JUDUL
KRIIIIING. . . .KRIIIING. . . .
suara dan getar handphone memecah hening senin pagi. cahaya matahari tertahan dibalik gorden biru jendela kamar Dena, sebagian masuk melalui celah fentilasi udara diatas jendela. Praktis gelap masih membungkus kamar Dena. Dingin masih menyelimuti daun-daun yang membentuk tetesan embun. Suara bising knalpot kendaraan memberi pertanda kesibukan kota dimulai. Kalau di desa, mungkin kokok ayam beriringan dengan bunyi gesekan sapulidi yang beradu dengan tanah kering yang bertaburan daun-daun, sampah plastik, ranting-ranting kecil yang harus siap berakhir di tempat pembakaran sampah yang memulai pagi.
Dena masih memeluk bantal guling berbungkus sarung bantal berwarna pink kesayangannya. Warna yang semakin pudar tak membuatnya ragu ataupun enggan untuk memeluk bantal itu. Sprei yang rapi sebelum badannya meniduri kasur, menjadi berantakan dan menggulung menutupi badannya sebagai pengganti selimut. Tiga kali nada dering handphonenya berbunyi, namun Dena masih belum juga membuka matanya.
Bunyi gemercik minyak goreng panas bersumber dari dapur menebarkan semerbak harum yang merangsang bunyi perut. Dapat dipastikan, bumbu nasi goreng sudah siap memberi rasa pada nasi putih. Pukul 05.30, Bu Suci sudah sibuk di ruang kerjanya: Dapur. Tak lupa, tiga buah telor ceplok sudah tersaji di meja makan.
Dering nada handphone kali ketiga berbunyi. Semakin memecahkan telinga. Bukan karena nada dering itu Dena terjaga, melainkan karena semerbak harum bumbu nasi goreng yang menusuk lubang hidungnya, diiringi bunyi perut pada detik berikutnya. Tangan Dena mulai meraba sekeliling kasur, belum juga ia mendapati handphonenya yang berbunyi. Pandangan matanya yang masih samar-samar, ia lempar kearah jam dinding. Seketika ia terbelalak kaget dan bangkit dari posisi tidurnya setelah mendapati jam menunjukan pukul 10.15.
"Astaghfirullah, jam 10?" Dena kaget dan mulai mengutuki dirinya sendiri.
"Perasaan masih gelap deh, masa iya udah jam 10 aja".
setelah meraih handphonenya, Dena melihat layar, terpampang satu nama disana, Riri, teman sebangkunya menelpon.
"Ya Ri?", dengan nada malas, Dena mengangkat telpon.
"Ya ampuuuuun Deeeeeeen, lama banget si angkat telpon doang", suara melengking Riri seperti nyanyian fals pengamen yang sering lewat depan rumah Dena.
"Sori Ri, baru melek, nggak berangkat sekolah kayaknya nih, udah jam 10".
"Jam 10? kacamata di pake makanya, baru jam enam kurang 10 menit Denaaaa".
"Masa?". Sekali lagi Dena mengarahkan pandangannya ke jam dinding, dan 30 puluh detik kemudian, ia baru sadar bahwa jam dinding kamarnya sudah tidak berfungsi sejak 2 minggu lalu. segera Dena melirik jam di hpnya yang masih menunjukkan pukul 06.12.
"hehehe iya Ri, tadi aku lihat jam dinding dikamarku, eh ternyata jamnya mati".
"Kaaaan, kebiasaan deh, lupa kok masih aja dipelihara". Riri tak henti-hentinya menyalahkan Dena.
"Ngapain jam segini nelpon?. Tanya Dena.
"Kamu cepetan mandi ganti baju, anterin aku. Nggak mau tahu, 10 menit lagi aku kerumahmu, semuanya harus udah beres, kamu rapi, wangi, udah siap aja pokoknya". Suara Riri tidak dapat dibendung, dan tidak memberi kesempatan bagi Dena untuk menjawab, iya atau tidak.
"Yaelaaaah Ri masih pag. . . ".
"Tut. tut, tut".
Belum selesai Dena merampungkan kata-katanya, dari sebererang telepon, Riri sudah memutus panggilan.
"Dasar cewek gila, belum juga aku ngomong, udah dimatiin". Dena menggerutu habis-habisan.
Riri adalah teman sebangku Dena dikelas 11 IPA 3. Semula, pertemanan mereka hanya sebatas teman sapa. Dena yang dulu dikelas 10.7, hanya mengenal teman-teman yang kelasnya berdekatan. yaitu kelas 10.8 dan 10.9. Riri yang dulu kelas 10.5, jarang terlihat. Hanya kalau Dena sedang jajan di koperasi siswa, yang sering mereka sebut kopsis, Dena selalu dan hampir tiap hari melihat Riri sedang asik mengobrol dengan teman-temannya dan mba Sari, penjaga kopsis. Kadang Dena mendengar, sahut-sahut lirih obrolan Riri yang sedang membicarakan apalagi kalau bukan soal
cowok. Mbak Sari memang orang yang enak di ajak ngobrol, walaupun usianya jauh lebih tua dari usia anak-anak SMA, tapi mbak Sari tahu betul apa-apa yang menjadi bahan pembicaraan mereka. Mungkin karena mbak Sari sendiri adalah alumni SMA itu, atau mungkin juga karena mbak Sari belum menikah.
Keakraban Dena dan Riri bermula dari kenaikan kelas yang secara kebetulan menempatkan mereka dikelas yang sama. Riri yang cerewet, menjadikan ia lebih cepat akrab dibanding semua teman yang ada dikelas itu. Baru beberapa hari duduk dikelas 11, Riri sudah hampir mengenal siapa saja penghuni kelas 11 ipa 3. Berbeda dengan Riri, Dena yang sibuk sebagai pengurus OSIS lebih jarang masuk kelas karena berbagai macam kegiatan yang harus ia jalani. Terlebih 2 minggu kemarin. Praktis waktu Dena tersita untuk mengurus semua kegiatan masa orientasi siswa baru. Dimana Dena menjadi salah satu pembina kelas.
***
Suara motor matic terdengar perlahan dan berhenti tepat di depan gerbang rumah Dena. Setelah suara motor berhenti berbunyi, si pengendara lalu masuk tanpa mengetok gerbang. Pintu gerbang yang tidak terkunci, memudahkan si tamu masuk dan terus melangkah sampai dimulut pintu.
lanjutannya ditunggu!!! nggak sabar gua kang. tanggung!
ReplyDelete