Sunday, 20 January 2019

Malam Tanpa Sengaja




1.

     Aku tidak jadi pulang hari ini setelah memutuskan untuk tidur seharian di kamar kos berukuran tiga kali empat meter ini. Jam dua belas siang, Gagas, kawanku, berpamitan untuk pulang oleh sebab rindu ibunya dan untuk meminta uang. Anak yang baik dia. Aku harap aku pun begitu.

     Masih dalam suasana capek karena baru semalam tiba di kamar kos pukul setengah dua belas malam dalam rangka mendukung tim pekan olahraga se Jateng-DIY yang diselenggarakan oleh kantor wilayah tempatku bekerja. Dan Semarang, aku rasa aku perlu mengucapkan terimakasih untuk sambutannya yang hangat dan sejuk karena mendung. Untuk tim futsal putri, aku juga ingin mengucapkan terimakasih karena sudah menebarkan keharuman untuk nama baik kantor dengan menjadi peringkat kedua. Rasanya itu perlu mendapatkan apresiasi walaupun tidak menjadi juara satu. Karena olahraga mah apa saja yang penting capek dan berkeringat. Soal peringkat, masih ada tahun depan dengan semangat yang besar dan uang akomodasi tentunya.

     Sebelumnya, aku meminta ijin dengan memberi kabar pada Bapak dan Ibu di rumah oleh sebab aku tidak pulang. 

     "Kulo mboten wangsul, Pak", Pesanku. Yang artinya, "Saya tidak pulang, Pak". Seperti biasa, Bapak tidak langsung membalas pesan yang kukirim.

      Selanjutnya, kamar menjadi gelap karena selain turun hujan, ternyata aku tertidur. Begitu nikmat memang. Dan si Amad, tetangga kamar sebelah, menyudahi kenikmatan tidurku dengan masuk ke kamarku untuk meminjam korek. Sekalian rokoknya. Aku bilang silakan. Dilanjutkan dengan ngobrol tentang Erwin Gutawa, Purwacaraka, Oni n Friends, dan Dian PP. Entah kenapa tiba-tiba ngobrolin mereka. Padahal aku masih dilindungi oleh rasa kantuk. Aku bilang ke si Amad untuk sama-sama mengucapkan Al-Fatihah. Dia bingung. Aku bilang bahwa Dian PP baru saja berpulang. 

     "Yasudah. Ayok. Kamu duluan". Kata Amad.

     "Apanya?"

     "Katanya mau Al-Fatihah".

     "Barengan" Kujawab.

     "Oke"

     Untuk Dian PP semoga pahala dan amalnya diterima oleh Allah. Aku sangat kagum dengan beliau. Beliau keren.

     "Masih ujan, Mad?"

     "Masih. Masih hari Minggu juga. Tenang saja".

     "Oh. Oke. Besok Mingu lagi bisa nggak?" Tanyaku.

     "Nggak bisa. Nggak bisa kompromi sama hari. Tapi kalau ingin bolos, itu masih bisa nego".

     "Oke. Aku mau berangkat aja. Biar bisa ketemu sama Mbak Lastri. Kamu tau? Mudah-mudahan nggak".

     "Siapa?"

     "Nasabah"

     "Cantik?"

     "Cantik. Orang Jawa Timur. Tapi sekarang jadi warga sini. Ngomongnya kayak bule-bule gitu. Aku suka kalau dia sedang ngomong"

     "Aku juga"

     "Kamu belum pernah ketemu"

     "Nggak apa-apa. Aku senang kalau kamu senang"

     "Anjing. Ha ha ha"

     Dan Amad berpamitan. Katanya mau besuk budhenya yang sedang sakit di Cilacap sana. Aku bilang hati-hati dan kutitipkan salam untuk budhenya. Semoga lekas sembuh dan gembira kembali. 


2.  

   Ini masih bulan Januari. Dimana beberapa hari penuh dengan hujan dan sedikit dingin. Dan aku putuskan untuk pergi sembari membawa laptop untuk ke kedai kopi. Kata kawanku, ada kedai kopi baru di dekat Moro. Akan aku ceritakan apa itu Moro. Aku harap kalian belum tahu apa itu Moro. Supaya tidak sia-sia waktu aku menjelaskan. 
     
     Moro adalah pusat perbelanjaan di Purwokerto yang sangat terkenal. Letaknya di Jalan Perintis Kemerdekaan. Di daerah Purwokerto Selatan. Dulu ramai tiap hari dikunjungi oleh manusia. Karena sepertinya, hewan dilarang masuk. Sekarang masih lumayan ramai. Tapi agak sedikit berkurang oleh karena sudah ada Rita Supermall yang letaknya berseberangan dengan Alun-alun kota. 

     Dulu, waktu masih SD kalau tidak salah, untuk pertama kali, Bapak mengajak aku dan mbak ke Moro untuk beli barang-barang yang akan dijual kembali di warung. Kalau di sini, istilahnya "Kulak". Yang nyuruh tentunya si Ibu, karena selain menjabat sebagai manager rumah tangga, ibu juga merangkap jabatan sebagai Direktur Utama untuk warung yang menempel di depan rumah. Tapi aku lupa kenapa Ibu waktu itu tidak ikut. Waktu itu Purwokerto rasanya masih sepi. Belum banyak kendaran seperti sekarang. Kalau tidak salah Bupatinya masih Pak Aris Setiono. Untuk wakilnya, aku lupa. Bukan bermaksud cuek. Tapi benar-benar lupa. 

3.

     Dan itu adalah kedai kopi yang tadi diceritakan oleh kawanku. Masih pukul setengah tujuh petang. Suasananya cukup tenang untuk bagian ruangan yang bukan untuk perokok. Tapi sebaliknya, di bagian untuk perokok, suasananya cukup ramai. Aku memilih untuk duduk tepat di depan pintu masuk. Di bagian ruangan untuk perokok. Di samping tempat yang aku duduki, ada sekumpulan ABG. Sangat ramai. Cenderung berisik dengan membawa speaker sendiri sebagai pengeras musik yang mereka putar. Tentu sangat asyik bagi mereka dalam rangka merayakan usia muda untuk bersenang-senang dan penuh kegembiraan. 

     Aku memutar musik lewat laptop yang kubawa. Kupilih lagu-lagu dari Ebiet G. Ade yang dicover oleh penyanyi-penyanyi yang aku tidak tahu namanya. Sebagai salah satu cara untuk menghormati Bapak karena beliau sangat mengagumi Ebiet. Oh, iya. Aku menggunakan Earphone.

     Untuk beberapa saat aku melihat ke arah pintu masuk. Anak-anak muda mulai berdatangan untuk menikmati kopi dan sekedar menghabiskan waktu untuk memanfaatkan WiFi gratis yang disediakan oleh kedai. Dan aku kaget ketika menyadari tiba-tiba ada seorang perempuan duduk di kursi tepat di sampingku. Oleh karena aku sedang fokus membaca artikel, untuk beberapa menit aku tidak menyadari keberadaan perempuan itu. Dia hanya tersenyum ketika aku menghadap ke arahnya. 

     "Serius banget si, ah" Katanya. Ada sedikit tawa di wajahnya. 

     "Eh! Kamu? udah lama?" Kutanya sambil melepas earphone.

     "Udah. Udah hampir dua puluh tiga tahun di Purwokerto" Jawabnya.

     "Ha ha ha. Apa kabar?"

     "Siapa?"

     "Kamu, dong"

     "Baik. Masih perempuan". Dia tersenyum.

     "Ha ha ha. Oke"

     "Lagi ngapain, sih?"

     "Sebentar. Sama siapa ke sini?"

     "Sama teman. Tuh!". Dia menunjuk ke arah bagian ruangan bukan untuk perokok. Ada dua orang di sana yang tidak kukenali. Laki-laki dan perempuan. 

     "Teman kampus?"

     "Iya"

    "Nggak apa-apa di sini?" Maksudku, aku menanyakan apakah tidak apa-apa duduk berbeda ruangan dengan temannya. karena aku merasa tidak enak dengan mereka. 

     "Nggak apa-apa. Tadi kita baru dari Elisabeth". 

     "Oh. Beli tas?"

     "Ha ha ha. Bukan. Itu mah Elizabeth. Pake Z". 

     "Oh. Ha ha ha. Kirain. Siapa yang sakit?"

     "Ada. Ibunya temen. Udah mendingan. Besok udah boleh pulang"

     "Alkhamdulillah"

     Elisabeth yang dia maksud adalah Rumah Sakit Santa Elisabeth. Dulu, kalau tidak salah lokasinya di Jalan Gatot Subroto. Dekat dengan SMP Susteran. Kemudian tahun 2012, di saat beberapa orang sedang ketakutan oleh sebab adanya ramalan bahwa di tahun itu akan terjadi kiamat, dengan rasa syukur dan gembira, Rumah Sakit Santa Elisabeth berpindah lokasi di Jalan Dokter Angka. Sedangkan Elizabeth yang aku maksud adalah toko yang menjual berbagai macam tas, dompet baju dan banyak. Lokasinya di Jalan Merdeka. Dan sepertinya dikhususkan untuk perempuan. Kalau tidak salah. Mohon dimaafkan.

     "Iya. Itu, mereka tuh pacaran. Akunya juga bakal dicuekin" Jelasnya.

     "Oke. Biarin mereka pacaran"

     "Iya. Eh, belum dijawab tadi. Lagi ngapain? Sendirian lagi!"

    "Ini, lagi baca-baca. Tadinya mau pulang ke rumah. Tapi nggak jadi. Hujan. Takut basah" Jawabku.

     "Pulang lah. Kan ada mantel. Nggak kangen Ibu, Bapak?"

     "Udah minggu kemarin. Kita lama nggak ketemu. Kamunya sibuk"

     "Sibuk kentut. Kamu tuh kerja mulu!"

     "Ha ha ha. Biar kaya"

     "Udah?" Maksudnya, dia menanyakan apakah aku udah kaya?.

     "Belum. Doain aja. Lagi nabung tipis-tipis. Jajannya yang tebel-tebel"

     Dia ketawa untuk kemudian pamit sebentar untuk mengambil kopinya yang di antar ke meja dimana temannya duduk. Aku lihat dia seperti meminta ijin untuk beberapa waktu duduk bersamaku. Karena dari tempatku, aku bisa melihat dia memberi isyarat dan menunjuk ke arahku. 

     "Eh, kita kapan ya terakhir ketemu?" Tanyanya sesaat setelah duduk dan menaruh cangkir kopinya di meja dan juga sebungkus rokok yang belum dibuka.

     "Itu, di nikahanya si Mila"

     "Tahun berapa, tuh?"

     "2016 kalau nggak salah", Jawabku.

     "Oh, ya? Lama juga ya?"

     "Iya. Kan udah punya anak juga dia"

     "Hmm"

     "Udah gede". Jelasku.

     "Aku lagi males ngerjain skripsi". Tiba-tiba wajahnya mendadak seperti yang sedang capek. "Eh, kan koreknya lupa!". Tambahnya.

     "Lha ini korek. Pake aja". Seruku.

