Friday, 21 October 2016

Sepotong Senja Untuk Pacarku




Penulis : Seno Gumira Ajidarma
Desain Sampul : Suprianto
Penyelia Naskah : Mirna Yulistianti
Setter : Nur Wulan Dari
Cetakan Pertama Cover Baru : Februari 2016
Cetakan Kedua : Mei 2016
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama 
GM 615202014
ISBN 978-602-03-1903-2
Teks di Atas Judul-judul : Eddy Suhardy



"Cinta itu abstrak, pikirnya selalu, sepasang kekasih tidak usah selalu bertemu, selalu berciuman, dan selalu bergumul untuk mempersatukan diri mereka. Cinta membuat sepasang kekasih saling memikirkan dan saling merindukan, menciptakan getaran cinta yang merayapi partikel udara, meluncur dan melaju ke tujuan yang sama dalam denyutan semesta," (Hal. 103)


"Hujan itu mengikuti mobilnya sepanjang jalan, sepanjang jalan yang dilaluinya menjadi basah karena hujan, dan hanya jalan yang dilaluinya saja menjadi basah dan sejuk sebentar karena hujan yang turun ke bumi mengikuti dia atas nama cinta." (Hal. 103)


Sepotong senja untuk pacarku adalah sebuah komposisi dengan 16 variasi dalam tiga bagian. Diawali dengan Trilogi Alina yang berisi, 1. Sepotong Senja untuk Pacarku, 2. Jawaban Alina, 3. Tukang Pos dalam Amplop. Peselancar Agung, 1. Jezebel, Ikan Paus Merah; Kunang-Kunang Mandarin; Rumah Panggung di Tepi Pantai; Peselancar Agung; Hujan, Senja, dan Cinta; Senja Hitam Putih; Mercusuar; Anak-Anak Senja; Senja yang Terakhir; serta Atas Nama Senja yang berisi, Senja di Pulau Tanpa Nama; Perahu Nelayan Melintas Cakrawala; dan Senja di Kaca Spion. 

Hampir semua cerita menyajikan senja yang begitu lengkap. Pada cerita pertama yaitu, Sepotong Senja untuk Pacarku, bercerita tentang seorang laki-laki yang mengirimkan surat untuk pacarnya. Bukan sembarang surat, namun ia mengirim serta senja yang ia curi. Senja yang begitu indah itu dengan berani ia curi lalu ia simpan dalam kantongnya. Keadaan menjadi kacau  dengan hilangnya senja karena telah dicuri oleh laki-laki itu. Karena tidak ada lagi tempat yang indah. Tempat yang paling cantik untuk berfoto, dan tempat yang paling nyaman untuk menikmati matahari tenggelam di balik cakrawala. Drama kejar-kejaran antara polisi dan si pencuri senja pun terjadi. 

Lantas apakah si pencuri senja itu tertangkap? Sementara polisi telah mengerahkan helikopter untuk mencari si pencuri itu. Mungkin akan lebih baik apabila pada suatu senja, dengan ditemani secangkir teh atau kopi hangat, anda membaca buku ini dan menikmati setiap keindahan senja yang digambarkan dengan begitu indah.

Dan yang menarik adalah, pada lembar terakhir ada seorang pembaca yang mengirim e-mail pada penulis tentang ucapan terimakasih karena dari buku ini, si pembaca dapat menikmati senja yang begitu indah. Itu karena dari kecil si pembaca tidak dapat melihat senja. Mengapa demikian? Silakan tebak, duga atau apapun. Bagaimana seseorang tidak bisa menikmati senja sementara senja adalah suatu anugerah alam yang bisa dilihat, dinikmati tanpa kita harus membayar?

Tapi dengan buku ini, siapa pun yang tidak bisa menikmati senja, tidak perlu lagi berkecil hati. Semua tergambarkan dengan jelas. Senja hadir dengan apa-apa yang menjadi pelengkap dan menambah pesona bagi siapa pun yang membacanya.






Saturday, 15 October 2016

Lisa. . . Adik tingkatku.




Memang hujan selalu saja mengerti situasiku. Aku rasa aku perlu berterimakasih dan membuat acara syukuran kecil-kecilan dengan mengajak semua tetangga kamar kostku makan-makan di warung Bu Estri. Bagaimana tidak, sebelum hujan turun, aku baru saja makan berdua dengan Lisa dan mengajaknya jalan-jalan keliling kota. Walaupun sebenarnya bukan dalam suasana sengaja karena sebelumnya, Lisa meminta tolong untuk diantarkan ke rumah Bu Zum, Kaprodi kami. Katanya, ada suatu urusan yang penting. Apapun urusannya, untuk menolak, bagiku sangat-sangat mustahil.

