1.
Aku tidak jadi pulang hari ini setelah memutuskan untuk tidur seharian di kamar kos berukuran tiga kali empat meter ini. Jam dua belas siang, Gagas, kawanku, berpamitan untuk pulang oleh sebab rindu ibunya dan untuk meminta uang. Anak yang baik dia. Aku harap aku pun begitu.
Masih dalam suasana capek karena baru semalam tiba di kamar kos pukul setengah dua belas malam dalam rangka mendukung tim pekan olahraga se Jateng-DIY yang diselenggarakan oleh kantor wilayah tempatku bekerja. Dan Semarang, aku rasa aku perlu mengucapkan terimakasih untuk sambutannya yang hangat dan sejuk karena mendung. Untuk tim futsal putri, aku juga ingin mengucapkan terimakasih karena sudah menebarkan keharuman untuk nama baik kantor dengan menjadi peringkat kedua. Rasanya itu perlu mendapatkan apresiasi walaupun tidak menjadi juara satu. Karena olahraga mah apa saja yang penting capek dan berkeringat. Soal peringkat, masih ada tahun depan dengan semangat yang besar dan uang akomodasi tentunya.
Sebelumnya, aku meminta ijin dengan memberi kabar pada Bapak dan Ibu di rumah oleh sebab aku tidak pulang.
"Kulo mboten wangsul, Pak", Pesanku. Yang artinya, "Saya tidak pulang, Pak". Seperti biasa, Bapak tidak langsung membalas pesan yang kukirim.
Selanjutnya, kamar menjadi gelap karena selain turun hujan, ternyata aku tertidur. Begitu nikmat memang. Dan si Amad, tetangga kamar sebelah, menyudahi kenikmatan tidurku dengan masuk ke kamarku untuk meminjam korek. Sekalian rokoknya. Aku bilang silakan. Dilanjutkan dengan ngobrol tentang Erwin Gutawa, Purwacaraka, Oni n Friends, dan Dian PP. Entah kenapa tiba-tiba ngobrolin mereka. Padahal aku masih dilindungi oleh rasa kantuk. Aku bilang ke si Amad untuk sama-sama mengucapkan Al-Fatihah. Dia bingung. Aku bilang bahwa Dian PP baru saja berpulang.
"Yasudah. Ayok. Kamu duluan". Kata Amad.
"Apanya?"
"Katanya mau Al-Fatihah".
"Barengan" Kujawab.
"Oke"
Untuk Dian PP semoga pahala dan amalnya diterima oleh Allah. Aku sangat kagum dengan beliau. Beliau keren.
"Masih ujan, Mad?"
"Masih. Masih hari Minggu juga. Tenang saja".
"Oh. Oke. Besok Mingu lagi bisa nggak?" Tanyaku.
"Nggak bisa. Nggak bisa kompromi sama hari. Tapi kalau ingin bolos, itu masih bisa nego".
"Oke. Aku mau berangkat aja. Biar bisa ketemu sama Mbak Lastri. Kamu tau? Mudah-mudahan nggak".
"Siapa?"
"Nasabah"
"Cantik?"
"Cantik. Orang Jawa Timur. Tapi sekarang jadi warga sini. Ngomongnya kayak bule-bule gitu. Aku suka kalau dia sedang ngomong"
"Aku juga"
"Kamu belum pernah ketemu"
"Nggak apa-apa. Aku senang kalau kamu senang"
"Anjing. Ha ha ha"
Dan Amad berpamitan. Katanya mau besuk budhenya yang sedang sakit di Cilacap sana. Aku bilang hati-hati dan kutitipkan salam untuk budhenya. Semoga lekas sembuh dan gembira kembali.
2.
Ini masih bulan Januari. Dimana beberapa hari penuh dengan hujan dan sedikit dingin. Dan aku putuskan untuk pergi sembari membawa laptop untuk ke kedai kopi. Kata kawanku, ada kedai kopi baru di dekat Moro. Akan aku ceritakan apa itu Moro. Aku harap kalian belum tahu apa itu Moro. Supaya tidak sia-sia waktu aku menjelaskan.
