Monday, 2 November 2015

LUNA ( Dia Tersenyum )

Dia Tersenyum
Oleh : Yanuar Firdaus


     Belum ada satu menit ia berlalu. Payung berwarna kuning itu berjalan menjauh. Dan tubuhnya mengecil. Perlahan hilang dibalik arsiran deras hujan. Ia meninggalkan jaket bergambar kucing kesayangannya yang ia selimutkan di tubuhku. Bau khas tubuhnya tertera di jaket itu ketika kubenamkan kepalaku untuk mencari kehangatan lebih. Hujan semakin menderas dan ketakutanku mendadak hadir mengingat wajahnya yang sayu dan pucat itu. Tetapi tak sekalipun ia melepas senyumnya saat pertemuan setengah jam tadi.
     Aku semakin sibuk mencari kehangatan. Godaan tempat tidurku yang semakin merayu menyuruh untuk masuk rumah, kutepis. Si pemilik rumah mungkin sedang tidur. Aku tahu karena ia tak menemui temannya yang menyelimutiku dengan jaket bergambar kucing tadi. Aku masih ingin memandanginya meskipun tinggal payungnya yang masih terlihat. Tubuhnya semakin jauh menghilang dari pandanganku. Tertutup jalan yang menurun. Andai saja Tuhan bisa mendengar doa dari makhluk sepertiku, aku ingin meminta satu saja. Hilangkan pucat dari wajahnya. Dan selamatkan ia sampai rumah. Aku salah. Ternyata aku meminta banyak. Bukan hanya satu.
     Hujan selalu menawarkan ruang untuk berdiam berlama-lama. Tapi diamku kali ini terasa mengganjal. Aku memikirkannya. Wanita yang menyelimutiku dengan jaket bergambar kucing ini. Ya. Dia wanita yang selalu membawa setengah hatiku kemanapun. Ini yang aku rasakan. Aku tak sekalipun peduli kalau ia tak merasa seperti yang aku rasakan. Sungguh.
    Aku masih ingat saat pertama kali aku bertemu dengannya di taman tempat biasa aku menyendiri dan kemudian ia mengajakku kerumahnya. Sore. Ketika itu, tubuhku basah dan lusuh. Aku sempat menolaknya, namun, ia tetap memaksa dengan rayuan lembut. Kupandangi wajahnya. Tak ada kata lain selain aku harus mengatakan bahwa ia begitu cantik. Memang begitu. Bahwa ketika sering kudengar cantik adalah Bidadari, tapi aku ingin menyebutnya Dewi. Sungguh. Aku tak peduli.
     “Ada yang salah dengan penampilanku?” ia bertanya lirih. “oh mungkin kau hanya kaget melihat tingkahku. Aku sangat senang bertemu denganmu,” jelasnya. “Oh iya namaku Luna. Maaf aku baru pulang kerja. Agak capek si, tapi ketemu kamu, jadi seger lagi. Hihi.” Imbuhnya.
     Sentuhannya begitu lembut. Aku tak merasa berlebihan bila harus jujur berkata bahwa tidak ada manusia lain yang memiliki kelembutan sikap seperti yang ia miliki. Tidak ada. Aku bukannya menyanjung. Aku hanya menjelaskan bahwa itu adalah benar. Aku harus mengutuki diriku sendiri karena mulutku terkunci. Kalaupun tidak, aku takkan sanggup mengeluarkan sepatah kata pun. Sial. Bias matanya telah menghentikan gerakku. Diam adalah sikapku waktu itu untuk membalas kelembutannya.
     Aku takut memberikan kesan kesombongan padanya karena diamku. Aku takut membuat ia membatin, “Sial. Kenapa aku harus bertemu dengan makhluk seangkuh ini?”. Aku takut. Untung dugaanku hanya sebatas dugaan tak mendasar. Senyumnya membuatku yakin bahwa ia tak peduli dengan sikap diamku waktu itu.
     Sepanjang perjalanan menuju rumahnya, aku tak berani berjalan disampingnya. Aku terus membuntuti. Sesekali ia berhenti, menoleh ke arahku dan melempar senyum. Ia terlihat begitu ceria. Tas kerja yang menggantung di tangan kirinya, sesekali ia lempar ke atas. Sepanjang jalan itu serasa hanya milik kami berdua. Mobil yang berseliweran seakan menjadi pengiring. Cahaya lampu jalan mulai tampak menguning. Aku terus berjalan membututinnya.
     Di depan gerbang rumah sederhana dengan taman yang luas, ia berhenti. Ia membuka tas kerjanya dan sibuk mencari sesuatu. Perlahan aku mendekat untuk mencari tahu apa yang ia cari.
     “Sebentar. Kamu ingin membantuku mencari kunci gerbang? Jangan. Tunggu sebentar ya.” Jelasnya.