Empat jam sudah kuhabiskan waktu bersamanya untuk kemudian mengantarnya pulang dan ditutup dengan serbuan hujan. Hujan deras seperti ini akan sangat hidmat menemani tidur bersama bayangan Lisa yang selalu memenuhi pikiranku. Tapi kuurungkan niat itu karena hujan setengah lima sore seperti ini lebih istimewa bila kunikmati dengan menyeruput kopi panas dengan diiringi lagu-lagu cinta Daniel Sahuleka. Oh, aku rasa ini perlu, rokok kretek akan lebih afdal tentunya.

Kehadiran Lisa memang sangat menghiburku yang sedang dalam kondisi tak menentu setelah beberapa bulan lalu Wina, pacarku, dan ibunya tiba-tiba datang ke kostku tanpa basa-basi memaksaku untuk mengakhiri hubunganku dengannya. Waktu itu kulihat kesedihan di wajah Wina sangat jelas dan ia hanya bisa menunduk tanpa sekalipun melihat ke arahku. Aku hanya ingat beberapa kata dari Ibunya bahwa sebentar lagi Wina akan dilamar oleh anak dari teman ibunya. "Baik," kataku. Tanpa kutanyakan pendapat Wina yang menjadi pihak utama lainnya dalam hubungan ini. Bukan maksudku menyerah, hanya saja, diamnya Wina kuanggap sebagai suatu sikap persetujuan karena memang setelah orangtua Wina tahu bahwa anaknya akan wisuda lebih dulu dariku, sikap mereka menjadi sangat berbeda. 

Itu yang aku rasakan saat Wina wisuda satu tahun lalu. Ketika itu aku ditemani Yuda, teman kostku yang sama-sama belum wisuda, hadir paling awal dan membawa boquet bunga untuk kuberikan pada Wina sebagaimana layaknya orang kebanyakan. Bunga itu sudah kupesan sehari sebelumnya di toko bunga "Laras" depan hotel Dinasty Purwokerto. Toko bunga langganan kami, aku dan Wina. Aku tunggu sampai akhirnya Wina dan kedua orangtuanya keluar dari gedung tempat acara wisuda.

Dari riuhnya peserta wisuda, kulihat Wina berjalan diiringi kedua orangtuanya. Om Irfan terlihat memakai setelan jas dengan dasi berwarna biru. Gagah. Aura bos memang tidak bisa dipisahkan dari sosoknya. Sementara Tante Santi sangat terlihat anggun. Berbalut tunik batik hitam, beliau terlihat sangat berwibawa. Kami, aku dan Yuda berjalan perlahan menuju gedung tempat wisuda. Ada rasa gemetar. Sedikit.

"Wina beruntung. Orangtuanya tajir," Ucap Yuda setengah berbisik.

"Mungkin. Yang aku tahu, bapaknya kepala cabang. Itu, Bank depan kampus kita." Jawabku.

"Oh, di situ kantornya?"

"Bukan. Terakhir Wina cerita, bapaknya baru mutasi. Kalau nggak salah di Magelang."

Langkahku semakin dekat ke arah Wina dan orangtuanya. Yuda masih mengawang-awang dan bertanya entah kepada siapa, berapa kira-kira gaji Om Irfan. Segera aku raih tangan Tante Santi, kusalami untuk kemudian berganti menyalami Om Irfan, menanyakan kabar sebagai bentuk hormat. Tidak ada senyum ataupun bertanya balik kepadaku. Singkat dan terkesan kaku. Pandanganku beralih ketika Wina menghampiriku.

Wiiih cantik amat wisudawan satu ini. Selamat ya,” Aku menyelamati kelulusan Wina sembari kuserahkan bunga sebagai tanda suka cita.

Kok wisudawan?" tanya Wina.

“Eh? Harusnya?" jawabku sekaligus balik bertanya.

“Wisudawati, dong. Kan cewek"

“Oh iya. Rada jarang dipakai sih, tapi baik. Aku ulang. Cantik amat wisudawati satu ini. Selamat ya,"

"Hehe, iya makasih. Kamu cepet-cepet nyusul, ya?"

"Hehe. Bismillah. Doain,"

Hey, Anwar. Kok kamu ndak pakai toga seperti Wina gini?” sergah Om Irfan, ayah Wina, menyindirku dibarengi dengan asap rokok yang keluar dari mulutnya. “Kamu baca, Anwar. Tuh, Cumlaude.” Tambahnya.