Moro adalah pusat perbelanjaan di Purwokerto yang sangat terkenal. Letaknya di Jalan Perintis Kemerdekaan. Di daerah Purwokerto Selatan. Dulu ramai tiap hari dikunjungi oleh manusia. Karena sepertinya, hewan dilarang masuk. Sekarang masih lumayan ramai. Tapi agak sedikit berkurang oleh karena sudah ada Rita Supermall yang letaknya berseberangan dengan Alun-alun kota.
Dulu, waktu masih SD kalau tidak salah, untuk pertama kali, Bapak mengajak aku dan mbak ke Moro untuk beli barang-barang yang akan dijual kembali di warung. Kalau di sini, istilahnya "Kulak". Yang nyuruh tentunya si Ibu, karena selain menjabat sebagai manager rumah tangga, ibu juga merangkap jabatan sebagai Direktur Utama untuk warung yang menempel di depan rumah. Tapi aku lupa kenapa Ibu waktu itu tidak ikut. Waktu itu Purwokerto rasanya masih sepi. Belum banyak kendaran seperti sekarang. Kalau tidak salah Bupatinya masih Pak Aris Setiono. Untuk wakilnya, aku lupa. Bukan bermaksud cuek. Tapi benar-benar lupa.
3.
Dan itu adalah kedai kopi yang tadi diceritakan oleh kawanku. Masih pukul setengah tujuh petang. Suasananya cukup tenang untuk bagian ruangan yang bukan untuk perokok. Tapi sebaliknya, di bagian untuk perokok, suasananya cukup ramai. Aku memilih untuk duduk tepat di depan pintu masuk. Di bagian ruangan untuk perokok. Di samping tempat yang aku duduki, ada sekumpulan ABG. Sangat ramai. Cenderung berisik dengan membawa speaker sendiri sebagai pengeras musik yang mereka putar. Tentu sangat asyik bagi mereka dalam rangka merayakan usia muda untuk bersenang-senang dan penuh kegembiraan.
Aku memutar musik lewat laptop yang kubawa. Kupilih lagu-lagu dari Ebiet G. Ade yang dicover oleh penyanyi-penyanyi yang aku tidak tahu namanya. Sebagai salah satu cara untuk menghormati Bapak karena beliau sangat mengagumi Ebiet. Oh, iya. Aku menggunakan Earphone.
Untuk beberapa saat aku melihat ke arah pintu masuk. Anak-anak muda mulai berdatangan untuk menikmati kopi dan sekedar menghabiskan waktu untuk memanfaatkan WiFi gratis yang disediakan oleh kedai. Dan aku kaget ketika menyadari tiba-tiba ada seorang perempuan duduk di kursi tepat di sampingku. Oleh karena aku sedang fokus membaca artikel, untuk beberapa menit aku tidak menyadari keberadaan perempuan itu. Dia hanya tersenyum ketika aku menghadap ke arahnya.
"Serius banget si, ah" Katanya. Ada sedikit tawa di wajahnya.
"Eh! Kamu? udah lama?" Kutanya sambil melepas earphone.
"Udah. Udah hampir dua puluh tiga tahun di Purwokerto" Jawabnya.
"Ha ha ha. Apa kabar?"
"Siapa?"
"Kamu, dong"
"Baik. Masih perempuan". Dia tersenyum.
"Ha ha ha. Oke"
"Lagi ngapain, sih?"
"Sebentar. Sama siapa ke sini?"
"Sama teman. Tuh!". Dia menunjuk ke arah bagian ruangan bukan untuk perokok. Ada dua orang di sana yang tidak kukenali. Laki-laki dan perempuan.
"Teman kampus?"
"Iya"
"Nggak apa-apa di sini?" Maksudku, aku menanyakan apakah tidak apa-apa duduk berbeda ruangan dengan temannya. karena aku merasa tidak enak dengan mereka.
"Nggak apa-apa. Tadi kita baru dari Elisabeth".
"Oh. Beli tas?"
"Ha ha ha. Bukan. Itu mah Elizabeth. Pake Z".
"Oh. Ha ha ha. Kirain. Siapa yang sakit?"
"Ada. Ibunya temen. Udah mendingan. Besok udah boleh pulang"
"Alkhamdulillah"
Elisabeth yang dia maksud adalah Rumah Sakit Santa Elisabeth. Dulu, kalau tidak salah lokasinya di Jalan Gatot Subroto. Dekat dengan SMP Susteran. Kemudian tahun 2012, di saat beberapa orang sedang ketakutan oleh sebab adanya ramalan bahwa di tahun itu akan terjadi kiamat, dengan rasa syukur dan gembira, Rumah Sakit Santa Elisabeth berpindah lokasi di Jalan Dokter Angka. Sedangkan Elizabeth yang aku maksud adalah toko yang menjual berbagai macam tas, dompet baju dan banyak. Lokasinya di Jalan Merdeka. Dan sepertinya dikhususkan untuk perempuan. Kalau tidak salah. Mohon dimaafkan.
"Iya. Itu, mereka tuh pacaran. Akunya juga bakal dicuekin" Jelasnya.
"Oke. Biarin mereka pacaran"
"Iya. Eh, belum dijawab tadi. Lagi ngapain? Sendirian lagi!"
"Ini, lagi baca-baca. Tadinya mau pulang ke rumah. Tapi nggak jadi. Hujan. Takut basah" Jawabku.
"Pulang lah. Kan ada mantel. Nggak kangen Ibu, Bapak?"
"Udah minggu kemarin. Kita lama nggak ketemu. Kamunya sibuk"
"Sibuk kentut. Kamu tuh kerja mulu!"
"Ha ha ha. Biar kaya"
"Udah?" Maksudnya, dia menanyakan apakah aku udah kaya?.
"Belum. Doain aja. Lagi nabung tipis-tipis. Jajannya yang tebel-tebel"
Dia ketawa untuk kemudian pamit sebentar untuk mengambil kopinya yang di antar ke meja dimana temannya duduk. Aku lihat dia seperti meminta ijin untuk beberapa waktu duduk bersamaku. Karena dari tempatku, aku bisa melihat dia memberi isyarat dan menunjuk ke arahku.
"Eh, kita kapan ya terakhir ketemu?" Tanyanya sesaat setelah duduk dan menaruh cangkir kopinya di meja dan juga sebungkus rokok yang belum dibuka.
"Itu, di nikahanya si Mila"
"Tahun berapa, tuh?"
"2016 kalau nggak salah", Jawabku.
"Oh, ya? Lama juga ya?"
"Iya. Kan udah punya anak juga dia"
"Hmm"
"Udah gede". Jelasku.
"Aku lagi males ngerjain skripsi". Tiba-tiba wajahnya mendadak seperti yang sedang capek. "Eh, kan koreknya lupa!". Tambahnya.
"Lha ini korek. Pake aja". Seruku.
"Oke"
"Yasudah. Kalau males, istirahat aja dulu"
"Kelamaan istirahat malah jadi nggak kepegang"
"Ha ha ha. Harus kelar"
"Iya. Doain, ya". Katanya sambil menyalakan rokok. Aku hanya ketawa dan mengangguk untuk mewakili jawaban, "Iya. Aku doain".
"Ngerokok lagi? Tanyaku. Untuk sekedar mengkonfirmasi. Karena dulu, dia sempat berhenti merokok.
Aku mencoba membuat suasana menjadi santai dengan tidak memusingkan apakah perempuan pantas merokok atau tidak. Itu urusan masing-masing. Hanya perlu untuk saling menghargai. Tidak untuk menjadi bahan gunjingan yang tidak perlu.
Aku mencoba membuat suasana menjadi santai dengan tidak memusingkan apakah perempuan pantas merokok atau tidak. Itu urusan masing-masing. Hanya perlu untuk saling menghargai. Tidak untuk menjadi bahan gunjingan yang tidak perlu.
"Iya"
"Oke"
"Bapak sama Ibu apa kabar?
"Baik. Bapak udah pensiun. Ibu juga. Tapi Ibu mah langsung dapet kerjaan baru". Jawabku.
"Eh? Udah? Kapan?"
"2017. Oktober. Barengan pensiunnya sama aku"
"Kok?"
"Pensiun dari D3"
"Ha ha ha. Lha Ibu?" Dia menghisap rokoknya. "Katanya dulu Ibumu Dirut warung". Lanjutnya.
"Ha ha ha. Iya, dulu. Kan Bapak pensiun, otomatis Ibu juga pensiun dong. Pensiun jadi anggota PERSIT". Jelasku.
Sekedar informasi. PERSIT adalah akronim dari Persatuan Istri Tentara kalau tidak salah. Apabila seorang tentara menikah, secara otomatis istrinya tergabung menjadi anggota PERSIT Kartika Chandra Kirana. Untuk tugas dan kegiatannya, aku tidak tahu pasti. Tapi dulu, ibu sering ikut kumpul-kumpul dengan mengenakan seragam dengan teman-teman sesama istri tentara di Koramil dan lebih jauh lagi, tiap sebulan sekali di Kodim Diponegoro. yang lokasinya kurang lebih satu jam dari rumahku. Letaknya di Purwokerto.
"Oh. Oke. Sekarang? Kerjaan baru? Apaan?" Dia bertanya seolah seperti jurnalis acara gosip.
"Jadi anggota WARAKAWURI. Organisasi istri mantan prajurit".
"Menarik"
"Apanya yang menarik?" Tanyaku.
"Banyak organisasinya"
"Ha ha ha. Iya. Sibuk Ibu mah. Kerjaannya rangkap-rangkap"
"Biar sehat"
"Iya. Ketemu temen. Buat hiburan lah" Jelasku.
Tiba-tiba telepon genggamku bunyi. Aku meminta ijin ke dia untuk mengangkat telepon sebentar. "Oke, aku tungguin", katanya. Ternyata si Amad. Dia minta tolong untuk sekedar mengecek pintu kamarnya. Katanya, dia lupa pintu kamarnya sudah dikunci apa belum. Aku jawab, "Oke".
"Ibu gimana?" Tanyaku.
"Sehat. Masih kerja juga"
"Perempuan keren"
"Iya. Tapi suka kasihan sama Ibu" Terangnya.
"Kenapa?"
"Ya gini. Kalau aku pergi, sendirian di rumah".
"Hmm"
"Tapi kadang ada temen-temennya pada main ke rumah. Jadi mending deh. Ada temen ngobrol"
"Harus gitu"
"Apanya yang harus?"
"Itu ketemu sama temen-temennya"
"Oh. Iya"
"Biar sehat". Jawabku menirukan jawabannya.
"Itu kata-kataku tadi. Ha ha ha". Dia tertawa untuk kemudian menyeruput kopinya.
4.
Aku rasa dia adalah kawan lamaku yang walaupun jarang bertemu, tapi masih nyambung ketika ngobrol. Dan sesekali dia mengajak ngobrol lewat aplikasi whatsapp. Begitupun sebaliknya. Dan di kedai itu, dengan didukung oleh suasana kedai yang berangsur sepi, percakapan menjadi panjang dan luas. Melayang bersama asap rokok dan uap dari kentang goreng yang kami pesan karena masih panas.
Kulihat dua temannya, sedang sibuk dengan telepon genggamnya masing-masing. Pemandangan yang sama seperti beberapa pengunjung lain.
