus hubungan peran
politiknya dengan Indonesia. Dan hampir saja orang tidak mengingat lagi ada
sosok bernama Soekarno. Di Bengkulu, Soekarno menjadi seorang guru di sekolah
Muhammadiyah dan berkenalan dengan Ketua Muhammadiyah Bengkulu, Hasan Din.
Karena melihat Soekarno sebagai guru dan dengan alasan agar melanjutkan
sekolahnya, Hasan Din menitipkan anaknya yaitu, Fatmah pada Soekarno agar
diasuh dan Soekarno mengganti namanya menjadi Fatmawati.
Seiring berjalannya waktu, Soekarno merasakan ada benih
cinta antara dirinya dan Fatmawati. Inggit pun merasakan demikian. Hingga
akhirnya Soekarno berterus terang tentang perasaannya itu pada Inggit dan
tentang keinginannya untuk mempunyai keturunan. Pada film “Soekarno” garapan
Hanung Bramantyo, kejadian itu digambarkan dengan marahnya Inggit pada Soekarno
dan dengan tegas menolak untuk dipoligami. Dengan berpikiran logis bahwa
Soekarno ingin mempunyai keturuan, akhirnya Inggit bersedia bila Soekarno ingin
menikah lagi dengan syarat bercerai. Tetapi Soekarno tidak tega apabila harus
menceraikan Inggit yang sudah begitu berjasa menemaninya selama hampir dua
puluh tahun.
Hal ini menjadi demikian larut sampai akhirnya Soekarno
dibebaskan dan kembali ke Jakarta. Pada saat itu kedudukan telah diambil alih
oleh Jepang. Di Jakarta Soekarno bertemu dengan tokoh-tokoh pergerakan lainnya
yang tergabung dalam 4 Serangkai yakni, Ia sendiri, Moh. Hatta, Ki Hajar
Dewantara, dan KH. Mas Mansyur. Dalam pergerakannya itu, keinginan Soekarno
untuk mempunyai anak tidak pernah surut.
Soekarno akhirnya memutuskan untuk menceraikan Inggit pada
tahun 1943. Atas pendapat teman-temannya yang tergabung dalam 4 Serangkai,
Soekarno menceraikan Inggit dengan syarat agar Soekarno membelikan rumah untuk
Inggit menikmati hari tuanya di Bandung. Soekarno pun menyanggupi syarat itu.
Dalam masa tuanya Inggit tidak pernah menikah lagi dan menghabiskan masa tuanya
di Bandung dengan kedua anak angkatnya Ratna Djuami dan Kartika. Ia bekerja
sebagai pembuat jamu dan bedak kemudian dijualnya untuk menyambung hidup.
“Mencintai adalah
menerima rasa sakit itu.”
(Inggit Garnasih, Kuantar Ke Gerbang – Ramadhan K.H)
Akhirnya sampailah pada akhir dari tugas seorang Inggit
Garnasih sebagai sosok yang menemani dan mengantar Engkusnya (panggilan Inggti
pada Soekarno) sampai ke gerbang kemerdekaan. Selesai sudah tugas Inggit
sebagai Ibu, kawan dan kekasih yang setia bagi Bung Karno. Atau mungkin juga
sebagai guru, sebagai teman seperjuangan dan pahlawan bagi Bung Karno.
Pada tahun 1960, Inggit sakit dan Bung Karno menjenguknya.
Bung Karno mengakui bahwa Inggit lah tulang punggung dan tangan kanannya selama
mereka berkeluarga dan dalam masa-masa sulit memperjuangkan kemerdekaan
Indonesia. Hingga usia tuanya Inggit tetap bekerja dan meneruskan hidupnya di
Bandung.
Pada tahun 1984, Inggit meninggal dunia empat belas tahun
setelah kepergia Soekarno. Tepatnya pada tanggal 13 April 1984. Memang, nama
ibu Inggit tidak sepopuler dibandingkan nama-nama yang saya sebutkan di atas.
Tetapi peran Inggit Garnasih sangat berpengaruh pada pembentukan karakter
Soekarno yang dikemudian hari menjadi Presiden Indonesia yang Pertama dan
Sebagai Proklamator kemerdekaan Indonesia bersama Moh. Hatta.
“Aku telah
mengantarkan seseorang sampai di gerbang yang amat berharga.”
(Inggit Garnasih, Kuantar Ke Gerbang – Ramadhan K.H)
Menurut kawan-kawan, pantaskah ibu Inggit mendapat gelar
pahlawan?
Sumber:
Metro TV. Melawan Lupa
Kuantar Ke Gerbang, Ramadhan K.H
Gambar : Google

Jelas sangat pantas
ReplyDeletesetuju up!!
ReplyDelete