Sunday, 13 August 2017

Mesra Bersama Ibu

   






     Semarang, 26 Juli dini hari. tepat pukul 01.46. Lama tidak membuka blog, lama tidak memijit keyboard, lama juga tidak ngomong sendiri. Akhir-akhir ini selera humorku menurun. Jam tidur berantakan, rokok ngebut, kopi tak pernah absen. Lengkap. Kafein, nikotin, antangin, caladin, tenangin, awkarin, semuanya berkumpul. Fokusku bercabang. Terlalu banyak pikiran masuk entah dari mana. Tiba-tiba masuk begitu saja. Jangan tanya apa saja yang sedang kupikirkan. Berharap pikiran-pikiran itu akan hilang setelah sepeminuman kopi, ternyata tidak juga. Bodohnya, setiap hari aku lakukan. Mungkin pusing setelah tadi pagi sampai siang menjalani serangkaian psikotes dan wawancara di salah satu perusahaan swasta, masih terbawa sampai sekarang. Dan malam ini, aku rindu menulis. Suatu rutinitas beberapa tahun ini ketika sedang dalam suasana apapun.

     Pekan terakhir di bulan Juli. Bulan istimewa untuk anak Indonesia, bulan istimewa bagi mahasiswa yang sedang libur semester, pun bagi ibu. Ibu berulang tahun tanggal 16, dua hari kemudian aku baru sadar dan buru-buru mengirimnya sebuah pesan singkat berisi ucapan selamat ulang tahun beserta do'a-do'a yang menurutku sakral. Bisa dibilang ini kali pertama aku memberi ucapan selamat ulang tahun pada ibu setelah melewati sekian banyak tanggal 16 Juli tanpa seremonial yang berarti. Aku senang. Akhirnya, aku bisa menembus sekat kekakuan hubungan antara aku dan ibu. Sekat yang sebenarnya kubangun sendiri hingga semakin lama, semakin menebal. Tapi ibu tak pernah menganggap sekat itu ada. Walaupun ia merasakan, namun kelembutannya selalu saja membuat sekat itu menjadi semakin tipis, rapuh, retak kemudian runtuh. Dan dalam pesannya yang lumayan panjang, ibu membalas terimakasih dengan selalu menyelipkan do'a-do'a dan pesan yang menginginkanku agar aku menjadi lebih baik lagi dan mengurangi kebiasaan merokok. Suatu ultimatum yang wajib ibu berikan ketika aku pulang dan berpamitan untuk kembali berangkat ke Semarang.

     "Bibirmu lho, item. Kayak bapak. Masih muda kok udah gitu. Bibir item, kurus, jerawat makin nambah. Kurangin lah rokoknya. Kalau bisa stop."
   
     "Nggak apa-apa, Buk. Jangan diejekin si bapaknya."

     "Kenapa?" Tanya ibu dengan wajahnya yang dibuat tegas.

     "Ibu kan duitnya dari bapak."

     "Oh, iya. Tapi kan ibu istrinya bapak. Ibu ada kuasa buat bilangin"

     "Inget, Buk. Bapak kan suaminya ibu. Punya kuasa juga buat nyari duit."

     "Itu mah wajib."

     "Hahaha."

     Ibu memang seperti itu. Kukira hampir semua ibu di belahan dunia manapun melakukan hal demikian. Ibu tidak pernah kaku walaupun hampir dua puluh enam tahun menjadi pendamping seorang tentara. Ia tetap luwes, lembut dan "cengeng" ketika mendapati hal yang meresahkan hatinya. Aku masih ingat benar ketika aku terkena demam berdarah hampir dua tahun lalu. Setelah hampir seminggu tergeletak dan panas dingin, dokter bilang aku kena radang tenggorokan. Aku kabari ibu dan beberapa detik kemudian ponselku dicecar puluhan sms. Hanya ada satu nama pengirim di sana, "Ibu Negara". Belum sempat kubalas pesan itu karena lemas, ponselku berdering, bapak menelepon. Bapak bertanya seperti ia sedang menginterogasi pelaku tawuran yang sering terjadi di desa. Dan sialnya, aku pernah menjadi salah satu pelakunya. Bapak bertanya macam-macam. Sudah ke dokter belum, obatnya sudah habis belum, periksa langsung ke rumah sakit saja. Bapak bilang kalau perlu pulang saja dan bapak akan memesan travelnya. Aku hanya menjawab sekata-sekata karena untuk bicara saja bibirku sakit karena kering dan pecah-pecah.

