Wednesday, 14 December 2016

Pergerakan Mahasiswa, Apa Kabar?

Apa itu “mahasiswa”?, siapakah yang disebut dengan “mahasiswa”? dan apa peran “mahasiswa”? Mahasiswa diartikan sebagai orang yang belajar di perguruan tinggi, baik di universitas, institusi, ataupun akademi. Mereka yang terdaftar sebagai murid di perguruan tinggi dapat disebut sebagai mahasiswa. Namun pada praktiknya, makna mahasiswa tidaklah sesempit itu.

Menjadi mahasiswa adalah bagian dari suatu proses untuk mematangkan pola pikir, mental dan keterlibatan dalam setiap aspek kehidupan bermasyarakat baik di kampus, lingkungan, atau pun tempat dimana mahasiswa akan menjalani kehidupannya nanti untuk memperjuangkan apa yang sudah dicita-citakannya. Namun, apakah semua itu sudah didapatkan setiap mahasiswa sekarang ini? Rasanya pertanyaan tersebut perlu dikaji kembali mengingat kehidupan mahasiswa di era sekarang sudah sangat jauh berbeda dan cenderung menyimpang. Melihat apa yang terjadi dalam pola kehidupan mahasiswa yang pada akhirnya memunculkan istilah mahasiswa kupu-kupu (Kuliah-pulang, kuliah-pulang) atau bahkan lebih ironis seperti, mahasiswa kupu-kupu mati (Kuliah-pulang, kuliah-pulang, makan-tidur).

Di sini kita ambil satu benang merah dalam bentuk pertanyaan, Kemana Gerakan Mahasiswa Sekarang? Di zaman pasca reformasi ini kebebasan bersuara sudah dibuka selebar-lebarnya yang sebelumnya menjadi hal yang tabu bahkan cenderung “haram”. Mereka yang ingin sekali bersuara akan dihadapkan dengan kekhawatiran akan ditangkap aparat, hanya tersisa nama, dan hilang entah kemana. Maka dari itu, bungkam dan diam melihat segala ketidakadilan, penindasan dan kesewenang-wenangan adalah pilihan terbaik. Tapi apa yang menjadi pertanyaan sekarang, pergerakan mahasiswa, apa kabar? Begitu banyak acara-acara yang bertemakan “nasional” yang sering diadakan mahasiswa, entah itu seminar, pertemuan-pertemuan dengan para tokoh-tokoh dari berbagai bidang, lomba-lomba yang diikuti sebagai perwakilan kampus, namun apakah itu semua berdampak bagi pergerakan mahasiswa? Apakah itu semua membawa keuntungan bagi arah gerak mahasiswa? Seringkali acara-acara seperti itu hanya sebagai ajang untuk eksistensi diri, kongkow-kongkow nasional, tanpa ada follow-up dan feed back yang jelas bagi kampus yang diwakilinya, ketika pulang ke kampus masing-masing.

Banyak sekali kita menemukan mahasiswa yang beranggapan bahwa dengan terlibat dalam sebuah organisasi hanya akan mempersulit kuliah, menghancurkan nilai akademik, dan hanya akan menambah beban orang tua karena aktif dalam organisasi hanya akan mengulur-ngulur waktu kuliah sehingga semakin banyak biaya yang terbuang percuma. Mereka tidak menyadari bahwa organisasi adalah wadah yang sangat baik untuk membentuk suatu karakter, melatih diri untuk tenang pada saat berbicara di depan banyak orang dan menanamkan sesuatu atau pengetahuan-pengetahuan yang bermanfaat di kemudian hari yang dimana kita akan memanennya dengan hasil yang manis dan memuaskan. Survey juga telah menyatakan bahwa pembesar-pembesar bangsa ini adalah mereka yang senang dan aktif dalam berorganisasi.

Sebenarnya, tidak bisa juga menyalahkan atau bahkan menghakimi mahasiswa-mahasiswa yang memilih untuk menjadi mahasiswa kupu-kupu tadi. Kita juga harus melihat kondisi kampus saat ini yang seakan-akan atau memang mengarahkan mahasiswa agar tidak berkencimpung, terlibat dan aktif dalam berorganisasi. Sistem dalam sebagian besar perguruan tinggi memang dirasakan sangat menekan pergerakan mahasiswa. Ambil contoh yang dirasakan oleh sebagian besar mahasiswa adalah biaya kuliah yang semakin tidak terjangkau karena tiap tahun biaya kuliah semakin tinggi, sehingga mau tidak mau mereka harus menenggelamkan diri pada akademik agar nilai yang mereka dapatkan bagus sehingga lulus tepat waktu. Mahasiswa juga dibebankan dengan SKS yang begitu padat ditambah tugas yang menggunung. Secara otomatis tidak ada waktu luang lagi bagi mereka untuk berorganisai. Hal ini menjadi semakin parah dengan dibatasinya masa studi mahasiswa maksimal tujuh tahun, dan apabila melewati waktu yang sudah ditentukan maka mahasiswa tersebut harus siap-siap menerima surat Drop Out. DAMN ONLY CRAP THIS IS SO SHIT AS HELL!!!