“Saya nanti, Om, semester berikutnya. Semoga dikasih umur panjang. Minta doanya, Om. Biar Wina dulu yang wisuda.” Kujawab seadanya supaya Om Irfan tidak menyinggung hal itu lebih jauh.

“Masak kuliahnya masuk bareng, keluarnya sendiri-sendiri. Awas, tahu-tahu DO lho.”

“Minta doa, Om. Bukan DO."

“Anwar tinggal skripsi saja, Ayah. Semester depan juga dia wisuda.” Ujar Wina membelaku.

Aku tahu Wina sedang berbohong. Ia tidak ingin aku terlihat bodoh di depan orangtuanya. Karena sebenarnya jangankan mengerjakan skripsi, judul skripsi yang aku ajukan saja sudah tiga kali ditolak. Kata-kata Om Irfan entah mengapa membuat aku sedikit tersinggung waktu itu. Kalau saja Om Irfan bukan ayah Wina, mungkin sudah aku rebut rokoknya untuk kemudian kulempar ke kepalanya yang botak itu. Om Irfan yang dulu sangat baik padaku tiba-tiba sikapnya berbalik arah.

Mereka berfoto dengan teman, keluarga dan wisudawan yang lain, setelah menunggu antrean panjang. Hari itu adalah hari raya bagi para pemotret wisudawan. Dengan background kain bergambar buku-buku, mereka yang wisuda berpose dengan bahagia yang sempurna. Suasana kaku aku rasakan selama  menunggu mereka berfoto. Lidahku kelu, hanya bisa memandangi senyum, tawa dan antrean panjang mereka yang menunggu giliran berfoto. Begitu kontras terasa. Hanya arak-arakan teman-teman mahasiswa dari jurusan teknik yang bisa memecah perasaan sedihku, walau sebentar.

"SOLIDARITY FOREVER!!!" teriak barisan mahasiswa teknik mesin. Kulihat teriakan itu dikomandoi oleh si Farid. Teman sekaligus tetangga kamar kostku.

Sampai pada saat Wina mengajakku untuk berfoto dengan ayah dan ibunya. Kulihat Om Irfan sedang menerima telpon entah dari siapa. Sementara Tante Santi, istrinya, kulihat berbincang dengan sesama wali wisudawan. Aku menolak ajakan Wina untuk ikut berfoto walaupun sebenarnya aku sangat ingin. Untungnya, Wina terus memaksaku. Ia menarik tanganku dan berjalan ke arah orangtuanya.

“Ayah, ibu, foto satu kali lagi ya. Kali ini sama Anwar.” Ujar Wina.

“Sepertinya kapan-kapan saja, Nduk. Ini Ayah baru ditelpon teman. Ada urusan penting katanya.”

“Sama. Ibu juga sudah ada janji. Tante Rima, itu lho Nduk, yang kemarin ibu cerita ke kamu. Dia mau datang dengan anak laki-lakinya yang baru pulang dari Jerman. Sekarang mereka di Meteeor. Nunggu kita,” UcapTante Santi. “Kami duluan ya, Nak Anwar. Ayok, Nduk.” Imbuhnya sambil bersiap untuk pulang. Kalau kalian ingin tahu, Meteeor yang dimaksud Tante Santi adalah restoran di Jalan Jenderal Sudirman. Dekat Hero Housewares.

“Oh iya, Om, Tante, silakan. Sampaikan salam saya ke anaknya teman Tante yang dari Jerman itu. Hati-hati, selamat siang Om, Tante. Kami juga permisi.” 

Wina hanya bisa menatapku tanpa bisa menolak ajakan Ibunya. Aku merasakan ada rasa tidak enak hati dalam dirinya. Itu juga yang membuatku akhirnya memilih untuk permisi agar tidak ada semacam konflik di hari kelulusan Wina. Hari yang menurutku harus diisi dengan penuh tawa, bahagia dan kelegaan. Aku tidak ingin mengambil peran sebagai perusak masa-masa itu walaupun sebenarnya aku ingin merayakan lebih lama dengan Wina. 

Berantakan sudah harapanku yang hanya ingin sekedar foto bersama pacar dan kedua orangtuanya. Boro-boro foto dengan orangtuanya, foto berdua dengan Wina saja aku tidak sempat. Besoknya, Wina menemuiku dan meminta maaf atas sikap kedua orangtuanya. Dan entah mengapa sikap Wina juga semakin dingin dan perlahan menjauh dariku. Hubungan kami semakin dingin. Sampai akhirnya kami putus, maaf kuralat, kami diputuskan oleh orangtua pacarku sendiri. Hari-hari selanjutnya berulang kali kucoba menghubungi Wina tapi tidak ada respon. Maka semenjak saat itu, hari-hariku juga berubah sepi.