     Kembali ia mencari sesuatu itu. Kunci gerbang. Ternyata rumah sederhana yang berhalaman luas ini adalah rumahnya. Pohon dan bunga hias menutupi teras rumahnya. Oh, betapa asri rumah ini. Ya. Seperti wajahnya, asri. Namun gelap memenuhi hampir penjuru rumah. Hanya hiasan tiga bambu calung kecil yang menggantung di teras rumahnya yang berbunyi ketika angin menerpa.
     Aku tak merasa asing dengan rumah ini. Oh ya. Di rumah ini aku pernah melihat dua manusia beradu mulut. Di akhiri dengan si lelaki pergi menggunakan sebuah mobil hitam meninggalkan seorang wanita sendirian. Aku tak begitu memperhatikan wajah si wanita itu. Karena sebagian wajahnya ia tutupi dengan tangannya. Seperti menangis. Apakah mungkin wanita itu adalah Luna? Mendadak kebencianku muncul. Bukan hanya kebencian. Namun dendam rupanya telah menguasaiku juga. Kebencian dan dendamku seketika muncul pada laki-laki yang telah meninggalkan wanita itu. Kalau saja benar wanita itu adalah Luna, aku tak bisa memaafkan diriku sendiri karena tak bisa berbuat apa-apa ketika ia sedang beradu mulut dengan lelaki brengsek itu.
     Lamunanku buyar sesaat setelah Luna membentur-benturkan gembok ke gerbang. Itu tanda yang berarti ia berhasil menemukan kunci gerbang dan berhasil pula membukanya.
     “Hey! Ayok kita masuk,” perintahnya. “kita nyalakan gua itu. Ayok.”
     Aku telah berjanji untuk selalu memenuhi apa yang ia mau. Bukan berarti aku mengikrarkan diri sebagai budak. Bukan. Aku hanya ingin selalu melihat senyumnya. Dan, mungkin dengan memenuhi semua kemauannya, aku berharap senyum itu selalu menghiasi wajahnya. Aku tak memiliki alasan untuk itu. Sama seperti ketika matahari memancarkan sinarnya ke sebagian bumi. Maka siang lah. Apakah ada yang bisa menjelaskan mengapa siang menjadi label ketika sinar matahari menerpa bagian bumi?. Mungkin saja ada. Tapi sekali pun ada yang menjelaskan, aku tidak akan mendengarkannya. Aku hanya ingin mendengar tawanya, ceritanya, dan nyanyiannya walau terdengar sumbang. Aku hanya ingin mendengar itu. Mendengar apa yang keluar dari mulut wanita itu. Luna.
     Cahaya lampu telah menggantikan terangnya matahari waktu itu. Aku berada di ruang tamu rumahnya. Sederhana. Luna tanpa pamit langsung menuju kamarnya. Nampak banyak benda-benda antik. Tapi ada satu yang menarik perhatian netraku. Lukisan bayi manusia. Ya. Banyak lukisan bayi menggantung di dinding rumahnya. Bayi-bayi dalam pose tersenyum. Oh aku sadar, mungkin Luna sudah mempunyai bayi. Memang untuk wanita seusianya, sangat pantas apabila ia sudah memiliki bayi barang umur tiga atau empat tahun. Tapi dimana bayinya? Sementara sedari tadi aku tak melihat manusia lain kecuali dirinya. Dan suaminya? Mungkin sedang pergi.
     Luna kembali dengan penampilan berbeda. Ia mengenakan baju santai. Terkesan sederhana, tapi paras ayunya tak lenyap sama sekali. Walaupun wajah lesu masih tampak jelas terlihat. Ia baru pulang kerja. Ia lelah. Ada rasa inginku menyuruhnya untuk istirahat. Tapi perlahan Luna menghampiriku dan duduk persis di sampingku.
     “Sebenarnya aku sangat lelah. Tapi ini bukan waktu untuk tidur. Pamali kata orang.” Lekuk bibirnya sangat manis ketika bicara.
     Ada rasa canggung dan kikuk ketika aku ingin mentap wajahnya. Aku harap ia bisa mengerti bahwa aku tak bisa menatap wajahnya walaupun aku tahu, ia merasa lain ketika aku terus memandangi lukisan bayi yang mengantung di dekat pintu kamarnya untuk menyembunyikan rasa canggungku. Ia terdiam. Sekitar sepuluh menit sebelum akhirnya membuka suara kembali.
     “Lucu ya?” jelasnya sambil mengarahkan pandangannya ke lukisan itu.
     “Adalah surga bila bisa melihat senyum bayi mungil di rumah ini. Polos, suci, ikhlas tidak ada setitik pun dosa dalam dirinya. Aku sangat merindukan sosoknya dirumah ini.” Tambahnya.