     "Ibu nangis. Bapak nggak tega. Kalau bisa kamu pulang saja".
   
     "Cengeng si ibu,"

     "Iya cengeng. Padahal cuma demam berdahak, ya?"

     "Batuk itu mah. Demam bersholawat, Pak."

     "Hussh! Ngawur! Jangan begitu!"

     "Kalau lagi demam, banyakin sholawat, Pak. Biar cepet sembuh,"

     "Tapi beneran. Banyakin do'a. Pulang aja, ya?"

     "Iya, Pak."

     Kemudian aku pun menuruti pesan bapak untuk periksa di rumah sakit. Dan benar seperti yang belum kuduga sebelumnya, aku positif terkena demam berdarah. Waktu itu aku diantar teman satu kontrakanku, si Reja. Bisa dibilang Reja juga yang merawatku selama aku sakit. Terimakasih. Semoga cepat selesai kuliahmu.

     Akhirnya aku pulang juga naik travel dengan kondisi lemas selemas-lemasnya. Perjalanan selama enam jam Semarang-Purwokerto, tidak kupikirkan. Tapi sangat aku rasakan. Perjalanan itu seperti melambat. Ban di kedua sisi mobil seperti berubah menjadi kubus. Rasanya lama sekali. Bapak bilang agar aku turun di Kodim Purwokerto saja karena bapak menunggu di sana. Waktu itu dini hari. Aku lupa kapan jam persisnya. Aku langsung dibawa ke rumah sakit yang jaraknya sekitar setengah jam dari rumah. Sebenarnya bapak bisa saja membawaku ke rumah sakit tentara di Purwokerto yang hanya beberapa menit dari Kodim. Tapi bapak bilang di dekat rumah saja agar ibu bisa dekat ke rumah sakitnya. Karena dari rumahku ke rumah sakit tentara kurang lebih satu jam.

     "Lemes ya, Le?" tanya bapak di perjalanan.

     "Banget, Pak."

     "Sebentar lagi sampai."

     "Masih jauh, Pak. Setengah jam lagi."

     Bapak ketawa. Mungkin bapak berpikiran kalau orang lemas dan panas bisa dibohongi. Ya, di balik ketawanya, aku bisa melihat kepanikan di wajah bapak. Bapak menutupinya dengan guyon yang sering kami lakukan saat aku pulang. Waktu itu, karena pelan, sampai rumah sakit sepertinya malahan hampir satu jam. Oleh sebab kabut yang tebal dan dingin.

     "Bapak juga lemas."

     "Kenapa, Pak?"

     "Ngantuk."

     "Oh, iya."

     "Hahaha."

     Di perjalanan bapak bilang katanya ibu nangis terus. Kepikiran, makannya sedikit-sedikit. Aku jadi kepikiran juga. Kata bapak, ibu ingin ke Semarang menyusulku. Tapi aku bilang jangan. Takut kesasar. Besoknya, ibu datang ke rumah sakit bersama mbak dan sudah baik-baik saja. Katanya, oleh sebab aku sudah ditangani dokter. Empat hari aku opname dan ibu ada ditemani bapak. Belum ada lima jam aku di rumah setelah check out dari rumah sakit, aku langsung ke stasiun untuk memesan tiket dan kembali berangkat ke Semarang karena aku sedang UTS. Aku masuk di hari ke dua karena hari pertama aku masih di rumah sakit. Iya, begitu si ibu. Aku sayang.

     Kata ibu, dulu ia lulusan SMEA tapi selalu bingung kalau ditanya soal akuntansi. Dengan alasan yang sama dan konsisten, ibu bilang, yang penting bisa mengatur uang keluarga, tidak perlu ribut soal aktiva tetap, rekonsiliasi fiskal, laba ditahan, debet dan kredit, apalagi IHSG. Karena pasti nanti hasilnya juga wajar tanpa pengecualian. Mendengar jawaban ibu, aku langsung menyarankan agar ibu melanjutkan kuliah saja. Sebenarnya saran itu aku lontarkan dengan tujuan hanya becanda. Tapi ibu tetap saja menanggapi dan menolak. Katanya takut diospek dan takut nanti absennya tidak memenuhi 75% sebagai syarat agar bisa ikut ujian karena sibuk mengurus rumah dan bapak. Alasan paling masuk akal yang sangat bisa aku terima adalah ketika ibu bilang bahwa uangnya sudah buat aku dan mbak kuliah. Sama buat uang rokok aku dan bapak. Dan menurutku itu adalah alasan yang sebenar-benarnya tanpa bisa digugat.