***

Tapi masa-masa itu sedikit demi sedikit menguap dari ingatanku seiring dengan kehadiran Lisa. Apalagi saat hujan seperti ini. Kubuka jendela kamar agar hujan bisa mencium aroma kopi yang baru saja kubuat. Rokok kretek empat batang sisa jalan-jalan bersama Lisa tadi, kuambil satu dan kunyalakan. Poster Jimmi Hendrix saat tampil di Woodstock yang kutempel di dekat jendela pun seolah tahu suasana hatiku dan ingin ikut serta melengkapi dengan atraksi gitarnya. Terimakasih Jimmi. 

Lisa adalah mahasiswi di jurusanku dan sekarang dia semester tujuh. Jangan tanyakan sekarang aku semester berapa. Karena aku sama sekali sedang tidak ingin membahas hal itu. Lisa saja yang sedang ingin kubahas. Aku sudah jalan dengannya sekitar empat kali sejak perkenalan di acara Bulan Seni fakultas satu bulan lalu. Itu terjadi karena kami sama-sama menjadi pengisi acara. Lisa tampil dengan membawakan puisi berjudul "Nyanyian Angsa" karya W.S Rendra. Yang menjadi pertanyaan adalah, kemana saja aku selama ini? Sampai-sampai aku tidak menyadari bahwa ada perempuan jelita di jurusanku! Bila kau tahu Paramitha Rusady, begitulah, kira-kira gambaran wajah Lisa.

Sangking khusuknya aku mengingat-ingat kembali semua yang sudah aku lakukan dengan Lisa, tak terasa rokokku semakin pendek dan baru kusadari setelah jariku terasa panas. Aku buang puntung rokok itu, kemudian kusambung lagi dengan rokok kedua. Semakin dalam aku membayangkannya, semakin hilang sosok Wina yang lama memenuhi pikiranku. Aku juga baru sadar rupanya hujan turun semakin deras. 

Masih bisa kuingat dengan jelas saat pertama kali kuajak Lisa jalan. Malam sebelumnya, dia bertanya apakah aku masih punya buku salah satu mata kuliah yang wajib untuk dibawa. Tentu saja aku masih punya karena aku mengulang mata kuliah itu. Untungnya, aku tidak satu kelas dengan Lisa. Perkara nanti bila aku membutuhkannya, itu soal gampang. Aku bisa pinjam ke Yuda. Akhirnya, kupinjamkan buku itu pada Lisa dengan syarat dia harus mau kuajak makan lumpia boom di depan hotel Aston Purwokerto yang sedang dalam proses pembangunan. Lisa setuju dengan syarat itu dan bingo! Ini saat-saat yang paling kutunggu.

Setelah hampir sehari penuh jalan-jalan, akhirnya kuantar Lisa pulang. Dari depan rumahnya, kulihat ada seorang ibu-ibu yang sedang membopong bayi. Aku mengira-ngira itu ibunya dan bayi yang dibopong itu mungkin keponakannya. Karena Lisa pernah bercerita kalau ia punya kakak perempuan yang bekerja di salah satu bank swasta nasional. Lisa menawariku untuk mampir tapi kutolak karena aku sudah ada janji dengan Yuda untuk menghadiri agenda diskusi formalitas bersama organisasi yang aku ikuti. Sebenarnya, aku lebih tertarik menerima ajakan Lisa. Tapi, Yuda sudah menunggu di kostku dan itu harus aku tepati. Setelah melihat Lisa masuk, segera kutancap gas setelah sebelumnya kulemparkan senyuman pada ibu-ibu yang sedang membopong bayi itu, dan ia pun membalasnya. Terimakasih, calon mertua yang baik!

Hari-hari berikutnya aku seperti terlahir kembali. Walaupun tidak ada kuliah, setiap hari aku bangun pagi untuk kemudian berangkat ke kampus hanya ingin bertemu dengan Lisa. Harus aku akui, Lisa memang perempuan yang menurutku baik, cantik, dan memiliki tanggungjawab. Aku memang belum mengungkapkan perasaanku padanya karena aku tidak ingin terburu-buru. Lagi pula baru sebentar aku mengenalnya. Aku takut kalau sampai Lisa merasa bahwa aku terlalu agresif. Sampai pada saat dimana Lisa bertanya padaku ketika  di atas motor dalam perjalanan pulang setelah bersama-sama menghadiri acara.

“Kamu kok masih betah aja di kampus?”

Ternyata Lisa pintar dalam menyederhanakan bahasa. Tapi kalau dia bertanya, ”Kok kamu nggak lulus-lulus?” pun aku tidak akan tersinggung. Maka kujawab dengan sedikit menggombal.

“Gimana nggak betah, kan ada kamu. Hehe.”

“War, Anwar. Aku aja ingin cepet lulus.”

“Hehe.”

“Ih ketawa mulu. Kuliah yang bener, War. Jangan sering bolos.” Kata Lisa memberi ceramah.

“Iya, Sa. Bismillah. Judul skripsiku kemarin sudah di acc lho.”

“Serius? Selamat ya.”

“Hehe.”

"Eh, mampir toko deket pasar manis ya, War. Aku ada beli keperluan."

"Apa? Pasar Lisa manis?" Sedetik kemudian aku merasakan ada sakit di punggungku. Lisa mencubitku lumayan keras.

"Pasar manis, War."

"Iya. . . iya. Toko Mas Deden?"

"Iya, kok kenal?"

"Yah, Sa. Ini Purwokerto, Sa. Bukan Rusia."

"Gede banget kalo Rusia, War."

"Makanya."

Kukira dia akan menyinggung soal apa tujuanku melakukan pendekatan kepadanya. Tapi itu bukan masalah bagiku. Karena suatu saat aku akan mengungkapkan perasaan ini tanpa Lisa harus menyinggungnya lebih dulu. 

Lisa. Monalisa, Lisa A. Riyanto, Lisa Marie Presley, Lisa Kudrow, Lisa Kleypas, Lisa Bonet, Lisa Simpson, Lisa Ono, Lisa Natalia, Lisa Patsy. Biarlah mereka dengan kehidupannya sebagai seorang Lisa yang lain. Tapi aku berharap kamu tetap jadi Lisa yang bisa kuajak jalan. Lisa yang sering kali menyanyikan “I’ll Be There” dan menurutku lebih bagus dari Mariah Carey. Lisa yang bila kuantar pulang, selalu minta untuk mampir sebentar ke mini market untuk membeli susu dan popok. Benar-benar keponakan yang beruntung punya tante sebaik Lisa. 


***

Aku masih dengan posisi seperti tadi. Duduk menghadap jendela, menikmati kopi dan merokok kretek. Dari kaset album Daniel Sahuleka yang kuputar, gilirian lagu "Don't Sleep Away This Night" melantun merdu. Aku ikut bernyanyi dengan mengganti sedikit lirik pada bagian reff, Don't sleep away this night my Lisa. . . . . . 

Langit mendung ditambah pikiranku yang melayang jauh bersama Lisa, ternyata mampu membuatku lupa waktu. Tak terasa ternyata jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam ketika kunyalakan telepon genggamku. Kuletakkan kembali dan selang beberapa detik ada panggilan masuk. Ternyata Lisa! Lisa menelponku!

"Hallo? War? Anwar?"

Terdengar suara Lisa dari seberang sana. Tapi kenapa nada suaranya seperti orang panik?

"Hallo," kataku. "Kenapa, Sa?"

"War tolong aku, War. Kamu ke rumah sekarang! Cepat tolong antar aku ke rumah sakit."

"I. . .iya, tapi siapa yang sakit?"

Tut, tut, tut. 

Aku ikut panik karena tiba-tiba Lisa mematikan teleponnya. Segera kuambil kunci motor dan mantel kemudian langsung tancap gas menuju rumah Lisa di daerah Jalan Gereja. Dari tempat kostku yang berada di perumahan Purwo Kencana, perlu waktu sekitar sepuluh menit untuk sampai rumahnya. Benar. Sekitar sepuluh menit kemudian aku sudah sampai di depan rumah Lisa. Aku langsung masuk karena gerbang rumahnya tidak dikunci. Setelah kuparkirkan motorku di depan teras dan melepas mantel, segera aku menuju pintu dan mengetuknya. 

"Assalamu'alaikum, Sa,"

"Wa'alaikumsalam," terdengar jawaban dari dalam rumah. Pintu pun terbuka. 

"Alkhamdulillah, Nak Anwar. Maaf ya, Nak, jadi merepotkan Nak Anwar," Ibunya Lisa menyambutku dengan sikap panik. 

"Siapa yang sakit, Tante?"

"Ayok cepat, Bu," tiba-tiba Lisa keluar dari kamar diikuti mbak-mbak, kulihat lebih tua dari Lisa, membawa tas lumayan besar. "War, kamu bisa nyetir mobil, kan? tolong antar kami ke rumah sakit," kata Lisa sambil memberiku kunci mobil. Kulihat Lisa sangat panik dan tergesa-gesa. 

Aku berlari menuju mobil sedangkan Lisa kembali ke kamar. Beberapa menit kemudian Lisa keluar sambil membopong bayi bersama ibunya. Mbak-mbak yang tadi membawa tas, memayungi mereka dari belakang dan berjalan menuju gerbang setelah Lisa dan ibunya masuk mobil. 

"Rumah Sakit Bunda Arif, Nak Anwar," Kata Ibunya Lisa yang tidak sempat kuketahui siapa namanya. 

"Rada cepet ya, War," Lisa menambahi. 

"I. . . i. .iya, Sa."

Sepanjang jalan aku hanya fokus menyetir untuk bisa cepat sampai rumah sakit. Lisa terlihat sedih dan paniknya belum juga menghilang. Aku bingung. Sementara Ibunya mencoba menenangkan Lisa dan sesekali berkata, "Hati-hati, Nak Anwar."

Sesampainya di rumah sakit, dengan buru-buru, aku turun memanggil perawat dan kembali lagi ke mobil. Dari dalam mobil, ibunya Lisa memberiku payung lalu kubuka pintu untuk Lisa dan ibunya keluar. Perawat dengan segera membawa Lisa dan si bayi itu menuju ruang pemeriksaan. Hujan belum juga memberi tanda akan reda. 

Aku dan ibunya Lisa duduk menunggu di kursi depan ruangan pemeriksaan. Aku bingung bagaimana harus membuka obrolan dengan beliau. Karena memang baru kali ini aku bertemu dan entah mengapa harus dalam keadaan seperti ini. Tapi bila kulihat-lihat ibunya Lisa terlihat masih muda walaupun beliau sudah punya cucu. Kulihat tangannya sibuk mengetik pesan. Mungkin sedang memberi kabar pada kakaknya Lisa bahwa anaknya masuk rumah sakit. Karena semenjak tadi aku tidak melihat kakaknya Lisa. Setelah berhenti mengetik pesan dan melepas kacamatanya, ibunya Lisa mencoba membuka obrolan denganku. 

"Nak Anwar. Tante terimakasih banyak sudah mau direpotkan. Maaf ya, Nak Anwar," katanya. 

"Waduh, nggak apa-apa, Tante. Saya senang bisa membantu. Hanya tadi saya panik waktu Lisa tiba-tiba menelpon. Memangnya kalau boleh tahu, itu dedeknya kenapa, Tante?"

"Itu tadi sore waktu Lisa baru pulang si Adi sudah agak panas badannya," ujarnya. Aku jadi tahu ternyata nama bayi itu Adi. "Tapi tadi sekitar habis maghrib badannya makin panas. Lisa panik dan langsung telpon kamu, Nak. Karena walaupun di rumah ada mobil, tapi yang bisa nyetir cuma Bunga, anak tante yang pertama, tapi dia sedang ada urusan di luar kota. Ini barusan tante kasih kabar ke dia." Lanjutnya.

"Iya, Tante. Harus dikasih kabar. Mbak Bunga harus tahu kalau anaknya sakit," kataku.

"Lho? Bukan, Nak. Adi bukan anaknya Bunga. Bunga belum menikah. Tante juga heran, dia belum kepengin nikah. Malah makin betah sama kerjaannya."

Mendengar hal itu aku terkejut. Aku diam untuk beberapa saat. Kalau Bunga belum menikah, lalu siapa orangtua Adi? Apa mungkin Adi adiknya Lisa? Apa mungkin, Lisa punya kakak lain selain Bunga? Aku mengambil kesimpulan bahwa Adi adalah anak kakaknya Lisa yang lain.

"Adi itu anaknya Lisa, Nak Anwar. 

"Anaknya Lisa, Tante?" tanyaku tersentak tak menyangka. Tapi sebisa mungkin kukendalikan sikapku.

"Iya, Nak. Lisa ndak pernah cerita, to? Lisa memang begitu, Nak. Dia pernah bilang ke Tante kalau dia tidak akan memberi tahu kepada teman-teman kampusnya bahwa ia sudah menikah. Karena Lisa takut kalau teman-temannya tahu, mereka akan bersikap berbeda. Takut kalau mereka akan berpikiran bahwa ndak enak mengajak main orang yang sudah mempunyai suami. Apalagi punya anak seperti Lisa. Lisa menikah saat umurnya dua puluh tahun. Kira-kira semester empat. Sempat cuti kuliah juga, Nak. Tapi teman-temannya ndak ada yang tahu. Tahunya Lisa cuti karena ingin mengurus bisnis ayahnya yang meninggal sebelum Lisa masuk kuliah. Suaminya itu polisi, sekarang tugas di Semarang. Makanya tante suruh Lisa tinggal di rumah tante. Kasihan dia. Harus kuliah, ngurus anak juga." Jelas ibunya Lisa. 

Selama ibunya Lisa menjelaskan panjang lebar tentang Lisa, aku sama sekali tidak memperhatikannya. Pikiranku kacau. Berantakan. Tak bisa berpikir jernih. Aku hanya memandangi beliau dengan tatapan kosong. "Suaminya tugas di Semarang ya, Tante." Hanya kalimat itu yang keluar dari mulutku. Gemetar, Lirih, tak bertenaga, dan sumbang. 

Wednesday, 5 October 2016

SOSOK: INGGIT GARNASIH





“Aku percaya pada kekuatanku, aku percaya pada akalku, pada tanganku”
(Inggit Garnasih, Kuantar Ke Gerbang – Ramadhan K.H)


Ada yang pernah melihat atau tahu nama sosok perempuan yang duduk di samping Soekarno di atas? Mungkin namanya kurang familiar bila dibandingkan dengan Fatmawati yang konon menjahit bendera merah putih. Atau seperti nama R.A Kartini yang semua orang tahu dengan kecerdasan yang beliau miliki, mampu menyuarakan dan menggelorakan semangat emansipasi di kalangan perempuan tanah kelahirannya, bahkan pribumi atau sering kita sebut bumiputera. Atau juga Tjut Njak Dien, pahlawan perempuan yang menggelorakan semangat melawan penjajah Belanda dari tanah rencong bersama suaminya Teuku Umar. Atau Dewi Sartika, tokoh perintis pendidikan untuk kaum perempuan dari tanah Pasundan. 

Ia adalah Inggit Garnasih. Sosok perempuan biasa yang karena kesetiaan, kesabaran, dan budi luhurnya meninggalkan teladan dan menginspirasi bagi perempuan Indonesia. Inggit Garnasih lahir tanggal 17 Februari 1888 di Desa Kamasan, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung. Ia adalah istri kedua Soekarno. Inggit Garnasih dikenal bukan hanya karena ia adalah istri dari Presiden Republik Indonesia yang pertama, namun karena perjalanan hidupnya yang setia, sabar, dan penuh semangat mendampingi Soekarno saat menjalani hari-hari beratnya dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sehingga Bung Karno menyebutnya sebagai tulang punggung dan tangannya. Inggit mendampingi Soekarno selama kurang lebih dua puluh tahun dari tahun 1923 sampai 1943. Jauh sebelum Soekarno diangkat sebagai Presiden Republik Indonesia yang pertama. 

Karena semangat dan perjuangannya yang tulus saat mendampingi Soekarno, penggalan kisah hidup Inggit diabadikan dalam film berjudul "Soekarno" garapan sutradara ternama, Hanung Bramantyo. Sosok yang memerankan Inggit Garnasih dalam film tersebut adalah Maudy Koesnadi. Dan dalam film berjudul "Ketika Bung Di Ende" garapan sutradara Viva Westi yang menceritakan kisah hidup Soekarno saat menjalani hidup dalam keterasingan di Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur karena di buang oleh pemerintah Hindia Belanda, sosok Inggit Garnasih diperankan oleh Paramitha Rusady. 

Inggit Garnasih lahir dari pasangan Arjipan dan Amsi. Lahir dengan nama Garnasih, Inggit tumbuh menjadi sosok wanita yang cantik. Banyak pria yang tidak henti melihat senyumannya. Ada cerita menarik dibalik penambahan kata Inggit pada nama Garnasih. Menurut Sejarawan Rushdy Hoesein, Inggit adalah sosok gadis desa yang cantik jelita, sehingga ada cerita, atas kelebihan (kecantikan) yang Inggit miliki itu, banyak yang memberikan uang (dalam bentuk penghargaan) berupa Ringgit. Dari itu, nama Inggit tersemat. 

Mengenai kisah asmaranya, Inggit muda saat itu menaruh hati pada seorang pemuda bernama Sanusi. Namun kisah itu tidak berlanjut karena Inggit cemburu mendengar kabar bahwa Sanusi akan dinikahkan dengan wanita lain. Kemudian Inggit memutuskan menikah dengan seorang kopral residen Belanda bernama Nata Atmaja saat usianya enam belas tahun. Namun pernikahan itu tidak berlangsung lama dan pada tahun 1904 keduanya bercerai. Inggit yang masih menyimpan rasa pada Sanusi, akhirnya menikah dengan Sanusi setelah pemuda yang dicintainya itu bercerai. 