     Nampak ada butir air mata menetes keluar dari sudut matanya. Jujur, aku sangat bingung. Ketidakpahaman telah menjebakku. Aku tak tahu harus berbuat apa. Ketika janji akan selalu membuat ia tersenyum yang kutanam dalam hatiku telah kuikrarkan, aku harus menyaksikan air mata keluar tanpa bisa kuhentikan.
     “Kau harus tahu betapa teririsnya hati seorang perempuan ketika ia tahu bahwa rahimnya takkan pernah bisa tertanam benih janin seorang manusia. Ini bukan maya. Ini nyata menimpaku. Ketika suamiku tahu bahwa ada penyakit yang bersembunyi di rahimku, dan aku tak bisa memberikannya keturunan,” ia menarik nafas panjang. “Ditambah lagi ia meninggalkanku sendiri dalam keadaan seperti ini. Aku bukannya menyalahkan suamiku. Bukan. Aku yang salah. Aku juga tak bisa menyalahkan Tuhan karena aku tak bisa mengandung. Aku malah berterimakasih pada Tuhan karena tidak menitipkan janin di rahimku ini. Rahimku bukan surga untuk para bayi. Tapi tak bisa kupungkiri aku sangat merindukannya.” Tangisnya semakin dalam.
     Andai saja aku bisa menyeka air matanya yang menyeruah, andai saja aku bisa menawarkan pundakku untuknya bersandar, andai saja aku tahu dimana suaminya yang tega meninggalkannya, andai saja, andai saja, andai saja. Aku hanya bisa berandai-andai. Aku ingin mengutuki diriku sendiri karena hanya bisa berandai-andai. Aku bisa terima bila seandainya Luna berkata bahwa aku hanya makhluk yang tidak berguna. Aku bisa terima.
     “Mungkin usiaku tak selama usiamu,” ia berkata sambil mengusap punggungku. “Dokter telah menyarankan sebaiknya cepat dilakukan operasi pengangkatan rahim. Aku menolaknya. Aku tak mau berpulang dalam keadaan tak mempunyai rahim. Aku tak mau. Mungkin aku terlalu jahat apabila aku meminta pada Tuhan untuk menyembuhkan penyakitku ini.”
     Aku sangat berterimakasih pada langit ketika itu karena kulihat tak ada lagi air mata yang menetes di pipinya. Dan untuk kesekian kalinya aku berjanji akan selalu menemaninya. Aku tak mengerti mengapa setiap kali, ia harus memengangi perutnya. Tak lama, ia berlari menuju kotak bergambar tanda ‘plus’ merah. Tiga pil langsung ia teguk. Apa mungkin sakit di perutnya sudah tak tertahan lagi? Aku tak tahu. Kemudian ia berjalan mendekat dengan masih memegangi perutnya.
     “Aku ingin istirahat. Kalo kamu mau tidur, kamu bisa tidur di sofa ini. Selamat malam”. Ia berjalan gontai menuju kamarnya. Pucat. Tak ada suara lagi setelah ia menutup pintu kamarnya.
***
       Hujan perlahan mereda. Lama kutungu. Sebelum pergi, Luna berpesan agar aku di rumah saja menemani si pemilik rumah. Luna tak mau aku basah dan sakit. Tapi aku harus memastikan bahwa ia selamat sampai rumah walau hujan belum sepenuhnya reda. Maafkan aku Luna, aku tak mengindahkan pesanmu.
     Kususuri jalan dengan sedikit berlari. Aku harap Luna belum sampai dirumahnya. Sehingga, aku bisa mengantarnya dan memastikan ia sampai dengan selamat. Sepanjang jalan tak kudapati Luna. Kupercepat langkah kakiku. Luna, semoga tak ada suatu apa menimpamu.
     Aku langsung menerobos pintu gerbang rumah Luna dengan keadaan masih tertutup. Aku tak sabar ingin melihatnya. Nampak pintu rumahnya terbuka. Sangat jarang Luna lupa menutup pintu. Perasaanku semakin tak jelas. Di dalam rumah, tak juga kudapati Luna. Dimana dia. Aku bingung. Teramat bingung. Panik merajai tubuhku sepenuhnya.
     Untuk beberapa saat aku berpikir untuk memasuki kamar Luna. Aku sangat ragu. Pasalnya, aku tak pernah sekali pun lancang memasuki ruangan pribadinya. Aku melihat ke luar rumah. Memastikan tak ada orang yang sedang mengamati gerakku. Aku harus melakukan ini. Segera. Kudorong pintu kamar Luna. Dan apa yang kudapati? Ya Tuhan. Luna tergeletak di lantai. Wajahnya pucat. Tubuhnya basah sebagian. Apa yang harus kulakukan. Aku panik. Aku terus mengeong. Terus mengeong. Aku berlari ke luar rumah berharap ada orang yang mendengar teriakku. Aku terus mengeong. Tuhan selamatkan dia, selamatkan wanita pujaanku, selamatkan Luna, Tuhan!

4 comments: