Penulis : Seno Gumira Ajidarma
Desain Sampul : Suprianto
Penyelia Naskah : Mirna Yulistianti
Setter : Nur Wulan Dari
Cetakan Pertama Cover Baru : Februari 2016
Cetakan Kedua : Mei 2016
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
GM 615202014
ISBN 978-602-03-1903-2
Teks di Atas Judul-judul : Eddy Suhardy
"Cinta itu abstrak, pikirnya selalu, sepasang kekasih tidak usah selalu bertemu, selalu berciuman, dan selalu bergumul untuk mempersatukan diri mereka. Cinta membuat sepasang kekasih saling memikirkan dan saling merindukan, menciptakan getaran cinta yang merayapi partikel udara, meluncur dan melaju ke tujuan yang sama dalam denyutan semesta," (Hal. 103)
"Hujan itu mengikuti mobilnya sepanjang jalan, sepanjang jalan yang dilaluinya menjadi basah karena hujan, dan hanya jalan yang dilaluinya saja menjadi basah dan sejuk sebentar karena hujan yang turun ke bumi mengikuti dia atas nama cinta." (Hal. 103)
Sepotong senja untuk pacarku adalah sebuah komposisi dengan 16 variasi dalam tiga bagian. Diawali dengan Trilogi Alina yang berisi, 1. Sepotong Senja untuk Pacarku, 2. Jawaban Alina, 3. Tukang Pos dalam Amplop. Peselancar Agung, 1. Jezebel, Ikan Paus Merah; Kunang-Kunang Mandarin; Rumah Panggung di Tepi Pantai; Peselancar Agung; Hujan, Senja, dan Cinta; Senja Hitam Putih; Mercusuar; Anak-Anak Senja; Senja yang Terakhir; serta Atas Nama Senja yang berisi, Senja di Pulau Tanpa Nama; Perahu Nelayan Melintas Cakrawala; dan Senja di Kaca Spion.
Hampir semua cerita menyajikan senja yang begitu lengkap. Pada cerita pertama yaitu, Sepotong Senja untuk Pacarku, bercerita tentang seorang laki-laki yang mengirimkan surat untuk pacarnya. Bukan sembarang surat, namun ia mengirim serta senja yang ia curi. Senja yang begitu indah itu dengan berani ia curi lalu ia simpan dalam kantongnya. Keadaan menjadi kacau dengan hilangnya senja karena telah dicuri oleh laki-laki itu. Karena tidak ada lagi tempat yang indah. Tempat yang paling cantik untuk berfoto, dan tempat yang paling nyaman untuk menikmati matahari tenggelam di balik cakrawala. Drama kejar-kejaran antara polisi dan si pencuri senja pun terjadi.
Lantas apakah si pencuri senja itu tertangkap? Sementara polisi telah mengerahkan helikopter untuk mencari si pencuri itu. Mungkin akan lebih baik apabila pada suatu senja, dengan ditemani secangkir teh atau kopi hangat, anda membaca buku ini dan menikmati setiap keindahan senja yang digambarkan dengan begitu indah.
Dan yang menarik adalah, pada lembar terakhir ada seorang pembaca yang mengirim e-mail pada penulis tentang ucapan terimakasih karena dari buku ini, si pembaca dapat menikmati senja yang begitu indah. Itu karena dari kecil si pembaca tidak dapat melihat senja. Mengapa demikian? Silakan tebak, duga atau apapun. Bagaimana seseorang tidak bisa menikmati senja sementara senja adalah suatu anugerah alam yang bisa dilihat, dinikmati tanpa kita harus membayar?

0 comments:
Post a Comment