Apa
itu “mahasiswa”?, siapakah yang disebut dengan “mahasiswa”? dan apa peran
“mahasiswa”? Mahasiswa diartikan sebagai orang yang belajar di perguruan
tinggi, baik di universitas, institusi, ataupun akademi. Mereka yang terdaftar
sebagai murid di perguruan tinggi dapat disebut sebagai mahasiswa. Namun pada
praktiknya, makna mahasiswa tidaklah sesempit itu.
Menjadi
mahasiswa adalah bagian dari suatu proses untuk mematangkan pola pikir, mental
dan keterlibatan dalam setiap aspek kehidupan bermasyarakat baik di kampus,
lingkungan, atau pun tempat dimana mahasiswa akan menjalani kehidupannya nanti
untuk memperjuangkan apa yang sudah dicita-citakannya. Namun, apakah semua itu
sudah didapatkan setiap mahasiswa sekarang ini? Rasanya pertanyaan tersebut
perlu dikaji kembali mengingat kehidupan mahasiswa di era sekarang sudah sangat
jauh berbeda dan cenderung menyimpang. Melihat apa yang terjadi dalam pola
kehidupan mahasiswa yang pada akhirnya memunculkan istilah mahasiswa kupu-kupu
(Kuliah-pulang, kuliah-pulang) atau bahkan lebih ironis seperti, mahasiswa
kupu-kupu mati (Kuliah-pulang, kuliah-pulang, makan-tidur).
Di
sini kita ambil satu benang merah dalam bentuk pertanyaan, Kemana Gerakan
Mahasiswa Sekarang? Di
zaman pasca reformasi ini kebebasan bersuara sudah dibuka selebar-lebarnya yang
sebelumnya menjadi hal yang tabu bahkan cenderung “haram”. Mereka yang ingin
sekali bersuara akan dihadapkan dengan kekhawatiran akan ditangkap aparat,
hanya tersisa nama, dan hilang entah kemana. Maka dari itu, bungkam dan diam
melihat segala ketidakadilan, penindasan dan kesewenang-wenangan adalah pilihan
terbaik. Tapi apa yang menjadi pertanyaan sekarang, pergerakan mahasiswa, apa
kabar? Begitu banyak acara-acara yang bertemakan “nasional” yang sering
diadakan mahasiswa, entah itu seminar, pertemuan-pertemuan dengan para
tokoh-tokoh dari berbagai bidang, lomba-lomba yang diikuti sebagai perwakilan
kampus, namun apakah itu semua berdampak bagi pergerakan mahasiswa? Apakah itu
semua membawa keuntungan bagi arah gerak mahasiswa? Seringkali acara-acara
seperti itu hanya sebagai ajang untuk eksistensi diri, kongkow-kongkow
nasional, tanpa ada follow-up dan feed back yang jelas bagi kampus yang
diwakilinya, ketika pulang ke kampus masing-masing.
Banyak
sekali kita menemukan mahasiswa yang beranggapan bahwa dengan terlibat dalam
sebuah organisasi hanya akan mempersulit kuliah, menghancurkan nilai akademik,
dan hanya akan menambah beban orang tua karena aktif dalam organisasi hanya
akan mengulur-ngulur waktu kuliah sehingga semakin banyak biaya yang terbuang
percuma. Mereka tidak menyadari bahwa organisasi adalah wadah yang sangat baik
untuk membentuk suatu karakter, melatih diri untuk tenang pada saat berbicara
di depan banyak orang dan menanamkan sesuatu atau pengetahuan-pengetahuan yang
bermanfaat di kemudian hari yang dimana kita akan memanennya dengan hasil yang
manis dan memuaskan. Survey juga telah menyatakan bahwa pembesar-pembesar
bangsa ini adalah mereka yang senang dan aktif dalam berorganisasi.
Sebenarnya,
tidak bisa juga menyalahkan atau bahkan menghakimi mahasiswa-mahasiswa yang
memilih untuk menjadi mahasiswa kupu-kupu tadi. Kita juga harus melihat kondisi
kampus saat ini yang seakan-akan atau memang mengarahkan mahasiswa agar tidak
berkencimpung, terlibat dan aktif dalam berorganisasi. Sistem dalam sebagian
besar perguruan tinggi memang dirasakan sangat menekan pergerakan mahasiswa.
Ambil contoh yang dirasakan oleh sebagian besar mahasiswa adalah biaya kuliah
yang semakin tidak terjangkau karena tiap tahun biaya kuliah semakin tinggi,
sehingga mau tidak mau mereka harus menenggelamkan diri pada akademik agar
nilai yang mereka dapatkan bagus sehingga lulus tepat waktu. Mahasiswa juga
dibebankan dengan SKS yang begitu padat ditambah tugas yang menggunung. Secara
otomatis tidak ada waktu luang lagi bagi mereka untuk berorganisai. Hal ini
menjadi semakin parah dengan dibatasinya masa studi mahasiswa maksimal tujuh
tahun, dan apabila melewati waktu yang sudah ditentukan maka mahasiswa tersebut
harus siap-siap menerima surat Drop Out. DAMN ONLY CRAP THIS IS SO SHIT AS
HELL!!!
Melihat
kondisi yang seperti ini, muncul pertanyaan, Akankah kebijakan NKK/BKK yang
dahulu dikeluarkan oleh rezim orde baru kembali terulang pada masa sekarang
ini? Kebijakan tersebut adalah kebijakan yang menempatkan pergerakan mahasiswa
berada dalam satu wadah yang dikenal dengan organisasi cipayung yang bertujuan
untuk menekan pergerakan mahasiswa agar tidak menyauarkan kritikan kepada
pemerintah. Jadi sama seperti halnya sekarang, apabila ada mahasiswa yang
berkecimpung atau aktif dalam suatu organisasi dan akan menjadi aktivis, maka
akan menyulitkan bagi para kaum birokrat dan para pemangku kepentingan yang
saat ini sedang berkuasa baik dalam tataran universitas maupun Negara. Dan
rasa-rasanya dikotomi tersebut masih terasa sampai sekarang.
Namun
apapun rintangan yang selalu menjadi penghambat geraknya seorang mahasiswa,
seharusnya bisa mereka hadapi. Namun yang terjadi sekarang, mahasiswa “kalah”
dengan kondisi yang ada dan cenderung menyerah. Bahkan waktu yang mereka miliki
diisi dengan hal-hal yang bersifat non-produktif. Mahasiswa sekarang memang
hanya dicekoki dengan kegiatan-kegiatan yang bersifat perayaan. Mengadakan
seminar-seminar dengan mendatangkan pembicara-pembicara yang entah mereka
dapatkan darimana dalam artian perlu dipertanyakan kapasitasnya. Dan apa yang
mereka hasilkan? Hanya berorientasi pada piagam atau sertifikat tanpa
mendapatkan pengetahuan yang jelas serta terbuai dengan harapan bahwa
sertifikat yang mereka dapatkan akan membantu mereka dalam mendapatkan sebuah
pekerjaan. Terlalu asyik dengan kegiatan-kegiatan layaknya Event Organizer. Mengadakan acara-acara ceremonial dengan
mengundang bintang tamu terkenal serta target pemasukan yang harus dicapai tanpa
tujuan yang jelas kemudian bubar. Arah gerak, peran mahasiswa, dan tridarma
perguruan tinggi akan hilang selamanya apabila budaya seperti itu terus
dilanjutkan. Kekecewaanlah yang tentunya dirasakan para Founding Father kita karena amanah yang mereka titipkan dan
wariskan pada kita selaku mahasiswa tidak dijaga dan diterapkan.
Maka
dari itu, marilah kita sebagai mahasiswa berpikir, menyadari, bangun dan
bangkit! Mahasiswa bukanlah anak SD yang masih perlu mendapat bimbingan, arahan
dan diperingatkan setiap hari. Mahasiswa bukanlah seorang yang apatis.
Mahasiswa harus peka terhadap segala masalah sosial yang ada. Mahasiswa
merupaka kaum middle, generasi
intelektual, agen perubahan, bukan generasi yang hanya berfoya-foya tanpa
peduli dengan persoalan sekitar. Teruskanlah perjuangan yang sudah dilakukan
oleh pendahulu-pendahulu kita yang dengan gagahnya menyuarakan kritikan, berani
aksi untuk menegakkan keadilan, berani bergerak walaupun dihantui berbagai
ancaman. Berani mengorbankan segalanya demi terwujudnya sebuah perubahan kearah
yang lebih baik. Mari sambut tongkat estafet yang sudah dimandatkan oleh para
pendahulu. Jangan hanya diam dan apatis, lakukanlah sesuatu untuk bangsa dan
Negara. Melawan bila kebijakan pemerintah dirasa menindas. Lawan segala bentuk
ketidakadilan. Kobarkan semangat perjuangan. Turut serta berorganisasi dengan
merangkul semua elemen masyarakat terkhusus mahasiswa agar terwujudnya tridarma
perguran tinggi yang sudah kita tanamkan dalam hati sanubari.
Yanuar
Firdaus, disadur dari Kompasiana.
Referensi, Kompasiana.com
0 comments:
Post a Comment