Thursday, 29 September 2016

Corat - Coret Di Toilet




Penulis: Eka Kurniawan
Desain Sampul: Eka Kurniawan
Setter Isi: Fitri Yuniar
Cetakan Pertama: April 2014
Cetakan Kedua (cover baru): April 2016
Cetakan Ketiga: Juni 2016
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
GM 616202030
ISBN: 978-602-03-2893-5


"Lebih baik kita perang karena alasan yang lebih logis, . . . "  (Hal. 3)

"Tuan Penyair, aku benci puisi-puisimu. Ia begitu menusuk dan melukai hatiku. Hentikanlah membacanya dan terutama menulisnya."  (Hal. 4)


Buku kumpulan cerpen ini berisi 12 cerita pendek yang berbeda latar. Beberapa cerita dalam buku ini sering dijumpai dalam kehidupan sehari. Sebagai seorang yang pernah mengenyam dunia perkuliahan, beberapa cerita dalam kumpulan cerita pendek ini sering saya jumpai dan alami. 

Dari keduabelas cerita ini memang yang paling membuat saya geleng-geleng kepala adalah cerita yang menjadi judul buku kumpulan cerita pendek ini. Corat-coret di toilet. Bercerita tentang sebuah toilet kampus yang baru dicat ulang dan memang masih berbau cat basah. Seperti toilet pada umumnya, beberapa orang masuk dengan maksud untuk membuang hajat, kencing dan kegiatan lain yang memerlukan toilet sebagai tempat yang nyaman. Selalu saja ada gairah ingin mencorat-coret sebuah tembok bersih. 

"Reformasi gagal total, Kawan! Mari tuntaskan revolusi demokratik!"
(Hal. 22)

"Jangan memprovokasi! Revolusi tak menyelesaikan masalah. Bangsa kita mencintai kedamaian. Mari melakukan perubahan secara bertahap."
(Hal.23)

Itulah beberapa coretan di dinding toilet sampai berbulan-bulan lamanya, dinding toilet menjadi penuh tulisan. Sampai pada tulisan seseorang mahasiswa yang kesal terhadap tulisan-tulisan yang membuat toilet menjadi kumuh. Karena kesal dan tidak tahu pada siapa harus melampiaskan kekesalannya, ia pun menulis,

"Kawan-kawan, tolong jangan corat-coret di dinding toilet. Jagalah kebersihan. Toilet bukan tempat menampung unek-unek. Salurkan saja aspirasi Anda ke bapak-bapak anggota dewan"
(Hal. 29)

"Aku tak percaya bapak-bapak anggota dewan, aku lebih percaya kepada dinding toilet."
(Hal. 29)

Tulisan itu ditanggapi oleh beberapa orang lainnya hingga kembali memenuhi dinding toilet. 

Keduabelas cerita pendek tersebut adalah:

1. Peter Pan; 2. Dongeng Sebelum Bercinta; 3. Corat-coret di Toilet; 4. Teman Kencan; 5. Rayuan Dusta Untuk Marietje; 6. Hikayat Si Orang Gila; 7. Si Cantik yang Tak Boleh Keluar Malam; 8. Siapa Kirim Aku Bunga?; 9. Tertangkapnya Si Bandit Kecil Pencuri Roti; 10. Kisah dari Seorang Kawan; 11. Dewi Amor; 12. Kandang Babi;

Cerita yang berkesan lainnya bagi saya adalah "Teman Kencan". Saya tidak akan membahas cerita tersebut. Karena setelah saya membaca cerita itu, pikiran saya langsung, yah susah dijelaskan. Untuk itu, bagi yang penasaran, silakan baca saja, he he. 

Untuk keseluruhan, buku ini sangat menghibur dan bagi saya sangat menambah pengetahuan tentang latar sejarah. 

Monday, 19 September 2016

Senyum Karyamin



Penulis: Ahmad Tohari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Editor: Maman S. Mahayana
Kata Penutup: Sapardi Djoko Damono
Sampul: Eduard Iwan Mangopang
Cetakan ketujuh: Juli 2002
Cetakan kedelapan: September 2005
Cetakan kesembilan: Juli 2013
Cetakan kesepuluh: Maret 2015
Jumlah Halaman: 88 Halaman
ISBN: 978-979-22-9736-2



Hidup selalu menawarkan banyak kisah. Tidak ada yang bisa menerka, menerawang, ataupun mendiktenya. Tapi tugas manusia hanyalah bersyukur. Bersyukur atas apa yang mereka terima, hadapi apa yang telah menjadi jalannya dan berusaha menjadi manusia yang siap menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi nanti.

Dalam sistem hidup, pro-kontra, benar-salah, baik-buruk pasti ada.

Seperti Karyamin. Seorang kuli pengumpul batu yang berjuang menahan beban di pundak. Mengangkut batu dari sungai ke pangkalan yang letaknya di atas sungai. Dengan keadaan perutnya yang kosong, Karyamin harus tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Ini hanya salah satu dari banyaknya potret kehidupan masyarakat pedesaan yang menggantungkan hidupnya pada apa saja pekerjaan yang bisa dikerjakan. 