"Pacar aman?" Tiba-tiba dia bertanya setelah kami selesai membahas beberapa peristiwa waktu SMA dulu. Ada raut wajah yang berbeda. Oleh karena dia menanyakannya disertai dengan ketawa yang mengejek.
"Aman. Sehat walafiat".
"Ha ha ha. Udah. Nggak apa-apa. Mumpung lagi masa iddah, fokus kerja aja dulu. Nikmatin gaji. Nikmatin jadi robot. Kayak gini ini". Dia menjelma seperti motivator disertai dengan wajahnya yang dibuat seperti Merry Riana. Aku cukup terhibur akan hal itu.
Sebenarnya, dari pada membahas hal itu, aku lebih tertarik untuk membahas beberapa peristiwa saat SMA dulu yang tadi kami bahas. Seperti membahas kejadian saat aku menyembunyikan kerudungnya waktu pelajaran agama dan dia panik. Waktu itu yang ngajar memang terkenal galak. Aku sudah lupa namanya. Yang jelas, beliau tidak mengizinkan siswi yang tidak pakai kerudung mengikuti kelasnya. Sialnya, di kelasku, kelas dia juga, muridnya semua beragama islam.
Perlu aku jelaskan, bahwa di SMAku dulu, setiap pelajaran agama, siswi wajib mengenakan kerudung. Apabila tidak, pilihannya banyak. Pura-pura sakit terus tidur di ruang UKS, pinjam kawan lain yang sudah selesai pelajaran agama, atau makan di kantin untuk bolos. Dia memilih pilihan terakhir.
Waktu itu aku memilih ijin dari kelas dengan alasan ada rapat ekstrakurikuler. Tapi sebenarnya tidak. Yang aku lakukan saat itu, aku menyusul dia di kantin sambil ketawa dan memakai kerudung miliknya. Dia kaget. Untuk selanjutnya, aku jadi sasaran amukannya karena dia jadi bolos pelajaran. Tapi ujungnya, aku traktir dia mie ayam dan dia senang.
"Iya". Jawabku. "Aku kangen masa SMA". Kataku untuk menyudahi membahas soal pacar.
"Aku juga. Tapi lebih kangen ke Ayah". Jelasnya. Dilanjutkan dengan menyalakan sebatang rokok.
"Harus kangen". Jawabku. "Tapi kangennya sambil kirim doa juga".
"Udah. Tiap selesai sholat. Tapi kadang kangennya nggak ilang-ilang".
Untuk kemudian aku mendapati air mata yang keluar dari ujung matanya. Dan suasana berubah menjadi emosional. Aku kira itu wajar.
"Nggak boleh ilang"
Untuk beberapa saat aku membiarkan dia mengeluarkan segala perasaannya. Beberapa pengunjung aku rasa mencuri-curi pandang untuk melihat ke arah kami. Aku tidak masalah dengan itu. Yang terpenting bagiku adalah untuk membiarkan dia dengan memberi waktu agar menikmati apa yang sedang dirasakannya. Itu saja.
"Jadi cengeng gini. Maaf ya". Katanya setelah merasa mendingan. Ada senyum yang dia tunjukkan.
"Nggak salah". Kataku. Maksudku, dia tidak perlu meminta maaf hanya karena menangis. Itu bukan suatu yang harus dimaafkan.
"He he. Iya"
"Udah berapa lama, ya?". Tanyaku. Menanyakan sudah berapa lama Ayahnya meninggal. Karena aku sudah lupa.
"13 tahunan kalau nggak salah"
"Hmm"
"Udah, ah, sedih-sedihannya. Nggak seru" Katanya.
"Ha ha ha"
"Kopimu abis, mau pesen lagi?"
"Nggak ah. Nanti aku pesen air putih aja". Jelasku.
Dia kemudian beranjak dari tempat duduknya tanpa pamit akan kemana. Dan kembali membawa sebotol air mineral yang mereknya sangat terkenal. Katakanlah Aqua.