     "Oke"

     "Yasudah. Kalau males, istirahat aja dulu"

     "Kelamaan istirahat malah jadi nggak kepegang"

     "Ha ha ha. Harus kelar"

     "Iya. Doain, ya". Katanya sambil menyalakan rokok. Aku hanya ketawa dan mengangguk untuk mewakili jawaban, "Iya. Aku doain".

    "Ngerokok lagi? Tanyaku. Untuk sekedar mengkonfirmasi. Karena dulu, dia sempat berhenti merokok.

     Aku mencoba membuat suasana menjadi santai dengan tidak memusingkan apakah perempuan pantas merokok atau tidak. Itu urusan masing-masing. Hanya perlu untuk saling menghargai. Tidak untuk menjadi bahan gunjingan yang tidak perlu.

     "Iya"

     "Oke"

     "Bapak sama Ibu apa kabar?

     "Baik. Bapak udah pensiun. Ibu juga. Tapi Ibu mah langsung dapet kerjaan baru". Jawabku.

     "Eh? Udah? Kapan?"

     "2017. Oktober. Barengan pensiunnya sama aku"

     "Kok?"

     "Pensiun dari D3"

     "Ha ha ha. Lha Ibu?" Dia menghisap rokoknya. "Katanya dulu Ibumu Dirut warung". Lanjutnya.

     "Ha ha ha. Iya, dulu. Kan Bapak pensiun, otomatis Ibu juga pensiun dong. Pensiun jadi anggota PERSIT". Jelasku. 

     Sekedar informasi. PERSIT adalah akronim dari Persatuan Istri Tentara kalau tidak salah. Apabila seorang tentara menikah, secara otomatis istrinya tergabung menjadi anggota PERSIT Kartika Chandra Kirana. Untuk tugas dan kegiatannya, aku tidak tahu pasti. Tapi dulu, ibu sering ikut kumpul-kumpul dengan mengenakan seragam dengan teman-teman sesama istri tentara di Koramil dan lebih jauh lagi, tiap sebulan sekali di Kodim Diponegoro. yang lokasinya kurang lebih satu jam dari rumahku. Letaknya di Purwokerto. 

     "Oh. Oke. Sekarang? Kerjaan baru? Apaan?" Dia bertanya seolah seperti jurnalis acara gosip.

     "Jadi anggota WARAKAWURI. Organisasi istri mantan prajurit".

     "Menarik"

     "Apanya yang menarik?" Tanyaku.

     "Banyak organisasinya"

     "Ha ha ha. Iya. Sibuk Ibu mah. Kerjaannya rangkap-rangkap"

     "Biar sehat"

     "Iya. Ketemu temen. Buat hiburan lah" Jelasku.

     Tiba-tiba telepon genggamku bunyi. Aku meminta ijin ke dia untuk mengangkat telepon sebentar. "Oke, aku tungguin", katanya. Ternyata si Amad. Dia minta tolong untuk sekedar mengecek pintu kamarnya. Katanya, dia lupa pintu kamarnya sudah dikunci apa belum. Aku jawab, "Oke".

     "Ibu gimana?" Tanyaku.

     "Sehat. Masih kerja juga"

     "Perempuan keren"

     "Iya. Tapi suka kasihan sama Ibu" Terangnya.

     "Kenapa?"

     "Ya gini. Kalau aku pergi, sendirian di rumah".

     "Hmm"

     "Tapi kadang ada temen-temennya pada main ke rumah. Jadi mending deh. Ada temen ngobrol"

     "Harus gitu"

     "Apanya yang harus?"

     "Itu ketemu sama temen-temennya"

     "Oh. Iya"

     "Biar sehat". Jawabku menirukan jawabannya.

     "Itu kata-kataku tadi. Ha ha ha". Dia tertawa untuk kemudian menyeruput kopinya. 


4.

     Aku rasa dia adalah kawan lamaku yang walaupun jarang bertemu, tapi masih nyambung ketika ngobrol. Dan sesekali dia mengajak ngobrol lewat aplikasi whatsapp. Begitupun sebaliknya. Dan di kedai itu, dengan didukung oleh suasana kedai yang berangsur sepi, percakapan menjadi panjang dan luas. Melayang bersama asap rokok dan uap dari kentang goreng yang kami pesan karena masih panas.

     Kulihat dua temannya, sedang sibuk dengan telepon genggamnya masing-masing. Pemandangan yang sama seperti beberapa pengunjung lain. 

     "Pacar aman?" Tiba-tiba dia bertanya setelah kami selesai membahas beberapa peristiwa waktu SMA dulu. Ada raut wajah yang berbeda. Oleh karena dia menanyakannya disertai dengan ketawa yang mengejek.

     "Aman. Sehat walafiat".

     "Ha ha ha. Udah. Nggak apa-apa. Mumpung lagi masa iddah, fokus kerja aja dulu. Nikmatin gaji. Nikmatin jadi robot. Kayak gini ini". Dia menjelma seperti motivator disertai dengan wajahnya yang dibuat seperti Merry Riana. Aku cukup terhibur akan hal itu. 

      Sebenarnya, dari pada membahas hal itu, aku lebih tertarik untuk membahas beberapa peristiwa saat SMA dulu yang tadi kami bahas. Seperti membahas kejadian saat aku menyembunyikan kerudungnya waktu pelajaran agama dan dia panik. Waktu itu yang ngajar memang terkenal galak. Aku sudah lupa namanya. Yang jelas, beliau tidak mengizinkan siswi yang tidak pakai kerudung mengikuti kelasnya. Sialnya, di kelasku, kelas dia juga, muridnya semua beragama islam.

     Perlu aku jelaskan, bahwa di SMAku dulu, setiap pelajaran agama, siswi wajib mengenakan kerudung. Apabila tidak, pilihannya banyak. Pura-pura sakit terus tidur di ruang UKS, pinjam kawan lain yang sudah selesai pelajaran agama, atau makan di kantin untuk bolos. Dia memilih pilihan terakhir.

     Waktu itu aku memilih ijin dari kelas dengan alasan ada rapat ekstrakurikuler. Tapi sebenarnya tidak. Yang aku lakukan saat itu, aku menyusul dia di kantin sambil ketawa dan memakai kerudung miliknya. Dia kaget. Untuk selanjutnya, aku jadi sasaran amukannya karena dia jadi bolos pelajaran. Tapi ujungnya, aku traktir dia mie ayam dan dia senang.

     "Iya". Jawabku. "Aku kangen masa SMA". Kataku untuk menyudahi membahas soal pacar.

     "Aku juga. Tapi lebih kangen ke Ayah". Jelasnya. Dilanjutkan dengan menyalakan sebatang rokok.

     "Harus kangen". Jawabku. "Tapi kangennya sambil kirim doa juga".

     "Udah. Tiap selesai sholat. Tapi kadang kangennya nggak ilang-ilang".

     Untuk kemudian aku mendapati air mata yang keluar dari ujung matanya. Dan suasana berubah menjadi emosional. Aku kira itu wajar.

     "Nggak boleh ilang"

     Untuk beberapa saat aku membiarkan dia mengeluarkan segala perasaannya. Beberapa pengunjung aku rasa mencuri-curi pandang untuk melihat ke arah kami. Aku tidak masalah dengan itu. Yang terpenting bagiku adalah untuk membiarkan dia dengan memberi waktu agar menikmati apa yang sedang dirasakannya. Itu saja.

     "Jadi cengeng gini. Maaf ya". Katanya setelah merasa mendingan. Ada senyum yang dia tunjukkan.

     "Nggak salah". Kataku. Maksudku, dia tidak perlu meminta maaf hanya karena menangis. Itu bukan suatu yang harus dimaafkan.

     "He he. Iya"

     "Udah berapa lama, ya?". Tanyaku. Menanyakan sudah berapa lama Ayahnya meninggal. Karena aku sudah lupa.

     "13 tahunan kalau nggak salah"

     "Hmm"

     "Udah, ah, sedih-sedihannya. Nggak seru" Katanya.

     "Ha ha ha"

     "Kopimu abis, mau pesen lagi?"

     "Nggak ah. Nanti aku pesen air putih aja". Jelasku.

     Dia kemudian beranjak dari tempat duduknya tanpa pamit akan kemana. Dan kembali membawa sebotol air mineral yang mereknya sangat terkenal. Katakanlah Aqua.

     "Nanti-nanti. Lama"

     "Ha ha ha. Makasih. Aku tahu maksudmu. Iya aku bayar semua pesananmu".

     "Ha ha ha"

     Obrolan malam itu di akhiri dengan dia pamit oleh karena dari bagian ruangan bukan perokok, dua kawannya itu memberi kode ingin pulang. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat empat lima menit. Untuk kemudian dia pamit padaku. Aku bilang akan mengantarnya sampai depan sekalian minta maaf karena sudah menculiknya selama di kedai. Dia ketawa.

     "Maaf ya Mbak, Mas, Ananya saya culik tadi. Lama nggak ketemu" Jelasku pada dua kawannya.

     "Nggak apa-apa, Mas. Malah senang. Kitanya jadi nggak diganggu" Kata si perempuan. Untuk kemudian kami semua ketawa.

     "Aku balik, ya. Nggak perlu sedih. Sebentar aja sedihnya".

     "Iya. Oke". Kujawab dengan tanganku membentuk simbol 'Oke'. "Hati-hati".

     "Shaaaap!". Maksudnya, 'Siap!'

     Bersamaan dengan dia memasuki mobil, aku kembali ke mejaku untuk mengambil laptop dan tas. Aku rasa malam ini termasuk malam yang bagus. Selain oleh sebab aku bertemu kawan lama tanpa sengaja, aku juga mempunyai ruang untuk bisa meletakkan kenangan yang lalu untuk disajikan menjadi bahasan yang cukup memenuhi syarat untuk membuat hati rindu. Tapi kenangan-kenangan itu apabila dilakukan lagi di masa sekarang, aku rasa sudah tidak akan lagi karena sudah bukan waktunya. Yang bisa dilakukan adalah bertemu dengan kawan, membahas cerita-cerita lalu untuk tertawa bersama.

     Malam sudah semakin malam. Di jalan sudah mulai lengang dan dingin. Dan besok, harus kembali bertanggungjawab atas apa yang sudah menjadi perjanjian untuk bisa menghasilkan uang. Apalagi kalau bukan bekerja.

     Untuk malam ini, aku ucapkan terimakasih karena tidak hujan. Sehingga aku bisa pulang ke kamar kos tanpa basah. Karena tidak hujan sehingga orang-orang yang mengunakan jasa ojek online bisa pulang ke rumah masing-masing tanpa basah. Karena tidak hujan dan menyebabkan jok sepeda motorku yang sobek tidak basah sehingga celana jeansku tetap kering.

     Purwokerto, Januari 2019 M.
   