Melihat kondisi yang seperti ini, muncul pertanyaan, Akankah kebijakan NKK/BKK yang dahulu dikeluarkan oleh rezim orde baru kembali terulang pada masa sekarang ini? Kebijakan tersebut adalah kebijakan yang menempatkan pergerakan mahasiswa berada dalam satu wadah yang dikenal dengan organisasi cipayung yang bertujuan untuk menekan pergerakan mahasiswa agar tidak menyauarkan kritikan kepada pemerintah. Jadi sama seperti halnya sekarang, apabila ada mahasiswa yang berkecimpung atau aktif dalam suatu organisasi dan akan menjadi aktivis, maka akan menyulitkan bagi para kaum birokrat dan para pemangku kepentingan yang saat ini sedang berkuasa baik dalam tataran universitas maupun Negara. Dan rasa-rasanya dikotomi tersebut masih terasa sampai sekarang.

Namun apapun rintangan yang selalu menjadi penghambat geraknya seorang mahasiswa, seharusnya bisa mereka hadapi. Namun yang terjadi sekarang, mahasiswa “kalah” dengan kondisi yang ada dan cenderung menyerah. Bahkan waktu yang mereka miliki diisi dengan hal-hal yang bersifat non-produktif. Mahasiswa sekarang memang hanya dicekoki dengan kegiatan-kegiatan yang bersifat perayaan. Mengadakan seminar-seminar dengan mendatangkan pembicara-pembicara yang entah mereka dapatkan darimana dalam artian perlu dipertanyakan kapasitasnya. Dan apa yang mereka hasilkan? Hanya berorientasi pada piagam atau sertifikat tanpa mendapatkan pengetahuan yang jelas serta terbuai dengan harapan bahwa sertifikat yang mereka dapatkan akan membantu mereka dalam mendapatkan sebuah pekerjaan. Terlalu asyik dengan kegiatan-kegiatan layaknya Event Organizer. Mengadakan acara-acara ceremonial dengan mengundang bintang tamu terkenal serta target pemasukan yang harus dicapai tanpa tujuan yang jelas kemudian bubar. Arah gerak, peran mahasiswa, dan tridarma perguruan tinggi akan hilang selamanya apabila budaya seperti itu terus dilanjutkan. Kekecewaanlah yang tentunya dirasakan para Founding Father kita karena amanah yang mereka titipkan dan wariskan pada kita selaku mahasiswa tidak dijaga dan diterapkan.

Maka dari itu, marilah kita sebagai mahasiswa berpikir, menyadari, bangun dan bangkit! Mahasiswa bukanlah anak SD yang masih perlu mendapat bimbingan, arahan dan diperingatkan setiap hari. Mahasiswa bukanlah seorang yang apatis. Mahasiswa harus peka terhadap segala masalah sosial yang ada. Mahasiswa merupaka kaum middle, generasi intelektual, agen perubahan, bukan generasi yang hanya berfoya-foya tanpa peduli dengan persoalan sekitar. Teruskanlah perjuangan yang sudah dilakukan oleh pendahulu-pendahulu kita yang dengan gagahnya menyuarakan kritikan, berani aksi untuk menegakkan keadilan, berani bergerak walaupun dihantui berbagai ancaman. Berani mengorbankan segalanya demi terwujudnya sebuah perubahan kearah yang lebih baik. Mari sambut tongkat estafet yang sudah dimandatkan oleh para pendahulu. Jangan hanya diam dan apatis, lakukanlah sesuatu untuk bangsa dan Negara. Melawan bila kebijakan pemerintah dirasa menindas. Lawan segala bentuk ketidakadilan. Kobarkan semangat perjuangan. Turut serta berorganisasi dengan merangkul semua elemen masyarakat terkhusus mahasiswa agar terwujudnya tridarma perguran tinggi yang sudah kita tanamkan dalam hati sanubari.

Yanuar Firdaus, disadur dari Kompasiana.
Referensi, Kompasiana.com