"Nanti-nanti. Lama"
"Ha ha ha. Makasih. Aku tahu maksudmu. Iya aku bayar semua pesananmu".
"Ha ha ha"
Obrolan malam itu di akhiri dengan dia pamit oleh karena dari bagian ruangan bukan perokok, dua kawannya itu memberi kode ingin pulang. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat empat lima menit. Untuk kemudian dia pamit padaku. Aku bilang akan mengantarnya sampai depan sekalian minta maaf karena sudah menculiknya selama di kedai. Dia ketawa.
"Maaf ya Mbak, Mas, Ananya saya culik tadi. Lama nggak ketemu" Jelasku pada dua kawannya.
"Nggak apa-apa, Mas. Malah senang. Kitanya jadi nggak diganggu" Kata si perempuan. Untuk kemudian kami semua ketawa.
"Aku balik, ya. Nggak perlu sedih. Sebentar aja sedihnya".
"Iya. Oke". Kujawab dengan tanganku membentuk simbol 'Oke'. "Hati-hati".
"Shaaaap!". Maksudnya, 'Siap!'
Bersamaan dengan dia memasuki mobil, aku kembali ke mejaku untuk mengambil laptop dan tas. Aku rasa malam ini termasuk malam yang bagus. Selain oleh sebab aku bertemu kawan lama tanpa sengaja, aku juga mempunyai ruang untuk bisa meletakkan kenangan yang lalu untuk disajikan menjadi bahasan yang cukup memenuhi syarat untuk membuat hati rindu. Tapi kenangan-kenangan itu apabila dilakukan lagi di masa sekarang, aku rasa sudah tidak akan lagi karena sudah bukan waktunya. Yang bisa dilakukan adalah bertemu dengan kawan, membahas cerita-cerita lalu untuk tertawa bersama.
Malam sudah semakin malam. Di jalan sudah mulai lengang dan dingin. Dan besok, harus kembali bertanggungjawab atas apa yang sudah menjadi perjanjian untuk bisa menghasilkan uang. Apalagi kalau bukan bekerja.
Untuk malam ini, aku ucapkan terimakasih karena tidak hujan. Sehingga aku bisa pulang ke kamar kos tanpa basah. Karena tidak hujan sehingga orang-orang yang mengunakan jasa ojek online bisa pulang ke rumah masing-masing tanpa basah. Karena tidak hujan dan menyebabkan jok sepeda motorku yang sobek tidak basah sehingga celana jeansku tetap kering.
Purwokerto, Januari 2019 M.
Perlu aku jelaskan, bahwa di SMAku dulu, setiap pelajaran agama, siswi wajib mengenakan kerudung. Apabila tidak, pilihannya banyak. Pura-pura sakit terus tidur di ruang UKS, pinjam kawan lain yang sudah selesai pelajaran agama, atau makan di kantin untuk bolos. Dia memilih pilihan terakhir.
Waktu itu aku memilih ijin dari kelas dengan alasan ada rapat ekstrakurikuler. Tapi sebenarnya tidak. Yang aku lakukan saat itu, aku menyusul dia di kantin sambil ketawa dan memakai kerudung miliknya. Dia kaget. Untuk selanjutnya, aku jadi sasaran amukannya karena dia jadi bolos pelajaran. Tapi ujungnya, aku traktir dia mie ayam dan dia senang.
"Iya". Jawabku. "Aku kangen masa SMA". Kataku untuk menyudahi membahas soal pacar.
"Aku juga. Tapi lebih kangen ke Ayah". Jelasnya. Dilanjutkan dengan menyalakan sebatang rokok.
"Harus kangen". Jawabku. "Tapi kangennya sambil kirim doa juga".
"Udah. Tiap selesai sholat. Tapi kadang kangennya nggak ilang-ilang".
Untuk kemudian aku mendapati air mata yang keluar dari ujung matanya. Dan suasana berubah menjadi emosional. Aku kira itu wajar.