   

     


     




    


     

     

     

     
     





  

     
    

    

     

     
     

   

     
     
      
     

Sunday, 13 August 2017

Mesra Bersama Ibu

   






     Semarang, 26 Juli dini hari. tepat pukul 01.46. Lama tidak membuka blog, lama tidak memijit keyboard, lama juga tidak ngomong sendiri. Akhir-akhir ini selera humorku menurun. Jam tidur berantakan, rokok ngebut, kopi tak pernah absen. Lengkap. Kafein, nikotin, antangin, caladin, tenangin, awkarin, semuanya berkumpul. Fokusku bercabang. Terlalu banyak pikiran masuk entah dari mana. Tiba-tiba masuk begitu saja. Jangan tanya apa saja yang sedang kupikirkan. Berharap pikiran-pikiran itu akan hilang setelah sepeminuman kopi, ternyata tidak juga. Bodohnya, setiap hari aku lakukan. Mungkin pusing setelah tadi pagi sampai siang menjalani serangkaian psikotes dan wawancara di salah satu perusahaan swasta, masih terbawa sampai sekarang. Dan malam ini, aku rindu menulis. Suatu rutinitas beberapa tahun ini ketika sedang dalam suasana apapun.

     Pekan terakhir di bulan Juli. Bulan istimewa untuk anak Indonesia, bulan istimewa bagi mahasiswa yang sedang libur semester, pun bagi ibu. Ibu berulang tahun tanggal 16, dua hari kemudian aku baru sadar dan buru-buru mengirimnya sebuah pesan singkat berisi ucapan selamat ulang tahun beserta do'a-do'a yang menurutku sakral. Bisa dibilang ini kali pertama aku memberi ucapan selamat ulang tahun pada ibu setelah melewati sekian banyak tanggal 16 Juli tanpa seremonial yang berarti. Aku senang. Akhirnya, aku bisa menembus sekat kekakuan hubungan antara aku dan ibu. Sekat yang sebenarnya kubangun sendiri hingga semakin lama, semakin menebal. Tapi ibu tak pernah menganggap sekat itu ada. Walaupun ia merasakan, namun kelembutannya selalu saja membuat sekat itu menjadi semakin tipis, rapuh, retak kemudian runtuh. Dan dalam pesannya yang lumayan panjang, ibu membalas terimakasih dengan selalu menyelipkan do'a-do'a dan pesan yang menginginkanku agar aku menjadi lebih baik lagi dan mengurangi kebiasaan merokok. Suatu ultimatum yang wajib ibu berikan ketika aku pulang dan berpamitan untuk kembali berangkat ke Semarang.

     "Bibirmu lho, item. Kayak bapak. Masih muda kok udah gitu. Bibir item, kurus, jerawat makin nambah. Kurangin lah rokoknya. Kalau bisa stop."
   
     "Nggak apa-apa, Buk. Jangan diejekin si bapaknya."

     "Kenapa?" Tanya ibu dengan wajahnya yang dibuat tegas.

     "Ibu kan duitnya dari bapak."

     "Oh, iya. Tapi kan ibu istrinya bapak. Ibu ada kuasa buat bilangin"

     "Inget, Buk. Bapak kan suaminya ibu. Punya kuasa juga buat nyari duit."

     "Itu mah wajib."

     "Hahaha."

     Ibu memang seperti itu. Kukira hampir semua ibu di belahan dunia manapun melakukan hal demikian. Ibu tidak pernah kaku walaupun hampir dua puluh enam tahun menjadi pendamping seorang tentara. Ia tetap luwes, lembut dan "cengeng" ketika mendapati hal yang meresahkan hatinya. Aku masih ingat benar ketika aku terkena demam berdarah hampir dua tahun lalu. Setelah hampir seminggu tergeletak dan panas dingin, dokter bilang aku kena radang tenggorokan. Aku kabari ibu dan beberapa detik kemudian ponselku dicecar puluhan sms. Hanya ada satu nama pengirim di sana, "Ibu Negara". Belum sempat kubalas pesan itu karena lemas, ponselku berdering, bapak menelepon. Bapak bertanya seperti ia sedang menginterogasi pelaku tawuran yang sering terjadi di desa. Dan sialnya, aku pernah menjadi salah satu pelakunya. Bapak bertanya macam-macam. Sudah ke dokter belum, obatnya sudah habis belum, periksa langsung ke rumah sakit saja. Bapak bilang kalau perlu pulang saja dan bapak akan memesan travelnya. Aku hanya menjawab sekata-sekata karena untuk bicara saja bibirku sakit karena kering dan pecah-pecah.

     "Ibu nangis. Bapak nggak tega. Kalau bisa kamu pulang saja".
   
     "Cengeng si ibu,"

     "Iya cengeng. Padahal cuma demam berdahak, ya?"

     "Batuk itu mah. Demam bersholawat, Pak."

     "Hussh! Ngawur! Jangan begitu!"

     "Kalau lagi demam, banyakin sholawat, Pak. Biar cepet sembuh,"

     "Tapi beneran. Banyakin do'a. Pulang aja, ya?"

     "Iya, Pak."

     Kemudian aku pun menuruti pesan bapak untuk periksa di rumah sakit. Dan benar seperti yang belum kuduga sebelumnya, aku positif terkena demam berdarah. Waktu itu aku diantar teman satu kontrakanku, si Reja. Bisa dibilang Reja juga yang merawatku selama aku sakit. Terimakasih. Semoga cepat selesai kuliahmu.

     Akhirnya aku pulang juga naik travel dengan kondisi lemas selemas-lemasnya. Perjalanan selama enam jam Semarang-Purwokerto, tidak kupikirkan. Tapi sangat aku rasakan. Perjalanan itu seperti melambat. Ban di kedua sisi mobil seperti berubah menjadi kubus. Rasanya lama sekali. Bapak bilang agar aku turun di Kodim Purwokerto saja karena bapak menunggu di sana. Waktu itu dini hari. Aku lupa kapan jam persisnya. Aku langsung dibawa ke rumah sakit yang jaraknya sekitar setengah jam dari rumah. Sebenarnya bapak bisa saja membawaku ke rumah sakit tentara di Purwokerto yang hanya beberapa menit dari Kodim. Tapi bapak bilang di dekat rumah saja agar ibu bisa dekat ke rumah sakitnya. Karena dari rumahku ke rumah sakit tentara kurang lebih satu jam.

     "Lemes ya, Le?" tanya bapak di perjalanan.

     "Banget, Pak."

     "Sebentar lagi sampai."

     "Masih jauh, Pak. Setengah jam lagi."

     Bapak ketawa. Mungkin bapak berpikiran kalau orang lemas dan panas bisa dibohongi. Ya, di balik ketawanya, aku bisa melihat kepanikan di wajah bapak. Bapak menutupinya dengan guyon yang sering kami lakukan saat aku pulang. Waktu itu, karena pelan, sampai rumah sakit sepertinya malahan hampir satu jam. Oleh sebab kabut yang tebal dan dingin.

     "Bapak juga lemas."

     "Kenapa, Pak?"

     "Ngantuk."

     "Oh, iya."

     "Hahaha."

     Di perjalanan bapak bilang katanya ibu nangis terus. Kepikiran, makannya sedikit-sedikit. Aku jadi kepikiran juga. Kata bapak, ibu ingin ke Semarang menyusulku. Tapi aku bilang jangan. Takut kesasar. Besoknya, ibu datang ke rumah sakit bersama mbak dan sudah baik-baik saja. Katanya, oleh sebab aku sudah ditangani dokter. Empat hari aku opname dan ibu ada ditemani bapak. Belum ada lima jam aku di rumah setelah check out dari rumah sakit, aku langsung ke stasiun untuk memesan tiket dan kembali berangkat ke Semarang karena aku sedang UTS. Aku masuk di hari ke dua karena hari pertama aku masih di rumah sakit. Iya, begitu si ibu. Aku sayang.

     Kata ibu, dulu ia lulusan SMEA tapi selalu bingung kalau ditanya soal akuntansi. Dengan alasan yang sama dan konsisten, ibu bilang, yang penting bisa mengatur uang keluarga, tidak perlu ribut soal aktiva tetap, rekonsiliasi fiskal, laba ditahan, debet dan kredit, apalagi IHSG. Karena pasti nanti hasilnya juga wajar tanpa pengecualian. Mendengar jawaban ibu, aku langsung menyarankan agar ibu melanjutkan kuliah saja. Sebenarnya saran itu aku lontarkan dengan tujuan hanya becanda. Tapi ibu tetap saja menanggapi dan menolak. Katanya takut diospek dan takut nanti absennya tidak memenuhi 75% sebagai syarat agar bisa ikut ujian karena sibuk mengurus rumah dan bapak. Alasan paling masuk akal yang sangat bisa aku terima adalah ketika ibu bilang bahwa uangnya sudah buat aku dan mbak kuliah. Sama buat uang rokok aku dan bapak. Dan menurutku itu adalah alasan yang sebenar-benarnya tanpa bisa digugat.

     Tanpa terasa tahun ini usia ibu sudah menginjak lima puluh tahun. Yang sebenarnya tahun kemarin baru empat puluh sembilan tahun. Tapi ibu suka kesal dan protes. Ibu bilang kalau sebenarnya usia ibu tahun ini adalah lima puluh satu tahun. Dan memang demikian karena ibu lahir tahun 1966. Tapi di Kartu Keluarga tertulis tahun lahir ibu adalah 1967. Aku bilang pada ibu seharusnya tidak perlu kesal dan protes. Karena ibu hanya protes di rumah saja, tidak berani protes di Dindukcapil atau Kecamatan. Minimal RT lah. Dan aku rasa ibu harusnya beruntung karena dimudakan usianya. Tidak seperti bapak. Di Kartu Keluarga dan di arsip TNI, usia bapak dituakan menjadi satu tahun lebih tua. Bapak pernah bilang kalau dulu ketika masuk TNI, usianya paling muda di antara teman-teman satu letingnya. Biar bagaimanapun, angka usia akan terus bertambah dan lama hidup akan terus berkurang. Satu yang menjadi harapan dan keinginanku adalah ketika aku dapat bertemu dan merayakan tanggal 16 Juli di tahun-tahun berikutnya dengan empat personel keluarga kami dan tambahan personel baru yang berposisi sebagai menantu dan cucu.

***

     Dan tahun ini bapak pensiun. Menjadi purnawirawan dan kembali bertani. Cerita mengenai pensiunnya bapak sebenarnya sudah kutulis satu tahun lalu dan belum selesai sampai sekarang. Mungkin karena terlalu dalam dan aku perlu observasi lebih rinci, juga harus mewawancarai bapak lebih lama lagi. Alasan mengapa cerita itu belum selesai sebenarnya adalah lebih kepada takut kalau-kalau ada yang berpendapat bahwa pada saat usia yang sama antara aku dan bapak sangat berbeda sama sekali. Dari sisi perjuangan, usaha, religiusitas dan jalan yang kami pilih dalam karir, juga perbedaan dalam merek rokok yang kami sukai. Sebentar, dalam hal merokok, sebenarnya tidak ada pernyataan resmi dari bapak bahwa, "silakan. Kamu boleh merokok," tidak pernah ada. Bukan berarti juga bapak tidak pernah melarangku merokok. Larangan itu selalu ada dan bapak selalu berpesan secara tersirat. Terkadang diwakilkan oleh juru bicaranya, si ibu.

     Dalam karir, pertanyaan yang selalu ada dan mungkin dialami oleh setiap anak kolong yang tidak mengikuti jejak ayahnya dalam militer adalah, "Kenapa kok nggak jadi tentara kaya bapaknya?". Mungkin ada banyak jawaban dari mereka para anak kolong yang tersebar di seluruh penjuru negara yang luasnya 1,905 juta kilometer persegi ini. Aku pun ada jawaban sendiri, "Karena sudah diwakilkan oleh bapak," itu jawabanku. Aku hanya merasa tidak adil bahwa ketika aku memilih menjadi tentara dan masuk, aku tidak bisa memberi fasilitas pada bapak seperti apa yang aku terima selama bapak aktif sebagai prajurit. Seperti berobat gratis, tunjangan pendidikan anak dan banyak. Tapi ketika semisal aku jadi tentara, bapak mungkin tidak akan bisa mendapat berobat gratis, tunjangan pendidikan orangtua dan banyak. Bapak pun tidak bisa disebut bapak kolong. Tapi aku sadar diri. Membayangkan aku berseragam loreng saja. . .tidak. . .tidak. Aku tidak akan. Cukup bapak dan teman-temannya saja. Dan aku hormat pada beliau. Soal karir apa nanti yang akan aku ambil, bapak selalu mendukung dengan kekuatan purnawirawan militernya. Apapun.

      Ah, ada satu yang aku rasa sedikit perlu kuceritakan. Mbak. Kakak perempuan yang hanya selisih dua tahun denganku. Aku bangga karena tinggiku sudah melebihinya. Sekarang. Kalau foto di atas, menurutku tidak perlu untuk dibahas. Aku masih sangat kecil dan ganteng. Tidak perlu juga untuk memperdebatkan pernyataanku barusan. Menurutku, ia curang. Menyandang gelar sarjana di usia dua puluh satu tahun. Tapi bagiku tak perlu ada cemburu atau iri pada kakak sendiri. Sudah lewat masanya. Orang-orang selalu mengira bahwa akulah yang menjadi kakaknya. Karena wajahku lebih tua? Menjadi salah satu sebab yang tidak bisa dibantahkan. Biar. Karena dalam soal menjadi adik laki-laki dari seorang kakak perempuan, hal itu sangat lumrah dan biasa. Ini menurutku. Atas dasar pembelaan diri. Ia sedang berusaha mendidik anak-anak sekolah dasar dengan gelar Sarjana Pendidikan yang dimilikinya. Dengan berbagai cerita yang sering ia sampaikan padaku ketika aku pulang mengenai anak-anak yang ia didik dan kondisi di sekolah tempat dimana ia mengabdi sekarang, sepertinya ia terlihat menikmati perannya. Aku tidak akan menggambarkan cerita yang disampaikan oleh si mbak. Apa itu sedih, senang, ataupun biasa saja. Biarkan. Ia harus bertanggungjawab dengan apa yang ia pilih.

     Mungkin ini adalah masa-masa dimana orangtua menjadi tempat mengadu setelah pada-Nya. Dalam hal apapun. Karena benar apa kata orang, rumah adalah tempat terbaik untuk pulang. Sejauh apapun kaki menapaki bumi, mencari apapun yang sangat ingin digapai untuk mendapatkan sebongkah "harta", harus tetap sadar, keluarga akan tetap menjadi harta yang paling berharga untuk dijaga. Tak perlu menyanyikan kalimat barusan yang memang terdengar seperti lirik soundtrack Keluarga Cemara. Bukan berarti juga hanya berdiam diri di rumah. Masih banyak hal yang perlu dipelajari dan direkam dalam memori otak di luar sana. Tetapi mengingat, sadar dengan sesadar-sadarnya dan menjunjung tinggi nama baik tempat dimana kita berasal adalah nilai yang selalu harus dipegang. Wajib. Dan tentu ada satu dua orang, termasuk aku sendiri yang setelah membaca ini akan berujar, "Kalau ngomong, udah kayak orang bener aja,". Ya, menurutku ini harus. Paling tidak menjadi pesan pelengkap yang akan didapat oleh siapapun yang akan membacanya.

     Dan sekarang pukul 03.56. Waktu yang sangat tidak ideal untuk mulai memejamkan mata dan tidur. Bukan pula waktu yang ideal untuk keluar mencari makan. Karena ternyata perutku mulai berisik. Di sisi lain, ada sesuatu yang mengganjal. Sebelum tidur si Nona, pacarku, bilang bahwa dia tumbang. Dia sakit. Aku rasa karena beberapa hari belakangan ia mendapat sift malam terus dan berkutat dengan bayi-bayi. Kasihan dia. Butuh istirahat banyak. Setelah menanyakan bagaimana hasil tes psiko dan wawancara yang aku ikuti tadi siang dan berhaha-hihi sebentar, dia pamit untuk tidur. Kepalanya berat, nafasnya panas dan pilek katanya.

     "Udah makan, kan?" tanya si Nona.

     "Udah. Kamu minum obat terus tidur,"

     "Iya. Udah isyaan?"

     "Udah makan, udah isyaan, udah minum, udah sunat, udah lulus D3 tapi belum dapet kerja,"

     "Hahaha. Kan lanjut kuliah," ia tertawa. Aku bisa membayangkan tawanya. Pasti susah.

     "Oh, iya." jawabku.

     "Nanti juga kerja,"

     "Amin,"

     "Aku tidur, ya?"

     "Iya. Cepet sembuh ya,"

     "Jangan cepet-cepet. Santai aja. Lumayan buat bedrest."

     "Haha, curang."

     "Nggak curang. Ini rejeki,"

     "Iya. Biar bisa istirahat,"

     "Yaudah, aku tidur. Jangan kepagian tidurnya,"

     "Mau kepagian, ya? Mau nulis."

     "Iya. Jangan nulis undang-undang. Udah ada yang bikin."

     "Sip. Selamat tidur."

 



   


Sunday, 7 May 2017

Si Babysitter

Malam. Semarang pukul 23.42. Ngayal semaunya dan ngomong semuanya. Dua orang teman baru pulang setelah berhaha-hihi lebih kurang tiga jam. Masih membahas soal yang sama, kerjaan. Bukan, bukan. Mereka bukan ngomong soal, gimana kerjaanmu? atau gimana bosmu? Masih seputar, ada lowongan dimana? mau daftar dimana lagi? ya, masih seputar itu sedikit diselingi dengan guyonan penghibur diri. Si Acit baru saja resign dari kerjaannya dengan gaji terakhir yang belum dibayarkan. Si Deden masih nyaman dengan kerjaannya yang santai. Aku? jangan tanya. Masih selalu memalingkan obrolan dengan membahas tugas-tugas dari kampus. Presentasi, bikin kurva serta tetek bengek yang kulebih-lebihkan biar kelihatan sibuk saja. Aku sedang tak ada gairah ngobrol soal kerjaan. 

Setelah ngobrol ngalor ngidul tak jelas, seperti biasa, si Acit membuka obrolan. Memang, dia begitu. Manusia dengan beribu kisah. 

"Aku ndue cerito, Ndes," ia berbicara sedikit tak jelas dengan tawanya yang menumpuk.

Ia bilang bahwa di tengah pekerjaannya yang nggak asyik, sebelum ia resign tentunya, ada saja satu dua hal yang datang sebagai penghibur. Kali ini anak dari bosnya yang kena giliran untuk dibahas. Katanya, anak bosnya ini "rodok loro" yang berarti rada sakit. Bagaimana tidak. Anak itu masih kelas satu SD. Punya babysitter usianya sekitar dua puluh tahunan. Awalnya kami, aku dan si Deden mendengarkan dengan biasa. 

"Cah iki ki rodok loro, Ndes. Sumpah," kata Acit kembali dengan tawanya yang selip-selipan.

"Loro piye? Cerito sek to. Ngguyune mengko," Deden mulai kesal. Aku hanya senyum-senyum menunggu Acit melanjutkan ceritanya.

"Dadi ki ndeknen kan jek kelas siji SD. Dolan neng kantor mbek babysistere. Njur. . . "

"Babysitter, Ndes. Sister sister," Deden memotong.

"Lha yo pokokmen kui. Lha, cah iki ki seneng ngguselke ndase neng selangkangane babysitter-e kui, Ndes. Gek didulang ngono to, jugujug ngguselke ndase. Kadangan yo neng susune. Aku yo mung ngguya-ngguyu tok to. Cah iki piye iso ngono ki diwaraih sopo ngono lho."

Aku ketawa. Mencoba membayangkan apa yang diceritakan si Acit ini. Soal benar tidaknya cerita itu, biar dua malaikat di kanan kirinya yang menjelaskannya kelak. Tapi asli, aku ketawa kencang. Tenggorokanku sampai kering dibuatnya. Brengsek.

"Lha njur si babystitter-e kui pye, Ndes? Moso meneng ae?" tanyaku.

"Ngono-ngono tok kae. Saru dek, ah. Mung ngomong ngono tok. Lha Pak'e kan weruh kui, yo tekon ngene, koe ki ngopo to, Dek? rodok loro ig. hahahaha."

"Cah cilike piye terusan?" Deden tanya. Aku ketawa. Acit masih ketawa juga.

"Mung ngguya-ngguyu tok. Cengar-cengir rak jelas. Njur kan aku tekon to, Dek, koe ki ngopo to kok ngono? Tekonku yo mbek ngguya-ngguyu. Pekok og cah iki. Hahahah". Acit ketawa dibarengi dengan asap rokok yang mengepul keluar dari mulutnya. "Terus ndeknen jawab opo jal?" Lanjutnya.

"Opo?"Aku dan Deden hampir berbarengan.

"Enak og, Om. hahahaha. Goblok rak kui?" 

"Hahahahahahaha," aku, Acit dan Deden ketawa kencang. 

Untuk bahasan yang satu ini aku lebih tertarik ketimbang membahas soal mendaftar pekerjaan. Mereka datang membawa cerita yang biasa namun, ketawa bersama akan menguatkan humor yang ditawarkan disamping juga untuk menghargai si penyaji cerita. 

Setelah bercerita kesana kemari dan ketawa yang sampai menguras kering tenggorokanku, aku tawarkan mereka untuk minum kopi di burjo pertigaan depan. 

"Gah ah. Kopi ki ireng og wernone," Acit menolak. Deden tertarik. Tapi bukan untuk kopi. Ia lapar karena memang sedari tadi perutnya bunyi terus.

"Yo kan ono white kopi to, Cuk?" aku memberi tawaran ke Acit. 

"Meneh kui. Kopi rak jelas. Jarene white kopi. Jebul yo wernone coklat. Indonesia ki aneh-aneh wae og. Mesti ki goro-goro didikane Orde Baru ki," jawab Acit.

"Kok iso tekan Orde Baru mbarang ki piye?" tanya Deden.

"Lha piye? Jek enak jamanku, to?" Acit bertanya balik.

"Hahahaha. Koe ki asu donan. Kopi iso tekan Orde-ordenan ki piye. Piye gelem rak?" aku kembali menawarkan.

Keputusan akhirnya bulat. Kami berangkat ke burjo naik motor si Deden berbonceng tiga. Dengan posisi aku yang nyetir, Acit di tengah karena badannya paling kecil dan di belakang si Deden tentunya. Acit masih juga belum berhenti ngoceh. Di jalan, ia merajuk.

"Den, koe ki kakeane. Ojo maju-maju to, Ndes. Manukmu ki lho nempel bokongku," aku ketawa.

"Ki jane motor mung nggo wong loro, Cit. Wis to menengo. Diluk meneh yo tekan," jawab si Deden.

Di burjo, Deden yang memang sudah lapar langsung memesan magelangan. Acit memesan bubur kacang ijo dengan es, tapi kesal karena tidak diberi sirup. Aku hanya memesan susu coklat panas dan rokok surya satu batang dan kaget waktu tahu ternyata burjo ada wifinya. Deden berbisik ke aku karena melihat dua cewek berjilbab yang sedang makan mi dokdok.

"Ndes, adem ya. Wajahnya itu lho. Mirip yang main di Roman Picisan versi syari'ah," aku kaget. Deden tiba-tiba berbahasa Indonesia. 

"Ndes, rungokno. Roman Picisan, Roman Kamaru, Boy, Anak Langit, Anak setan, luweh. Aku ki rak mudeng," jawabku. Si Acit mengajak kami duduk. 

"Norman, Cuk, Norman," kata si Deden membenarkan. "Subhanallah," lanjutnya. 

Acit bertanya padaku soal kabar si Mira, teman kampus dulu yang selalu kami bahas berdua. Aku bilang dia sudah bekerja. Acit sebenarnya bukan menanyakan soal itu. Aku paham betul, Acit ingin mengulang masa-masa dimana kami membahas soal si Mira ini dari ujung kuku jempol kaki sampai ujung rambutnya yang kebetulan tidak bercabang. Soal bodinya yang aduhai. Tapi aku hanya senyam-senyum. Karena butuh waktu sekitar dua jam untuk berdiskusi soal bodi si Mira ini. Juga karena ada banyak orang. Aku sungkan membahasnya. Deden juga hanya ketawa-ketawa melihat muka si Acit yang berubah seketika saat membahas si Mira dengan sesekali mencuri-curi pandang pada cewek berjilbab tadi. 

"Ini tadi yang pesen magelangan minumya apa ya, A?" tanya si mamang burjo. Maksudnya si Deden. Karena Deden yang memesan magelangan.

"Dia nggak pesen magelangan, A". Jawab Acit. "Dia cuma pesen supaya Hak Angket DPR soal KPK itu, jangan disetujui. Sama tadi dia pesen ke saya minta tolong nanyain ke Aa, keluarga A6 itu yang mana yang anaknya KD sama yang mana yang anaknya Asanti. Gitu, A." Lanjutnya.

Aku ketawa kencang. Deden ketawa tapi sedikit ia tahan. Edan. Pembeli yang lain yang lagi pada makan ikut ketawa juga. Kebetulan malam ini ramai dan di tv ada GP dengan posisi sementara Pedrosa yang memimpin balapan. Biasanya sepi karena di samping burjo ada ayam geprek, dan di depannya ada nasi goreng yang kebetulan juga dua-duanya tutup. Memang Acit edan. Si Mamang hanya senyum dan kembali menanyakan minum apa ke si Deden.

"Es teh aja, A," jawab Deden. Sambil melangkah untuk ambil tahu bakso. 

"Aku ji, Den," kataku. Maksudnya minta tolong pada Deden, sekalian ambilkan satu. 

Magelangan untuk si Deden datang. Kemudian tanpa memikirkan kepulan uap yang menandakan magelangannya masih panas, Deden langsung melahapnya. Perlu diketahui, Dedenlah yang bayar semua pesanan kami. Baik dia. Katanya baru gajian. Aku juga dikasih ceban untuk beli rokok. Aku bilang nanti kalau aku diterima di BI, aku bakal balikin duitnya. Dengan wajah sok ngeboss, Deden bilang nggak usah. 

"Aku meh amal neng koe," kata Deden padaku. 

Setengah jam kemudian mereka pamit pulang. Cuaca lumayan dingin. Tapi karena aku dari pagi belum mandi, rasanya biasa saja. Hari ini, kedatangan mereka sangat membuatku terhibur. Karena setelah wisudaan Oktober lalu, praktis kami jarang berkumpul. Yasudah. Kami harus menjalankan hidup masing-masing. Bertemu bila ada waktu, memberi like atau love di Instagram bila mereka apload foto atau menyapa lewat grup Line angkatan.

Hari ini, disamping aku senang karena dua temanku datang, di sisi lain ada sesuatu yang sedang terjadi pada temanku di lain tempat. Dia mengapload gambar di Instagram dengan caption yang, ya lumayan sedih. Sepertinya menyangkut soal asmara. Aku jadi ingat pacarku. Sedang apa dia? Oh tadi dia bilang mau tidur saat di chat. Aku disuruhnya untuk tidur juga. Kujawab nanti, duluan aja. 

"Besok aku berangkat pagi," katanya.

"Berangkat kemana?"

"Hmmm. Biasa deh. Sekolah lah. Besok ulangan sejarah"

"Hahaha. Udah lulus juga. Oke, sekarang tidur."

"Iya kamu juga tidur."

"Nanti, ya. Masih sore ini mah. Duluan aja."

"Jangan pagi-pagi terus tidurnya."

"Jangan Instastory-an mulu."

"Hahaha, nggak."

"Iya."

"Jangan lupa makan."

"Iya."

"Jangan lupa mapan."

"Iya. Pasti. Eh?" aku kaget.

"Hahahaha,"

"Hahahaha,"

"Aku tidur, ya?"

"Monggo."

And on, and on, and on. Capek dia, kasihan. Aku juga capek, kasihan, nggak? Nggak? Oke fine. Aku rebahan. Pikiran dan bayangan seketika memenuhi otak tanpa bisa antre. Sial. Nggak tahu dari mana datangnya, tiba-tiba aku berpikir bagaimana caranya agar aku bisa jadi anak seorang tentara. Biar bisa jadi seperti Sammy Notaslimboy atau Pidie Baiq. Oh, ternyata aku memang demikan. Aku anak kolong. Karena sudah tercapai apa yang aku ingin sebelumnya, kemudian aku berpikir bagaimana caranya agar bisa bikin video Q and A dengan Fathia Izzati. Oh, nggak mungkin. Bahasa Inggrisku jelek. Aku berpikir lagi. Kali ini bagaimana caranya agar aku bisa tidur. Karena aku belum ngantuk sedikitpun. 

Pukul 02.43. Senin. Giliran Angel dari Sarah McLachlan yang mengalun. Aku ingat soal helmku yang ketinggalan di bengkel waktu servis motor kemarin. Oh ya. I'll tell you something. Lanjutkan hidup. Jalani yang ada. Masa depan nanti aja. Intinya buat hari ini lebih baik dari kemarin. Soal masa depan enak, itu bonus. Ah. Itu kata-kata siapa, aku lupa. Intinya itu. Karena cerita ini nggak ada pesan moralnya, aku buat saja. Walaupun nggak nyambung sama cerita yang tadi di atas. 

Selebihnya, kalau punya ingatan yang kurang tajam sepertiku, menuliskannya kembali akan menjadi solusi terbaik. Kalau kata anak sekarang, Solusi yang hakiki. Apa itu artinya, aku nggak tahu.

Mari pejamkan mata dan tidur. 





Wednesday, 14 December 2016

Pergerakan Mahasiswa, Apa Kabar?

Apa itu “mahasiswa”?, siapakah yang disebut dengan “mahasiswa”? dan apa peran “mahasiswa”? Mahasiswa diartikan sebagai orang yang belajar di perguruan tinggi, baik di universitas, institusi, ataupun akademi. Mereka yang terdaftar sebagai murid di perguruan tinggi dapat disebut sebagai mahasiswa. Namun pada praktiknya, makna mahasiswa tidaklah sesempit itu.

Menjadi mahasiswa adalah bagian dari suatu proses untuk mematangkan pola pikir, mental dan keterlibatan dalam setiap aspek kehidupan bermasyarakat baik di kampus, lingkungan, atau pun tempat dimana mahasiswa akan menjalani kehidupannya nanti untuk memperjuangkan apa yang sudah dicita-citakannya. Namun, apakah semua itu sudah didapatkan setiap mahasiswa sekarang ini? Rasanya pertanyaan tersebut perlu dikaji kembali mengingat kehidupan mahasiswa di era sekarang sudah sangat jauh berbeda dan cenderung menyimpang. Melihat apa yang terjadi dalam pola kehidupan mahasiswa yang pada akhirnya memunculkan istilah mahasiswa kupu-kupu (Kuliah-pulang, kuliah-pulang) atau bahkan lebih ironis seperti, mahasiswa kupu-kupu mati (Kuliah-pulang, kuliah-pulang, makan-tidur).

Di sini kita ambil satu benang merah dalam bentuk pertanyaan, Kemana Gerakan Mahasiswa Sekarang? Di zaman pasca reformasi ini kebebasan bersuara sudah dibuka selebar-lebarnya yang sebelumnya menjadi hal yang tabu bahkan cenderung “haram”. Mereka yang ingin sekali bersuara akan dihadapkan dengan kekhawatiran akan ditangkap aparat, hanya tersisa nama, dan hilang entah kemana. Maka dari itu, bungkam dan diam melihat segala ketidakadilan, penindasan dan kesewenang-wenangan adalah pilihan terbaik. Tapi apa yang menjadi pertanyaan sekarang, pergerakan mahasiswa, apa kabar? Begitu banyak acara-acara yang bertemakan “nasional” yang sering diadakan mahasiswa, entah itu seminar, pertemuan-pertemuan dengan para tokoh-tokoh dari berbagai bidang, lomba-lomba yang diikuti sebagai perwakilan kampus, namun apakah itu semua berdampak bagi pergerakan mahasiswa? Apakah itu semua membawa keuntungan bagi arah gerak mahasiswa? Seringkali acara-acara seperti itu hanya sebagai ajang untuk eksistensi diri, kongkow-kongkow nasional, tanpa ada follow-up dan feed back yang jelas bagi kampus yang diwakilinya, ketika pulang ke kampus masing-masing.

Banyak sekali kita menemukan mahasiswa yang beranggapan bahwa dengan terlibat dalam sebuah organisasi hanya akan mempersulit kuliah, menghancurkan nilai akademik, dan hanya akan menambah beban orang tua karena aktif dalam organisasi hanya akan mengulur-ngulur waktu kuliah sehingga semakin banyak biaya yang terbuang percuma. Mereka tidak menyadari bahwa organisasi adalah wadah yang sangat baik untuk membentuk suatu karakter, melatih diri untuk tenang pada saat berbicara di depan banyak orang dan menanamkan sesuatu atau pengetahuan-pengetahuan yang bermanfaat di kemudian hari yang dimana kita akan memanennya dengan hasil yang manis dan memuaskan. Survey juga telah menyatakan bahwa pembesar-pembesar bangsa ini adalah mereka yang senang dan aktif dalam berorganisasi.

Sebenarnya, tidak bisa juga menyalahkan atau bahkan menghakimi mahasiswa-mahasiswa yang memilih untuk menjadi mahasiswa kupu-kupu tadi. Kita juga harus melihat kondisi kampus saat ini yang seakan-akan atau memang mengarahkan mahasiswa agar tidak berkencimpung, terlibat dan aktif dalam berorganisasi. Sistem dalam sebagian besar perguruan tinggi memang dirasakan sangat menekan pergerakan mahasiswa. Ambil contoh yang dirasakan oleh sebagian besar mahasiswa adalah biaya kuliah yang semakin tidak terjangkau karena tiap tahun biaya kuliah semakin tinggi, sehingga mau tidak mau mereka harus menenggelamkan diri pada akademik agar nilai yang mereka dapatkan bagus sehingga lulus tepat waktu. Mahasiswa juga dibebankan dengan SKS yang begitu padat ditambah tugas yang menggunung. Secara otomatis tidak ada waktu luang lagi bagi mereka untuk berorganisai. Hal ini menjadi semakin parah dengan dibatasinya masa studi mahasiswa maksimal tujuh tahun, dan apabila melewati waktu yang sudah ditentukan maka mahasiswa tersebut harus siap-siap menerima surat Drop Out. DAMN ONLY CRAP THIS IS SO SHIT AS HELL!!!

Melihat kondisi yang seperti ini, muncul pertanyaan, Akankah kebijakan NKK/BKK yang dahulu dikeluarkan oleh rezim orde baru kembali terulang pada masa sekarang ini? Kebijakan tersebut adalah kebijakan yang menempatkan pergerakan mahasiswa berada dalam satu wadah yang dikenal dengan organisasi cipayung yang bertujuan untuk menekan pergerakan mahasiswa agar tidak menyauarkan kritikan kepada pemerintah. Jadi sama seperti halnya sekarang, apabila ada mahasiswa yang berkecimpung atau aktif dalam suatu organisasi dan akan menjadi aktivis, maka akan menyulitkan bagi para kaum birokrat dan para pemangku kepentingan yang saat ini sedang berkuasa baik dalam tataran universitas maupun Negara. Dan rasa-rasanya dikotomi tersebut masih terasa sampai sekarang.

Namun apapun rintangan yang selalu menjadi penghambat geraknya seorang mahasiswa, seharusnya bisa mereka hadapi. Namun yang terjadi sekarang, mahasiswa “kalah” dengan kondisi yang ada dan cenderung menyerah. Bahkan waktu yang mereka miliki diisi dengan hal-hal yang bersifat non-produktif. Mahasiswa sekarang memang hanya dicekoki dengan kegiatan-kegiatan yang bersifat perayaan. Mengadakan seminar-seminar dengan mendatangkan pembicara-pembicara yang entah mereka dapatkan darimana dalam artian perlu dipertanyakan kapasitasnya. Dan apa yang mereka hasilkan? Hanya berorientasi pada piagam atau sertifikat tanpa mendapatkan pengetahuan yang jelas serta terbuai dengan harapan bahwa sertifikat yang mereka dapatkan akan membantu mereka dalam mendapatkan sebuah pekerjaan. Terlalu asyik dengan kegiatan-kegiatan layaknya Event Organizer. Mengadakan acara-acara ceremonial dengan mengundang bintang tamu terkenal serta target pemasukan yang harus dicapai tanpa tujuan yang jelas kemudian bubar. Arah gerak, peran mahasiswa, dan tridarma perguruan tinggi akan hilang selamanya apabila budaya seperti itu terus dilanjutkan. Kekecewaanlah yang tentunya dirasakan para Founding Father kita karena amanah yang mereka titipkan dan wariskan pada kita selaku mahasiswa tidak dijaga dan diterapkan.

Maka dari itu, marilah kita sebagai mahasiswa berpikir, menyadari, bangun dan bangkit! Mahasiswa bukanlah anak SD yang masih perlu mendapat bimbingan, arahan dan diperingatkan setiap hari. Mahasiswa bukanlah seorang yang apatis. Mahasiswa harus peka terhadap segala masalah sosial yang ada. Mahasiswa merupaka kaum middle, generasi intelektual, agen perubahan, bukan generasi yang hanya berfoya-foya tanpa peduli dengan persoalan sekitar. Teruskanlah perjuangan yang sudah dilakukan oleh pendahulu-pendahulu kita yang dengan gagahnya menyuarakan kritikan, berani aksi untuk menegakkan keadilan, berani bergerak walaupun dihantui berbagai ancaman. Berani mengorbankan segalanya demi terwujudnya sebuah perubahan kearah yang lebih baik. Mari sambut tongkat estafet yang sudah dimandatkan oleh para pendahulu. Jangan hanya diam dan apatis, lakukanlah sesuatu untuk bangsa dan Negara. Melawan bila kebijakan pemerintah dirasa menindas. Lawan segala bentuk ketidakadilan. Kobarkan semangat perjuangan. Turut serta berorganisasi dengan merangkul semua elemen masyarakat terkhusus mahasiswa agar terwujudnya tridarma perguran tinggi yang sudah kita tanamkan dalam hati sanubari.

Yanuar Firdaus, disadur dari Kompasiana.
Referensi, Kompasiana.com



Friday, 21 October 2016

Sepotong Senja Untuk Pacarku




Penulis : Seno Gumira Ajidarma
Desain Sampul : Suprianto
Penyelia Naskah : Mirna Yulistianti
Setter : Nur Wulan Dari
Cetakan Pertama Cover Baru : Februari 2016
Cetakan Kedua : Mei 2016
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama 
GM 615202014
ISBN 978-602-03-1903-2
Teks di Atas Judul-judul : Eddy Suhardy



"Cinta itu abstrak, pikirnya selalu, sepasang kekasih tidak usah selalu bertemu, selalu berciuman, dan selalu bergumul untuk mempersatukan diri mereka. Cinta membuat sepasang kekasih saling memikirkan dan saling merindukan, menciptakan getaran cinta yang merayapi partikel udara, meluncur dan melaju ke tujuan yang sama dalam denyutan semesta," (Hal. 103)


"Hujan itu mengikuti mobilnya sepanjang jalan, sepanjang jalan yang dilaluinya menjadi basah karena hujan, dan hanya jalan yang dilaluinya saja menjadi basah dan sejuk sebentar karena hujan yang turun ke bumi mengikuti dia atas nama cinta." (Hal. 103)


Sepotong senja untuk pacarku adalah sebuah komposisi dengan 16 variasi dalam tiga bagian. Diawali dengan Trilogi Alina yang berisi, 1. Sepotong Senja untuk Pacarku, 2. Jawaban Alina, 3. Tukang Pos dalam Amplop. Peselancar Agung, 1. Jezebel, Ikan Paus Merah; Kunang-Kunang Mandarin; Rumah Panggung di Tepi Pantai; Peselancar Agung; Hujan, Senja, dan Cinta; Senja Hitam Putih; Mercusuar; Anak-Anak Senja; Senja yang Terakhir; serta Atas Nama Senja yang berisi, Senja di Pulau Tanpa Nama; Perahu Nelayan Melintas Cakrawala; dan Senja di Kaca Spion. 

Hampir semua cerita menyajikan senja yang begitu lengkap. Pada cerita pertama yaitu, Sepotong Senja untuk Pacarku, bercerita tentang seorang laki-laki yang mengirimkan surat untuk pacarnya. Bukan sembarang surat, namun ia mengirim serta senja yang ia curi. Senja yang begitu indah itu dengan berani ia curi lalu ia simpan dalam kantongnya. Keadaan menjadi kacau  dengan hilangnya senja karena telah dicuri oleh laki-laki itu. Karena tidak ada lagi tempat yang indah. Tempat yang paling cantik untuk berfoto, dan tempat yang paling nyaman untuk menikmati matahari tenggelam di balik cakrawala. Drama kejar-kejaran antara polisi dan si pencuri senja pun terjadi. 

Lantas apakah si pencuri senja itu tertangkap? Sementara polisi telah mengerahkan helikopter untuk mencari si pencuri itu. Mungkin akan lebih baik apabila pada suatu senja, dengan ditemani secangkir teh atau kopi hangat, anda membaca buku ini dan menikmati setiap keindahan senja yang digambarkan dengan begitu indah.

Dan yang menarik adalah, pada lembar terakhir ada seorang pembaca yang mengirim e-mail pada penulis tentang ucapan terimakasih karena dari buku ini, si pembaca dapat menikmati senja yang begitu indah. Itu karena dari kecil si pembaca tidak dapat melihat senja. Mengapa demikian? Silakan tebak, duga atau apapun. Bagaimana seseorang tidak bisa menikmati senja sementara senja adalah suatu anugerah alam yang bisa dilihat, dinikmati tanpa kita harus membayar?

Tapi dengan buku ini, siapa pun yang tidak bisa menikmati senja, tidak perlu lagi berkecil hati. Semua tergambarkan dengan jelas. Senja hadir dengan apa-apa yang menjadi pelengkap dan menambah pesona bagi siapa pun yang membacanya.






Saturday, 15 October 2016

Lisa. . . Adik tingkatku.




Memang hujan selalu saja mengerti situasiku. Aku rasa aku perlu berterimakasih dan membuat acara syukuran kecil-kecilan dengan mengajak semua tetangga kamar kostku makan-makan di warung Bu Estri. Bagaimana tidak, sebelum hujan turun, aku baru saja makan berdua dengan Lisa dan mengajaknya jalan-jalan keliling kota. Walaupun sebenarnya bukan dalam suasana sengaja karena sebelumnya, Lisa meminta tolong untuk diantarkan ke rumah Bu Zum, Kaprodi kami. Katanya, ada suatu urusan yang penting. Apapun urusannya, untuk menolak, bagiku sangat-sangat mustahil.

Empat jam sudah kuhabiskan waktu bersamanya untuk kemudian mengantarnya pulang dan ditutup dengan serbuan hujan. Hujan deras seperti ini akan sangat hidmat menemani tidur bersama bayangan Lisa yang selalu memenuhi pikiranku. Tapi kuurungkan niat itu karena hujan setengah lima sore seperti ini lebih istimewa bila kunikmati dengan menyeruput kopi panas dengan diiringi lagu-lagu cinta Daniel Sahuleka. Oh, aku rasa ini perlu, rokok kretek akan lebih afdal tentunya.