***


Buku ini  berisi 13 kisah yang hampir semua bercerita tentang masyarakat pedesaan. Kehidupan pedesaan yang bernuansa asri, flora-faunya yang kaya dan tatanan masyarakat yang menarik dan bisa kita petik sebagai kaca introspeksi diri. Adalah Senyum Karyamin kisah pertama sekaligus sebagai judul untuk buku kumpulan cerpen ini. 

Ketigabelas kisah tersebut adalah:

1. Senyum Karyamin; 2. Jasa-Jasa Buat Sanwirya; 3. Si Minem Beranak Bayi; 4. Surabanglus; 5. Tinggal Matanya Berkedip-kedip; 6. Ah, Jakarta; 7. Blokeng; 8. Syukuran Sutabawor; 9. Rumah Yang Terang; 10. Kenthus; 11. Orang-Orang Sebrang Kali; 12.Wangon Jatilawang; 13. Pengemis dan Shalawat Badar; 

Dari ketigabelas kisah ini Senyum Karyamin adalah kisah yang bagi saya sangat menyentuh. Kenapa? Karena dalam kisah ini diceritakan Karyamin si kuli pengumpul batu harus bekerja dengan kondisi perut yang kosong. Istri Karyamin tidak memasak untuk sarapan karena tidak punya uang. Dengan susah payah, keringat bercucuran dan kepala pusing, Karyamin berjuang memikul batu untuk bisa sampai ke pangkalan. Semua teman-teman sesama kuli pengumpul batu menertawainya saat Karyamin tergelincir dan jatuh. Kemudian ia berusaha bangkit dan melanjutkan pekerjaannya. Setelah itu ia memutuskan untuk pulang walau ia tidak tahu harus berbuat apa ketika tiba di rumah nanti. Karyamin kaget setengah mati ketika sampai di jalan depan rumahnya, ia melihat dua sepeda jengki terpakir di halaman rumahnya. Di bagian inilah sesungguhnya masalah yang menguras emosi muncul. Kira-kira apa masalah yang dihadapi Karyamin sesampai di rumah? Tentu, untuk bisa menjawab pertanyaan itu, silakan membaca dan nikmati setiap setting pedesaan yang digambarkan oleh Ahmad Tohari. 

Selain Senyum Karyamin, kisah-kisah yang lain juga tidak kalah hebatnya dalam hal membolak-balikan perasaan pembaca. Karena penulis benar-benar jenius dalam menggambarkan setiap masalah yang menurut saya memang masalah masyarakat pedesaan. Sungguh buku yang sangat saya rekomendasikan. 

***

Secara keseluruhan, kisah-kisah ini sangat mudah diterima dan dimengerti. Banyak pesan moral yang bisa dipetik. Bagi yang penasaran, langsung saja baca buku ini. he. . .he

"Ayahku memang tidak suka listrik. Beliau punya keyakinan hidup dengan listrik akan mengundang keborosan cahaya. Apabila cahaya dihabiskan semasa hidup maka ayahku amat khawatir tidak ada lagi cahaya bagi beliau di alam kubur." (Rumah yang Terang. Hal. 46)

Thursday, 8 September 2016

Tentang Saya & Sebagainya

Assalamu'alaikum wr. wb.
Halo!!!. Selamat datang di profil saya dan sebagainya tentang saya.

Saya Yanuar Firdaus, pemilik sah blog ini tanpa akta notaris dan tanpa legalisir dari pihak berwenang. Saya anak kedua dari dua bersaudara yang lahir di Ambon dan besar di Jawa Tengah tepatnya di Banyumas. Saya anak kolong (istilah anak tentara jaman dulu), bapak saya tentara (waktu saya nulis ini dan beberapa tahun kemudian bapak saya pensiun) itu sebabnya mengapa saya bisa lahir di Ambon karena bapak pernah tugas di sana dan saya bangga akan hal itu. Alumni Undip, dan pernah kena kasus ketahuan merokok waktu SMP. Dan sekarang sedang menata hidup. 

Blog ini saya buat untuk wadah cerpen, tulisan, dan keresahan-keresahan yang saya alami. Bukan untuk pamer, cuman ingin berbagi kisah dan cerita. Bukan hanya saya saja yang menulis di blog ini, ada juga beberapa kisah dari kawan yang saya tata ulang penulisannya. Jadi, terimakasih untuk kawan-kawan yang selalu berbagi kisah baik secara sengaja maupun tidak. 

Buat kawan-kawan yang mau berinteraksi dengan saya, bisa lewat beberapa akun di bawah ini:
Twitter: @firdaus_yanuar
Instagram: @yanuarfirdausss

Terimakasih sudah membaca cerita-cerita saya, maaf kalau ada salah-salah penulisan dan apapun karena saya juga masih belajar. Semoga tulisan saya bisa bermanfaat dan memicu minat baca kawan-kawan.