"Nggak boleh ilang"
Untuk beberapa saat aku membiarkan dia mengeluarkan segala perasaannya. Beberapa pengunjung aku rasa mencuri-curi pandang untuk melihat ke arah kami. Aku tidak masalah dengan itu. Yang terpenting bagiku adalah untuk membiarkan dia dengan memberi waktu agar menikmati apa yang sedang dirasakannya. Itu saja.
"Jadi cengeng gini. Maaf ya". Katanya setelah merasa mendingan. Ada senyum yang dia tunjukkan.
"Nggak salah". Kataku. Maksudku, dia tidak perlu meminta maaf hanya karena menangis. Itu bukan suatu yang harus dimaafkan.
"He he. Iya"
"Udah berapa lama, ya?". Tanyaku. Menanyakan sudah berapa lama Ayahnya meninggal. Karena aku sudah lupa.
"13 tahunan kalau nggak salah"
"Hmm"
"Udah, ah, sedih-sedihannya. Nggak seru" Katanya.
"Ha ha ha"
"Kopimu abis, mau pesen lagi?"
"Nggak ah. Nanti aku pesen air putih aja". Jelasku.
Dia kemudian beranjak dari tempat duduknya tanpa pamit akan kemana. Dan kembali membawa sebotol air mineral yang mereknya sangat terkenal. Katakanlah Aqua.
"Nanti-nanti. Lama"
"Ha ha ha. Makasih. Aku tahu maksudmu. Iya aku bayar semua pesananmu".
"Ha ha ha"
Obrolan malam itu di akhiri dengan dia pamit oleh karena dari bagian ruangan bukan perokok, dua kawannya itu memberi kode ingin pulang. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat empat lima menit. Untuk kemudian dia pamit padaku. Aku bilang akan mengantarnya sampai depan sekalian minta maaf karena sudah menculiknya selama di kedai. Dia ketawa.
"Maaf ya Mbak, Mas, Ananya saya culik tadi. Lama nggak ketemu" Jelasku pada dua kawannya.
"Nggak apa-apa, Mas. Malah senang. Kitanya jadi nggak diganggu" Kata si perempuan. Untuk kemudian kami semua ketawa.
"Aku balik, ya. Nggak perlu sedih. Sebentar aja sedihnya".
"Iya. Oke". Kujawab dengan tanganku membentuk simbol 'Oke'. "Hati-hati".
"Shaaaap!". Maksudnya, 'Siap!'
Bersamaan dengan dia memasuki mobil, aku kembali ke mejaku untuk mengambil laptop dan tas. Aku rasa malam ini termasuk malam yang bagus. Selain oleh sebab aku bertemu kawan lama tanpa sengaja, aku juga mempunyai ruang untuk bisa meletakkan kenangan yang lalu untuk disajikan menjadi bahasan yang cukup memenuhi syarat untuk membuat hati rindu. Tapi kenangan-kenangan itu apabila dilakukan lagi di masa sekarang, aku rasa sudah tidak akan lagi karena sudah bukan waktunya. Yang bisa dilakukan adalah bertemu dengan kawan, membahas cerita-cerita lalu untuk tertawa bersama.
Malam sudah semakin malam. Di jalan sudah mulai lengang dan dingin. Dan besok, harus kembali bertanggungjawab atas apa yang sudah menjadi perjanjian untuk bisa menghasilkan uang. Apalagi kalau bukan bekerja.
Untuk malam ini, aku ucapkan terimakasih karena tidak hujan. Sehingga aku bisa pulang ke kamar kos tanpa basah. Karena tidak hujan sehingga orang-orang yang mengunakan jasa ojek online bisa pulang ke rumah masing-masing tanpa basah. Karena tidak hujan dan menyebabkan jok sepeda motorku yang sobek tidak basah sehingga celana jeansku tetap kering.
Purwokerto, Januari 2019 M.