Kehadiran Lisa memang sangat menghiburku yang sedang dalam kondisi tak menentu setelah beberapa bulan lalu Wina, pacarku, dan ibunya tiba-tiba datang ke kostku tanpa basa-basi memaksaku untuk mengakhiri hubunganku dengannya. Waktu itu kulihat kesedihan di wajah Wina sangat jelas dan ia hanya bisa menunduk tanpa sekalipun melihat ke arahku. Aku hanya ingat beberapa kata dari Ibunya bahwa sebentar lagi Wina akan dilamar oleh anak dari teman ibunya. "Baik," kataku. Tanpa kutanyakan pendapat Wina yang menjadi pihak utama lainnya dalam hubungan ini. Bukan maksudku menyerah, hanya saja, diamnya Wina kuanggap sebagai suatu sikap persetujuan karena memang setelah orangtua Wina tahu bahwa anaknya akan wisuda lebih dulu dariku, sikap mereka menjadi sangat berbeda. 

Itu yang aku rasakan saat Wina wisuda satu tahun lalu. Ketika itu aku ditemani Yuda, teman kostku yang sama-sama belum wisuda, hadir paling awal dan membawa boquet bunga untuk kuberikan pada Wina sebagaimana layaknya orang kebanyakan. Bunga itu sudah kupesan sehari sebelumnya di toko bunga "Laras" depan hotel Dinasty Purwokerto. Toko bunga langganan kami, aku dan Wina. Aku tunggu sampai akhirnya Wina dan kedua orangtuanya keluar dari gedung tempat acara wisuda.

Dari riuhnya peserta wisuda, kulihat Wina berjalan diiringi kedua orangtuanya. Om Irfan terlihat memakai setelan jas dengan dasi berwarna biru. Gagah. Aura bos memang tidak bisa dipisahkan dari sosoknya. Sementara Tante Santi sangat terlihat anggun. Berbalut tunik batik hitam, beliau terlihat sangat berwibawa. Kami, aku dan Yuda berjalan perlahan menuju gedung tempat wisuda. Ada rasa gemetar. Sedikit.

"Wina beruntung. Orangtuanya tajir," Ucap Yuda setengah berbisik.

"Mungkin. Yang aku tahu, bapaknya kepala cabang. Itu, Bank depan kampus kita." Jawabku.

"Oh, di situ kantornya?"

"Bukan. Terakhir Wina cerita, bapaknya baru mutasi. Kalau nggak salah di Magelang."

Langkahku semakin dekat ke arah Wina dan orangtuanya. Yuda masih mengawang-awang dan bertanya entah kepada siapa, berapa kira-kira gaji Om Irfan. Segera aku raih tangan Tante Santi, kusalami untuk kemudian berganti menyalami Om Irfan, menanyakan kabar sebagai bentuk hormat. Tidak ada senyum ataupun bertanya balik kepadaku. Singkat dan terkesan kaku. Pandanganku beralih ketika Wina menghampiriku.

Wiiih cantik amat wisudawan satu ini. Selamat ya,” Aku menyelamati kelulusan Wina sembari kuserahkan bunga sebagai tanda suka cita.

Kok wisudawan?" tanya Wina.

“Eh? Harusnya?" jawabku sekaligus balik bertanya.

“Wisudawati, dong. Kan cewek"

“Oh iya. Rada jarang dipakai sih, tapi baik. Aku ulang. Cantik amat wisudawati satu ini. Selamat ya,"

"Hehe, iya makasih. Kamu cepet-cepet nyusul, ya?"

"Hehe. Bismillah. Doain,"

Hey, Anwar. Kok kamu ndak pakai toga seperti Wina gini?” sergah Om Irfan, ayah Wina, menyindirku dibarengi dengan asap rokok yang keluar dari mulutnya. “Kamu baca, Anwar. Tuh, Cumlaude.” Tambahnya.

“Saya nanti, Om, semester berikutnya. Semoga dikasih umur panjang. Minta doanya, Om. Biar Wina dulu yang wisuda.” Kujawab seadanya supaya Om Irfan tidak menyinggung hal itu lebih jauh.

“Masak kuliahnya masuk bareng, keluarnya sendiri-sendiri. Awas, tahu-tahu DO lho.”

“Minta doa, Om. Bukan DO."

“Anwar tinggal skripsi saja, Ayah. Semester depan juga dia wisuda.” Ujar Wina membelaku.

Aku tahu Wina sedang berbohong. Ia tidak ingin aku terlihat bodoh di depan orangtuanya. Karena sebenarnya jangankan mengerjakan skripsi, judul skripsi yang aku ajukan saja sudah tiga kali ditolak. Kata-kata Om Irfan entah mengapa membuat aku sedikit tersinggung waktu itu. Kalau saja Om Irfan bukan ayah Wina, mungkin sudah aku rebut rokoknya untuk kemudian kulempar ke kepalanya yang botak itu. Om Irfan yang dulu sangat baik padaku tiba-tiba sikapnya berbalik arah.

Mereka berfoto dengan teman, keluarga dan wisudawan yang lain, setelah menunggu antrean panjang. Hari itu adalah hari raya bagi para pemotret wisudawan. Dengan background kain bergambar buku-buku, mereka yang wisuda berpose dengan bahagia yang sempurna. Suasana kaku aku rasakan selama  menunggu mereka berfoto. Lidahku kelu, hanya bisa memandangi senyum, tawa dan antrean panjang mereka yang menunggu giliran berfoto. Begitu kontras terasa. Hanya arak-arakan teman-teman mahasiswa dari jurusan teknik yang bisa memecah perasaan sedihku, walau sebentar.

"SOLIDARITY FOREVER!!!" teriak barisan mahasiswa teknik mesin. Kulihat teriakan itu dikomandoi oleh si Farid. Teman sekaligus tetangga kamar kostku.

Sampai pada saat Wina mengajakku untuk berfoto dengan ayah dan ibunya. Kulihat Om Irfan sedang menerima telpon entah dari siapa. Sementara Tante Santi, istrinya, kulihat berbincang dengan sesama wali wisudawan. Aku menolak ajakan Wina untuk ikut berfoto walaupun sebenarnya aku sangat ingin. Untungnya, Wina terus memaksaku. Ia menarik tanganku dan berjalan ke arah orangtuanya.

“Ayah, ibu, foto satu kali lagi ya. Kali ini sama Anwar.” Ujar Wina.

“Sepertinya kapan-kapan saja, Nduk. Ini Ayah baru ditelpon teman. Ada urusan penting katanya.”

“Sama. Ibu juga sudah ada janji. Tante Rima, itu lho Nduk, yang kemarin ibu cerita ke kamu. Dia mau datang dengan anak laki-lakinya yang baru pulang dari Jerman. Sekarang mereka di Meteeor. Nunggu kita,” UcapTante Santi. “Kami duluan ya, Nak Anwar. Ayok, Nduk.” Imbuhnya sambil bersiap untuk pulang. Kalau kalian ingin tahu, Meteeor yang dimaksud Tante Santi adalah restoran di Jalan Jenderal Sudirman. Dekat Hero Housewares.

“Oh iya, Om, Tante, silakan. Sampaikan salam saya ke anaknya teman Tante yang dari Jerman itu. Hati-hati, selamat siang Om, Tante. Kami juga permisi.” 

Wina hanya bisa menatapku tanpa bisa menolak ajakan Ibunya. Aku merasakan ada rasa tidak enak hati dalam dirinya. Itu juga yang membuatku akhirnya memilih untuk permisi agar tidak ada semacam konflik di hari kelulusan Wina. Hari yang menurutku harus diisi dengan penuh tawa, bahagia dan kelegaan. Aku tidak ingin mengambil peran sebagai perusak masa-masa itu walaupun sebenarnya aku ingin merayakan lebih lama dengan Wina. 

Berantakan sudah harapanku yang hanya ingin sekedar foto bersama pacar dan kedua orangtuanya. Boro-boro foto dengan orangtuanya, foto berdua dengan Wina saja aku tidak sempat. Besoknya, Wina menemuiku dan meminta maaf atas sikap kedua orangtuanya. Dan entah mengapa sikap Wina juga semakin dingin dan perlahan menjauh dariku. Hubungan kami semakin dingin. Sampai akhirnya kami putus, maaf kuralat, kami diputuskan oleh orangtua pacarku sendiri. Hari-hari selanjutnya berulang kali kucoba menghubungi Wina tapi tidak ada respon. Maka semenjak saat itu, hari-hariku juga berubah sepi.

***

Tapi masa-masa itu sedikit demi sedikit menguap dari ingatanku seiring dengan kehadiran Lisa. Apalagi saat hujan seperti ini. Kubuka jendela kamar agar hujan bisa mencium aroma kopi yang baru saja kubuat. Rokok kretek empat batang sisa jalan-jalan bersama Lisa tadi, kuambil satu dan kunyalakan. Poster Jimmi Hendrix saat tampil di Woodstock yang kutempel di dekat jendela pun seolah tahu suasana hatiku dan ingin ikut serta melengkapi dengan atraksi gitarnya. Terimakasih Jimmi. 

Lisa adalah mahasiswi di jurusanku dan sekarang dia semester tujuh. Jangan tanyakan sekarang aku semester berapa. Karena aku sama sekali sedang tidak ingin membahas hal itu. Lisa saja yang sedang ingin kubahas. Aku sudah jalan dengannya sekitar empat kali sejak perkenalan di acara Bulan Seni fakultas satu bulan lalu. Itu terjadi karena kami sama-sama menjadi pengisi acara. Lisa tampil dengan membawakan puisi berjudul "Nyanyian Angsa" karya W.S Rendra. Yang menjadi pertanyaan adalah, kemana saja aku selama ini? Sampai-sampai aku tidak menyadari bahwa ada perempuan jelita di jurusanku! Bila kau tahu Paramitha Rusady, begitulah, kira-kira gambaran wajah Lisa.

Sangking khusuknya aku mengingat-ingat kembali semua yang sudah aku lakukan dengan Lisa, tak terasa rokokku semakin pendek dan baru kusadari setelah jariku terasa panas. Aku buang puntung rokok itu, kemudian kusambung lagi dengan rokok kedua. Semakin dalam aku membayangkannya, semakin hilang sosok Wina yang lama memenuhi pikiranku. Aku juga baru sadar rupanya hujan turun semakin deras. 

Masih bisa kuingat dengan jelas saat pertama kali kuajak Lisa jalan. Malam sebelumnya, dia bertanya apakah aku masih punya buku salah satu mata kuliah yang wajib untuk dibawa. Tentu saja aku masih punya karena aku mengulang mata kuliah itu. Untungnya, aku tidak satu kelas dengan Lisa. Perkara nanti bila aku membutuhkannya, itu soal gampang. Aku bisa pinjam ke Yuda. Akhirnya, kupinjamkan buku itu pada Lisa dengan syarat dia harus mau kuajak makan lumpia boom di depan hotel Aston Purwokerto yang sedang dalam proses pembangunan. Lisa setuju dengan syarat itu dan bingo! Ini saat-saat yang paling kutunggu.

