Monday, 19 September 2016

Senyum Karyamin



Penulis: Ahmad Tohari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Editor: Maman S. Mahayana
Kata Penutup: Sapardi Djoko Damono
Sampul: Eduard Iwan Mangopang
Cetakan ketujuh: Juli 2002
Cetakan kedelapan: September 2005
Cetakan kesembilan: Juli 2013
Cetakan kesepuluh: Maret 2015
Jumlah Halaman: 88 Halaman
ISBN: 978-979-22-9736-2



Hidup selalu menawarkan banyak kisah. Tidak ada yang bisa menerka, menerawang, ataupun mendiktenya. Tapi tugas manusia hanyalah bersyukur. Bersyukur atas apa yang mereka terima, hadapi apa yang telah menjadi jalannya dan berusaha menjadi manusia yang siap menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi nanti.

Dalam sistem hidup, pro-kontra, benar-salah, baik-buruk pasti ada.

Seperti Karyamin. Seorang kuli pengumpul batu yang berjuang menahan beban di pundak. Mengangkut batu dari sungai ke pangkalan yang letaknya di atas sungai. Dengan keadaan perutnya yang kosong, Karyamin harus tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Ini hanya salah satu dari banyaknya potret kehidupan masyarakat pedesaan yang menggantungkan hidupnya pada apa saja pekerjaan yang bisa dikerjakan. 

***


Buku ini  berisi 13 kisah yang hampir semua bercerita tentang masyarakat pedesaan. Kehidupan pedesaan yang bernuansa asri, flora-faunya yang kaya dan tatanan masyarakat yang menarik dan bisa kita petik sebagai kaca introspeksi diri. Adalah Senyum Karyamin kisah pertama sekaligus sebagai judul untuk buku kumpulan cerpen ini. 

Ketigabelas kisah tersebut adalah:

1. Senyum Karyamin; 2. Jasa-Jasa Buat Sanwirya; 3. Si Minem Beranak Bayi; 4. Surabanglus; 5. Tinggal Matanya Berkedip-kedip; 6. Ah, Jakarta; 7. Blokeng; 8. Syukuran Sutabawor; 9. Rumah Yang Terang; 10. Kenthus; 11. Orang-Orang Sebrang Kali; 12.Wangon Jatilawang; 13. Pengemis dan Shalawat Badar; 

Dari ketigabelas kisah ini Senyum Karyamin adalah kisah yang bagi saya sangat menyentuh. Kenapa? Karena dalam kisah ini diceritakan Karyamin si kuli pengumpul batu harus bekerja dengan kondisi perut yang kosong. Istri Karyamin tidak memasak untuk sarapan karena tidak punya uang. Dengan susah payah, keringat bercucuran dan kepala pusing, Karyamin berjuang memikul batu untuk bisa sampai ke pangkalan. Semua teman-teman sesama kuli pengumpul batu menertawainya saat Karyamin tergelincir dan jatuh. Kemudian ia berusaha bangkit dan melanjutkan pekerjaannya. Setelah itu ia memutuskan untuk pulang walau ia tidak tahu harus berbuat apa ketika tiba di rumah nanti. Karyamin kaget setengah mati ketika sampai di jalan depan rumahnya, ia melihat dua sepeda jengki terpakir di halaman rumahnya. Di bagian inilah sesungguhnya masalah yang menguras emosi muncul. Kira-kira apa masalah yang dihadapi Karyamin sesampai di rumah? Tentu, untuk bisa menjawab pertanyaan itu, silakan membaca dan nikmati setiap setting pedesaan yang digambarkan oleh Ahmad Tohari. 

Selain Senyum Karyamin, kisah-kisah yang lain juga tidak kalah hebatnya dalam hal membolak-balikan perasaan pembaca. Karena penulis benar-benar jenius dalam menggambarkan setiap masalah yang menurut saya memang masalah masyarakat pedesaan. Sungguh buku yang sangat saya rekomendasikan. 

***

Secara keseluruhan, kisah-kisah ini sangat mudah diterima dan dimengerti. Banyak pesan moral yang bisa dipetik. Bagi yang penasaran, langsung saja baca buku ini. he. . .he

"Ayahku memang tidak suka listrik. Beliau punya keyakinan hidup dengan listrik akan mengundang keborosan cahaya. Apabila cahaya dihabiskan semasa hidup maka ayahku amat khawatir tidak ada lagi cahaya bagi beliau di alam kubur." (Rumah yang Terang. Hal. 46)

0 comments:

Post a Comment