     Tanpa terasa tahun ini usia ibu sudah menginjak lima puluh tahun. Yang sebenarnya tahun kemarin baru empat puluh sembilan tahun. Tapi ibu suka kesal dan protes. Ibu bilang kalau sebenarnya usia ibu tahun ini adalah lima puluh satu tahun. Dan memang demikian karena ibu lahir tahun 1966. Tapi di Kartu Keluarga tertulis tahun lahir ibu adalah 1967. Aku bilang pada ibu seharusnya tidak perlu kesal dan protes. Karena ibu hanya protes di rumah saja, tidak berani protes di Dindukcapil atau Kecamatan. Minimal RT lah. Dan aku rasa ibu harusnya beruntung karena dimudakan usianya. Tidak seperti bapak. Di Kartu Keluarga dan di arsip TNI, usia bapak dituakan menjadi satu tahun lebih tua. Bapak pernah bilang kalau dulu ketika masuk TNI, usianya paling muda di antara teman-teman satu letingnya. Biar bagaimanapun, angka usia akan terus bertambah dan lama hidup akan terus berkurang. Satu yang menjadi harapan dan keinginanku adalah ketika aku dapat bertemu dan merayakan tanggal 16 Juli di tahun-tahun berikutnya dengan empat personel keluarga kami dan tambahan personel baru yang berposisi sebagai menantu dan cucu.

***

     Dan tahun ini bapak pensiun. Menjadi purnawirawan dan kembali bertani. Cerita mengenai pensiunnya bapak sebenarnya sudah kutulis satu tahun lalu dan belum selesai sampai sekarang. Mungkin karena terlalu dalam dan aku perlu observasi lebih rinci, juga harus mewawancarai bapak lebih lama lagi. Alasan mengapa cerita itu belum selesai sebenarnya adalah lebih kepada takut kalau-kalau ada yang berpendapat bahwa pada saat usia yang sama antara aku dan bapak sangat berbeda sama sekali. Dari sisi perjuangan, usaha, religiusitas dan jalan yang kami pilih dalam karir, juga perbedaan dalam merek rokok yang kami sukai. Sebentar, dalam hal merokok, sebenarnya tidak ada pernyataan resmi dari bapak bahwa, "silakan. Kamu boleh merokok," tidak pernah ada. Bukan berarti juga bapak tidak pernah melarangku merokok. Larangan itu selalu ada dan bapak selalu berpesan secara tersirat. Terkadang diwakilkan oleh juru bicaranya, si ibu.

     Dalam karir, pertanyaan yang selalu ada dan mungkin dialami oleh setiap anak kolong yang tidak mengikuti jejak ayahnya dalam militer adalah, "Kenapa kok nggak jadi tentara kaya bapaknya?". Mungkin ada banyak jawaban dari mereka para anak kolong yang tersebar di seluruh penjuru negara yang luasnya 1,905 juta kilometer persegi ini. Aku pun ada jawaban sendiri, "Karena sudah diwakilkan oleh bapak," itu jawabanku. Aku hanya merasa tidak adil bahwa ketika aku memilih menjadi tentara dan masuk, aku tidak bisa memberi fasilitas pada bapak seperti apa yang aku terima selama bapak aktif sebagai prajurit. Seperti berobat gratis, tunjangan pendidikan anak dan banyak. Tapi ketika semisal aku jadi tentara, bapak mungkin tidak akan bisa mendapat berobat gratis, tunjangan pendidikan orangtua dan banyak. Bapak pun tidak bisa disebut bapak kolong. Tapi aku sadar diri. Membayangkan aku berseragam loreng saja. . .tidak. . .tidak. Aku tidak akan. Cukup bapak dan teman-temannya saja. Dan aku hormat pada beliau. Soal karir apa nanti yang akan aku ambil, bapak selalu mendukung dengan kekuatan purnawirawan militernya. Apapun.

      Ah, ada satu yang aku rasa sedikit perlu kuceritakan. Mbak. Kakak perempuan yang hanya selisih dua tahun denganku. Aku bangga karena tinggiku sudah melebihinya. Sekarang. Kalau foto di atas, menurutku tidak perlu untuk dibahas. Aku masih sangat kecil dan ganteng. Tidak perlu juga untuk memperdebatkan pernyataanku barusan. Menurutku, ia curang. Menyandang gelar sarjana di usia dua puluh satu tahun. Tapi bagiku tak perlu ada cemburu atau iri pada kakak sendiri. Sudah lewat masanya. Orang-orang selalu mengira bahwa akulah yang menjadi kakaknya. Karena wajahku lebih tua? Menjadi salah satu sebab yang tidak bisa dibantahkan. Biar. Karena dalam soal menjadi adik laki-laki dari seorang kakak perempuan, hal itu sangat lumrah dan biasa. Ini menurutku. Atas dasar pembelaan diri. Ia sedang berusaha mendidik anak-anak sekolah dasar dengan gelar Sarjana Pendidikan yang dimilikinya. Dengan berbagai cerita yang sering ia sampaikan padaku ketika aku pulang mengenai anak-anak yang ia didik dan kondisi di sekolah tempat dimana ia mengabdi sekarang, sepertinya ia terlihat menikmati perannya. Aku tidak akan menggambarkan cerita yang disampaikan oleh si mbak. Apa itu sedih, senang, ataupun biasa saja. Biarkan. Ia harus bertanggungjawab dengan apa yang ia pilih.

     Mungkin ini adalah masa-masa dimana orangtua menjadi tempat mengadu setelah pada-Nya. Dalam hal apapun. Karena benar apa kata orang, rumah adalah tempat terbaik untuk pulang. Sejauh apapun kaki menapaki bumi, mencari apapun yang sangat ingin digapai untuk mendapatkan sebongkah "harta", harus tetap sadar, keluarga akan tetap menjadi harta yang paling berharga untuk dijaga. Tak perlu menyanyikan kalimat barusan yang memang terdengar seperti lirik soundtrack Keluarga Cemara. Bukan berarti juga hanya berdiam diri di rumah. Masih banyak hal yang perlu dipelajari dan direkam dalam memori otak di luar sana. Tetapi mengingat, sadar dengan sesadar-sadarnya dan menjunjung tinggi nama baik tempat dimana kita berasal adalah nilai yang selalu harus dipegang. Wajib. Dan tentu ada satu dua orang, termasuk aku sendiri yang setelah membaca ini akan berujar, "Kalau ngomong, udah kayak orang bener aja,". Ya, menurutku ini harus. Paling tidak menjadi pesan pelengkap yang akan didapat oleh siapapun yang akan membacanya.

     Dan sekarang pukul 03.56. Waktu yang sangat tidak ideal untuk mulai memejamkan mata dan tidur. Bukan pula waktu yang ideal untuk keluar mencari makan. Karena ternyata perutku mulai berisik. Di sisi lain, ada sesuatu yang mengganjal. Sebelum tidur si Nona, pacarku, bilang bahwa dia tumbang. Dia sakit. Aku rasa karena beberapa hari belakangan ia mendapat sift malam terus dan berkutat dengan bayi-bayi. Kasihan dia. Butuh istirahat banyak. Setelah menanyakan bagaimana hasil tes psiko dan wawancara yang aku ikuti tadi siang dan berhaha-hihi sebentar, dia pamit untuk tidur. Kepalanya berat, nafasnya panas dan pilek katanya.

     "Udah makan, kan?" tanya si Nona.

     "Udah. Kamu minum obat terus tidur,"

     "Iya. Udah isyaan?"

     "Udah makan, udah isyaan, udah minum, udah sunat, udah lulus D3 tapi belum dapet kerja,"

     "Hahaha. Kan lanjut kuliah," ia tertawa. Aku bisa membayangkan tawanya. Pasti susah.

     "Oh, iya." jawabku.

     "Nanti juga kerja,"

     "Amin,"

     "Aku tidur, ya?"

     "Iya. Cepet sembuh ya,"

     "Jangan cepet-cepet. Santai aja. Lumayan buat bedrest."

     "Haha, curang."

     "Nggak curang. Ini rejeki,"

     "Iya. Biar bisa istirahat,"

     "Yaudah, aku tidur. Jangan kepagian tidurnya,"

     "Mau kepagian, ya? Mau nulis."

     "Iya. Jangan nulis undang-undang. Udah ada yang bikin."

     "Sip. Selamat tidur."

 



   


Sunday, 7 May 2017

Si Babysitter

Malam. Semarang pukul 23.42. Ngayal semaunya dan ngomong semuanya. Dua orang teman baru pulang setelah berhaha-hihi lebih kurang tiga jam. Masih membahas soal yang sama, kerjaan. Bukan, bukan. Mereka bukan ngomong soal, gimana kerjaanmu? atau gimana bosmu? Masih seputar, ada lowongan dimana? mau daftar dimana lagi? ya, masih seputar itu sedikit diselingi dengan guyonan penghibur diri. Si Acit baru saja resign dari kerjaannya dengan gaji terakhir yang belum dibayarkan. Si Deden masih nyaman dengan kerjaannya yang santai. Aku? jangan tanya. Masih selalu memalingkan obrolan dengan membahas tugas-tugas dari kampus. Presentasi, bikin kurva serta tetek bengek yang kulebih-lebihkan biar kelihatan sibuk saja. Aku sedang tak ada gairah ngobrol soal kerjaan. 

Setelah ngobrol ngalor ngidul tak jelas, seperti biasa, si Acit membuka obrolan. Memang, dia begitu. Manusia dengan beribu kisah. 

"Aku ndue cerito, Ndes," ia berbicara sedikit tak jelas dengan tawanya yang menumpuk.

Ia bilang bahwa di tengah pekerjaannya yang nggak asyik, sebelum ia resign tentunya, ada saja satu dua hal yang datang sebagai penghibur. Kali ini anak dari bosnya yang kena giliran untuk dibahas. Katanya, anak bosnya ini "rodok loro" yang berarti rada sakit. Bagaimana tidak. Anak itu masih kelas satu SD. Punya babysitter usianya sekitar dua puluh tahunan. Awalnya kami, aku dan si Deden mendengarkan dengan biasa. 

"Cah iki ki rodok loro, Ndes. Sumpah," kata Acit kembali dengan tawanya yang selip-selipan.

"Loro piye? Cerito sek to. Ngguyune mengko," Deden mulai kesal. Aku hanya senyum-senyum menunggu Acit melanjutkan ceritanya.

"Dadi ki ndeknen kan jek kelas siji SD. Dolan neng kantor mbek babysistere. Njur. . . "

"Babysitter, Ndes. Sister sister," Deden memotong.

"Lha yo pokokmen kui. Lha, cah iki ki seneng ngguselke ndase neng selangkangane babysitter-e kui, Ndes. Gek didulang ngono to, jugujug ngguselke ndase. Kadangan yo neng susune. Aku yo mung ngguya-ngguyu tok to. Cah iki piye iso ngono ki diwaraih sopo ngono lho."

Aku ketawa. Mencoba membayangkan apa yang diceritakan si Acit ini. Soal benar tidaknya cerita itu, biar dua malaikat di kanan kirinya yang menjelaskannya kelak. Tapi asli, aku ketawa kencang. Tenggorokanku sampai kering dibuatnya. Brengsek.

"Lha njur si babystitter-e kui pye, Ndes? Moso meneng ae?" tanyaku.

"Ngono-ngono tok kae. Saru dek, ah. Mung ngomong ngono tok. Lha Pak'e kan weruh kui, yo tekon ngene, koe ki ngopo to, Dek? rodok loro ig. hahahaha."

"Cah cilike piye terusan?" Deden tanya. Aku ketawa. Acit masih ketawa juga.

"Mung ngguya-ngguyu tok. Cengar-cengir rak jelas. Njur kan aku tekon to, Dek, koe ki ngopo to kok ngono? Tekonku yo mbek ngguya-ngguyu. Pekok og cah iki. Hahahah". Acit ketawa dibarengi dengan asap rokok yang mengepul keluar dari mulutnya. "Terus ndeknen jawab opo jal?" Lanjutnya.

"Opo?"Aku dan Deden hampir berbarengan.

"Enak og, Om. hahahaha. Goblok rak kui?" 

"Hahahahahahaha," aku, Acit dan Deden ketawa kencang. 

Untuk bahasan yang satu ini aku lebih tertarik ketimbang membahas soal mendaftar pekerjaan. Mereka datang membawa cerita yang biasa namun, ketawa bersama akan menguatkan humor yang ditawarkan disamping juga untuk menghargai si penyaji cerita. 

Setelah bercerita kesana kemari dan ketawa yang sampai menguras kering tenggorokanku, aku tawarkan mereka untuk minum kopi di burjo pertigaan depan. 

"Gah ah. Kopi ki ireng og wernone," Acit menolak. Deden tertarik. Tapi bukan untuk kopi. Ia lapar karena memang sedari tadi perutnya bunyi terus.

"Yo kan ono white kopi to, Cuk?" aku memberi tawaran ke Acit. 

"Meneh kui. Kopi rak jelas. Jarene white kopi. Jebul yo wernone coklat. Indonesia ki aneh-aneh wae og. Mesti ki goro-goro didikane Orde Baru ki," jawab Acit.

"Kok iso tekan Orde Baru mbarang ki piye?" tanya Deden.

"Lha piye? Jek enak jamanku, to?" Acit bertanya balik.

"Hahahaha. Koe ki asu donan. Kopi iso tekan Orde-ordenan ki piye. Piye gelem rak?" aku kembali menawarkan.

Keputusan akhirnya bulat. Kami berangkat ke burjo naik motor si Deden berbonceng tiga. Dengan posisi aku yang nyetir, Acit di tengah karena badannya paling kecil dan di belakang si Deden tentunya. Acit masih juga belum berhenti ngoceh. Di jalan, ia merajuk.

"Den, koe ki kakeane. Ojo maju-maju to, Ndes. Manukmu ki lho nempel bokongku," aku ketawa.

"Ki jane motor mung nggo wong loro, Cit. Wis to menengo. Diluk meneh yo tekan," jawab si Deden.

Di burjo, Deden yang memang sudah lapar langsung memesan magelangan. Acit memesan bubur kacang ijo dengan es, tapi kesal karena tidak diberi sirup. Aku hanya memesan susu coklat panas dan rokok surya satu batang dan kaget waktu tahu ternyata burjo ada wifinya. Deden berbisik ke aku karena melihat dua cewek berjilbab yang sedang makan mi dokdok.

"Ndes, adem ya. Wajahnya itu lho. Mirip yang main di Roman Picisan versi syari'ah," aku kaget. Deden tiba-tiba berbahasa Indonesia. 

"Ndes, rungokno. Roman Picisan, Roman Kamaru, Boy, Anak Langit, Anak setan, luweh. Aku ki rak mudeng," jawabku. Si Acit mengajak kami duduk. 

"Norman, Cuk, Norman," kata si Deden membenarkan. "Subhanallah," lanjutnya. 

Acit bertanya padaku soal kabar si Mira, teman kampus dulu yang selalu kami bahas berdua. Aku bilang dia sudah bekerja. Acit sebenarnya bukan menanyakan soal itu. Aku paham betul, Acit ingin mengulang masa-masa dimana kami membahas soal si Mira ini dari ujung kuku jempol kaki sampai ujung rambutnya yang kebetulan tidak bercabang. Soal bodinya yang aduhai. Tapi aku hanya senyam-senyum. Karena butuh waktu sekitar dua jam untuk berdiskusi soal bodi si Mira ini. Juga karena ada banyak orang. Aku sungkan membahasnya. Deden juga hanya ketawa-ketawa melihat muka si Acit yang berubah seketika saat membahas si Mira dengan sesekali mencuri-curi pandang pada cewek berjilbab tadi. 

"Ini tadi yang pesen magelangan minumya apa ya, A?" tanya si mamang burjo. Maksudnya si Deden. Karena Deden yang memesan magelangan.

"Dia nggak pesen magelangan, A". Jawab Acit. "Dia cuma pesen supaya Hak Angket DPR soal KPK itu, jangan disetujui. Sama tadi dia pesen ke saya minta tolong nanyain ke Aa, keluarga A6 itu yang mana yang anaknya KD sama yang mana yang anaknya Asanti. Gitu, A." Lanjutnya.

Aku ketawa kencang. Deden ketawa tapi sedikit ia tahan. Edan. Pembeli yang lain yang lagi pada makan ikut ketawa juga. Kebetulan malam ini ramai dan di tv ada GP dengan posisi sementara Pedrosa yang memimpin balapan. Biasanya sepi karena di samping burjo ada ayam geprek, dan di depannya ada nasi goreng yang kebetulan juga dua-duanya tutup. Memang Acit edan. Si Mamang hanya senyum dan kembali menanyakan minum apa ke si Deden.