Setelah hampir sehari penuh jalan-jalan, akhirnya kuantar Lisa pulang. Dari depan rumahnya, kulihat ada seorang ibu-ibu yang sedang membopong bayi. Aku mengira-ngira itu ibunya dan bayi yang dibopong itu mungkin keponakannya. Karena Lisa pernah bercerita kalau ia punya kakak perempuan yang bekerja di salah satu bank swasta nasional. Lisa menawariku untuk mampir tapi kutolak karena aku sudah ada janji dengan Yuda untuk menghadiri agenda diskusi formalitas bersama organisasi yang aku ikuti. Sebenarnya, aku lebih tertarik menerima ajakan Lisa. Tapi, Yuda sudah menunggu di kostku dan itu harus aku tepati. Setelah melihat Lisa masuk, segera kutancap gas setelah sebelumnya kulemparkan senyuman pada ibu-ibu yang sedang membopong bayi itu, dan ia pun membalasnya. Terimakasih, calon mertua yang baik!

Hari-hari berikutnya aku seperti terlahir kembali. Walaupun tidak ada kuliah, setiap hari aku bangun pagi untuk kemudian berangkat ke kampus hanya ingin bertemu dengan Lisa. Harus aku akui, Lisa memang perempuan yang menurutku baik, cantik, dan memiliki tanggungjawab. Aku memang belum mengungkapkan perasaanku padanya karena aku tidak ingin terburu-buru. Lagi pula baru sebentar aku mengenalnya. Aku takut kalau sampai Lisa merasa bahwa aku terlalu agresif. Sampai pada saat dimana Lisa bertanya padaku ketika  di atas motor dalam perjalanan pulang setelah bersama-sama menghadiri acara.

“Kamu kok masih betah aja di kampus?”

Ternyata Lisa pintar dalam menyederhanakan bahasa. Tapi kalau dia bertanya, ”Kok kamu nggak lulus-lulus?” pun aku tidak akan tersinggung. Maka kujawab dengan sedikit menggombal.

“Gimana nggak betah, kan ada kamu. Hehe.”

“War, Anwar. Aku aja ingin cepet lulus.”

“Hehe.”

“Ih ketawa mulu. Kuliah yang bener, War. Jangan sering bolos.” Kata Lisa memberi ceramah.

“Iya, Sa. Bismillah. Judul skripsiku kemarin sudah di acc lho.”

“Serius? Selamat ya.”

“Hehe.”

"Eh, mampir toko deket pasar manis ya, War. Aku ada beli keperluan."

"Apa? Pasar Lisa manis?" Sedetik kemudian aku merasakan ada sakit di punggungku. Lisa mencubitku lumayan keras.

"Pasar manis, War."

"Iya. . . iya. Toko Mas Deden?"

"Iya, kok kenal?"

"Yah, Sa. Ini Purwokerto, Sa. Bukan Rusia."

"Gede banget kalo Rusia, War."

"Makanya."

Kukira dia akan menyinggung soal apa tujuanku melakukan pendekatan kepadanya. Tapi itu bukan masalah bagiku. Karena suatu saat aku akan mengungkapkan perasaan ini tanpa Lisa harus menyinggungnya lebih dulu. 

Lisa. Monalisa, Lisa A. Riyanto, Lisa Marie Presley, Lisa Kudrow, Lisa Kleypas, Lisa Bonet, Lisa Simpson, Lisa Ono, Lisa Natalia, Lisa Patsy. Biarlah mereka dengan kehidupannya sebagai seorang Lisa yang lain. Tapi aku berharap kamu tetap jadi Lisa yang bisa kuajak jalan. Lisa yang sering kali menyanyikan “I’ll Be There” dan menurutku lebih bagus dari Mariah Carey. Lisa yang bila kuantar pulang, selalu minta untuk mampir sebentar ke mini market untuk membeli susu dan popok. Benar-benar keponakan yang beruntung punya tante sebaik Lisa. 


***

Aku masih dengan posisi seperti tadi. Duduk menghadap jendela, menikmati kopi dan merokok kretek. Dari kaset album Daniel Sahuleka yang kuputar, gilirian lagu "Don't Sleep Away This Night" melantun merdu. Aku ikut bernyanyi dengan mengganti sedikit lirik pada bagian reff, Don't sleep away this night my Lisa. . . . . . 

Langit mendung ditambah pikiranku yang melayang jauh bersama Lisa, ternyata mampu membuatku lupa waktu. Tak terasa ternyata jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam ketika kunyalakan telepon genggamku. Kuletakkan kembali dan selang beberapa detik ada panggilan masuk. Ternyata Lisa! Lisa menelponku!

"Hallo? War? Anwar?"

Terdengar suara Lisa dari seberang sana. Tapi kenapa nada suaranya seperti orang panik?

"Hallo," kataku. "Kenapa, Sa?"

"War tolong aku, War. Kamu ke rumah sekarang! Cepat tolong antar aku ke rumah sakit."

"I. . .iya, tapi siapa yang sakit?"

Tut, tut, tut. 

Aku ikut panik karena tiba-tiba Lisa mematikan teleponnya. Segera kuambil kunci motor dan mantel kemudian langsung tancap gas menuju rumah Lisa di daerah Jalan Gereja. Dari tempat kostku yang berada di perumahan Purwo Kencana, perlu waktu sekitar sepuluh menit untuk sampai rumahnya. Benar. Sekitar sepuluh menit kemudian aku sudah sampai di depan rumah Lisa. Aku langsung masuk karena gerbang rumahnya tidak dikunci. Setelah kuparkirkan motorku di depan teras dan melepas mantel, segera aku menuju pintu dan mengetuknya. 

"Assalamu'alaikum, Sa,"

"Wa'alaikumsalam," terdengar jawaban dari dalam rumah. Pintu pun terbuka. 

"Alkhamdulillah, Nak Anwar. Maaf ya, Nak, jadi merepotkan Nak Anwar," Ibunya Lisa menyambutku dengan sikap panik. 

"Siapa yang sakit, Tante?"

"Ayok cepat, Bu," tiba-tiba Lisa keluar dari kamar diikuti mbak-mbak, kulihat lebih tua dari Lisa, membawa tas lumayan besar. "War, kamu bisa nyetir mobil, kan? tolong antar kami ke rumah sakit," kata Lisa sambil memberiku kunci mobil. Kulihat Lisa sangat panik dan tergesa-gesa. 

Aku berlari menuju mobil sedangkan Lisa kembali ke kamar. Beberapa menit kemudian Lisa keluar sambil membopong bayi bersama ibunya. Mbak-mbak yang tadi membawa tas, memayungi mereka dari belakang dan berjalan menuju gerbang setelah Lisa dan ibunya masuk mobil. 

"Rumah Sakit Bunda Arif, Nak Anwar," Kata Ibunya Lisa yang tidak sempat kuketahui siapa namanya. 

"Rada cepet ya, War," Lisa menambahi. 

"I. . . i. .iya, Sa."

Sepanjang jalan aku hanya fokus menyetir untuk bisa cepat sampai rumah sakit. Lisa terlihat sedih dan paniknya belum juga menghilang. Aku bingung. Sementara Ibunya mencoba menenangkan Lisa dan sesekali berkata, "Hati-hati, Nak Anwar."

Sesampainya di rumah sakit, dengan buru-buru, aku turun memanggil perawat dan kembali lagi ke mobil. Dari dalam mobil, ibunya Lisa memberiku payung lalu kubuka pintu untuk Lisa dan ibunya keluar. Perawat dengan segera membawa Lisa dan si bayi itu menuju ruang pemeriksaan. Hujan belum juga memberi tanda akan reda. 

Aku dan ibunya Lisa duduk menunggu di kursi depan ruangan pemeriksaan. Aku bingung bagaimana harus membuka obrolan dengan beliau. Karena memang baru kali ini aku bertemu dan entah mengapa harus dalam keadaan seperti ini. Tapi bila kulihat-lihat ibunya Lisa terlihat masih muda walaupun beliau sudah punya cucu. Kulihat tangannya sibuk mengetik pesan. Mungkin sedang memberi kabar pada kakaknya Lisa bahwa anaknya masuk rumah sakit. Karena semenjak tadi aku tidak melihat kakaknya Lisa. Setelah berhenti mengetik pesan dan melepas kacamatanya, ibunya Lisa mencoba membuka obrolan denganku. 

"Nak Anwar. Tante terimakasih banyak sudah mau direpotkan. Maaf ya, Nak Anwar," katanya. 

"Waduh, nggak apa-apa, Tante. Saya senang bisa membantu. Hanya tadi saya panik waktu Lisa tiba-tiba menelpon. Memangnya kalau boleh tahu, itu dedeknya kenapa, Tante?"

"Itu tadi sore waktu Lisa baru pulang si Adi sudah agak panas badannya," ujarnya. Aku jadi tahu ternyata nama bayi itu Adi. "Tapi tadi sekitar habis maghrib badannya makin panas. Lisa panik dan langsung telpon kamu, Nak. Karena walaupun di rumah ada mobil, tapi yang bisa nyetir cuma Bunga, anak tante yang pertama, tapi dia sedang ada urusan di luar kota. Ini barusan tante kasih kabar ke dia." Lanjutnya.

"Iya, Tante. Harus dikasih kabar. Mbak Bunga harus tahu kalau anaknya sakit," kataku.

"Lho? Bukan, Nak. Adi bukan anaknya Bunga. Bunga belum menikah. Tante juga heran, dia belum kepengin nikah. Malah makin betah sama kerjaannya."

Mendengar hal itu aku terkejut. Aku diam untuk beberapa saat. Kalau Bunga belum menikah, lalu siapa orangtua Adi? Apa mungkin Adi adiknya Lisa? Apa mungkin, Lisa punya kakak lain selain Bunga? Aku mengambil kesimpulan bahwa Adi adalah anak kakaknya Lisa yang lain.

"Adi itu anaknya Lisa, Nak Anwar. 

"Anaknya Lisa, Tante?" tanyaku tersentak tak menyangka. Tapi sebisa mungkin kukendalikan sikapku.

"Iya, Nak. Lisa ndak pernah cerita, to? Lisa memang begitu, Nak. Dia pernah bilang ke Tante kalau dia tidak akan memberi tahu kepada teman-teman kampusnya bahwa ia sudah menikah. Karena Lisa takut kalau teman-temannya tahu, mereka akan bersikap berbeda. Takut kalau mereka akan berpikiran bahwa ndak enak mengajak main orang yang sudah mempunyai suami. Apalagi punya anak seperti Lisa. Lisa menikah saat umurnya dua puluh tahun. Kira-kira semester empat. Sempat cuti kuliah juga, Nak. Tapi teman-temannya ndak ada yang tahu. Tahunya Lisa cuti karena ingin mengurus bisnis ayahnya yang meninggal sebelum Lisa masuk kuliah. Suaminya itu polisi, sekarang tugas di Semarang. Makanya tante suruh Lisa tinggal di rumah tante. Kasihan dia. Harus kuliah, ngurus anak juga." Jelas ibunya Lisa. 

Selama ibunya Lisa menjelaskan panjang lebar tentang Lisa, aku sama sekali tidak memperhatikannya. Pikiranku kacau. Berantakan. Tak bisa berpikir jernih. Aku hanya memandangi beliau dengan tatapan kosong. "Suaminya tugas di Semarang ya, Tante." Hanya kalimat itu yang keluar dari mulutku. Gemetar, Lirih, tak bertenaga, dan sumbang.