"Es teh aja, A," jawab Deden. Sambil melangkah untuk ambil tahu bakso. 

"Aku ji, Den," kataku. Maksudnya minta tolong pada Deden, sekalian ambilkan satu. 

Magelangan untuk si Deden datang. Kemudian tanpa memikirkan kepulan uap yang menandakan magelangannya masih panas, Deden langsung melahapnya. Perlu diketahui, Dedenlah yang bayar semua pesanan kami. Baik dia. Katanya baru gajian. Aku juga dikasih ceban untuk beli rokok. Aku bilang nanti kalau aku diterima di BI, aku bakal balikin duitnya. Dengan wajah sok ngeboss, Deden bilang nggak usah. 

"Aku meh amal neng koe," kata Deden padaku. 

Setengah jam kemudian mereka pamit pulang. Cuaca lumayan dingin. Tapi karena aku dari pagi belum mandi, rasanya biasa saja. Hari ini, kedatangan mereka sangat membuatku terhibur. Karena setelah wisudaan Oktober lalu, praktis kami jarang berkumpul. Yasudah. Kami harus menjalankan hidup masing-masing. Bertemu bila ada waktu, memberi like atau love di Instagram bila mereka apload foto atau menyapa lewat grup Line angkatan.

Hari ini, disamping aku senang karena dua temanku datang, di sisi lain ada sesuatu yang sedang terjadi pada temanku di lain tempat. Dia mengapload gambar di Instagram dengan caption yang, ya lumayan sedih. Sepertinya menyangkut soal asmara. Aku jadi ingat pacarku. Sedang apa dia? Oh tadi dia bilang mau tidur saat di chat. Aku disuruhnya untuk tidur juga. Kujawab nanti, duluan aja. 

"Besok aku berangkat pagi," katanya.

"Berangkat kemana?"

"Hmmm. Biasa deh. Sekolah lah. Besok ulangan sejarah"

"Hahaha. Udah lulus juga. Oke, sekarang tidur."

"Iya kamu juga tidur."

"Nanti, ya. Masih sore ini mah. Duluan aja."

"Jangan pagi-pagi terus tidurnya."

"Jangan Instastory-an mulu."

"Hahaha, nggak."

"Iya."

"Jangan lupa makan."

"Iya."

"Jangan lupa mapan."

"Iya. Pasti. Eh?" aku kaget.

"Hahahaha,"

"Hahahaha,"

"Aku tidur, ya?"

"Monggo."

And on, and on, and on. Capek dia, kasihan. Aku juga capek, kasihan, nggak? Nggak? Oke fine. Aku rebahan. Pikiran dan bayangan seketika memenuhi otak tanpa bisa antre. Sial. Nggak tahu dari mana datangnya, tiba-tiba aku berpikir bagaimana caranya agar aku bisa jadi anak seorang tentara. Biar bisa jadi seperti Sammy Notaslimboy atau Pidie Baiq. Oh, ternyata aku memang demikan. Aku anak kolong. Karena sudah tercapai apa yang aku ingin sebelumnya, kemudian aku berpikir bagaimana caranya agar bisa bikin video Q and A dengan Fathia Izzati. Oh, nggak mungkin. Bahasa Inggrisku jelek. Aku berpikir lagi. Kali ini bagaimana caranya agar aku bisa tidur. Karena aku belum ngantuk sedikitpun. 

Pukul 02.43. Senin. Giliran Angel dari Sarah McLachlan yang mengalun. Aku ingat soal helmku yang ketinggalan di bengkel waktu servis motor kemarin. Oh ya. I'll tell you something. Lanjutkan hidup. Jalani yang ada. Masa depan nanti aja. Intinya buat hari ini lebih baik dari kemarin. Soal masa depan enak, itu bonus. Ah. Itu kata-kata siapa, aku lupa. Intinya itu. Karena cerita ini nggak ada pesan moralnya, aku buat saja. Walaupun nggak nyambung sama cerita yang tadi di atas. 

Selebihnya, kalau punya ingatan yang kurang tajam sepertiku, menuliskannya kembali akan menjadi solusi terbaik. Kalau kata anak sekarang, Solusi yang hakiki. Apa itu artinya, aku nggak tahu.

Mari pejamkan mata dan tidur.