Haji Sanusi adalah saudagar kaya yang menjadi anggota Sarekat Islam dan juga teman mertua sekaligus guru Soekarno, yaitu HOS Tjokroaminoto.

Pertemuan Dengan Soekarno

Perkenalan Soekarno dan Inggit terjadi di dahului dengan rentetan kejadian. Soekarno yang saat itu baru lulus dari HBS pada Juni 1921, Soekarno melanjutkan pendidikannya di Technise Hooge School) THS Bandung yang sekarang menjadi ITB. Menurut sejarawan Rushdy Hoesein, Soekarno yang saat itu adalah suami dari Oetari, anak pertama HOS Tjokroaminoto, berangkat ke Bandung dengan surat dari HOS Tjokroaminoto untuk menemui H. Sanusi agar membantu mencarikan pondokan untuk Soekarno. Setelah gagal menemukan pondokan, akhirnya Soekarno tinggal di rumah H. Sanusi dan Inggit Garnasih atas izin mereka berdua. Beberapa selang waktu kemudian, Oetari, istri Soekarno datang berkunjung ke Bandung untuk menemui suaminya. H. Sanusi dan Inggit yang tahu bahwa mereka berdua adalah pasangan suami istri akhirnya menempatkan Oetari dan Soekarno pada satu kamar. Akan tetapi pada suatu saat Soekarno menceritakan pada Inggit bahwa ia dan Oetari sama sekali belum pernah berhubungan layaknya pasangan suami istri. Menurut keterangan Soekarno, hubungannya dengan Oetari seperti hubungan antara kakak dan adik. Tidak lebih. Dan Soekarno ingin agar Oetari ditempatkan di kamar yang berbeda. Sampailah pada akhirnya Soekarno memutuskan untuk mengembalikan Oetari pada orangtuanya secara baik-baik.

Soekarno kembali pada rutinitasnya, yaitu sebagai seorang pelajar dan sering melakukan diskusi di pondokannya. Tak terkecuali berdiskusi dengan Inggit. Karena H. Sanusi sering pergi karena ada urusan di luar rumah. Hingga pada suatu saat Soekarno dengan berani mengungkapkan perasaannya pada Inggit karena ia menemukan sosok yang dirasa sangat luar biasa. Soekarno merasa Inggit adalah seorang Ibu, teman dan kekasih. Begitu pula apa yang dirasakan Inggit. Ia merasa pernikahannya dengan H. Sanusi yang sudah tidak harmonis, akhirnya terpikat pada pemuda yang mondok di rumahnya. Dengan berani pula Soekarno berterus terang pada H. Sanusi tentang perasaanya pada Inggit. Karena melihat Soekarno yang serius tentang perasaannya pada Inggit dan setelah mendengar keterangan Soekarno, akhirnya H. Sanusi dan Inggit bercerai dengan terhormat dan secara baik-baik. Dan tidak keberatan apabila mantan istrinya itu menikah dengan Soekarno. Tidak lupa juga H. Sanusi meberikan pesan pada Soekarno agar menjaga Inggit dengan baik. Dan kepada mantan istrinya, H. Sanusi berharap agar Inggit dapat membimbing Soekarno supaya menjadi orang penting karena Soekarno saat itu sedang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Pada tahun 1923 akhirnya Soekarno resmi mempersunting Inggit. Pada saat itu Soekarno berusia dua puluh dua tahun dan Inggit menginjak usia tiga puluh tiga tahun. Menurut keterangan Jajang, juru pelihara rumah Inggit Garnasih, H. Sanusi turut serta sebagai saksi pernikahan itu. Ada yang unik dari pernikahan Soekarno-Inggit. Karena dalam surat nikah Soekarno dan Inggit, usia Soekarno ditulis dua puluh empat tahun sementara usia Inggit ditulis dua puluh tiga tahun.

Selama hampir dua puluh tahun Inggit mendampingi Soekarno menjalani masa-masa suka dan duka. Karena tidak dikaruniai anak, akhirnya mereka mengangkat anak dari kakak Inggit dan mereka memberi nama Ratna Djuami atau sering dipanggil Omi. Apalagi sebagai seorang yang ikut serta dalam pergerakan nasional, Soekarno kerap kali menjadi buronan pemerintah Hindia-Belanda. Soekarno sempat dijebloskan dalam penjara Banceuy, Bandung, karena keberaniannya mengkritik pemerinta Hindia-belanda. Dari dalam penjara Banceuy inilah, Soekarno mebuat pledoi yang terkenal dengan judul “Indonesia Menggugat” yang membuat pemerintah Hindia-Belanda semakin murka. Kemudian ia dipindahkan ke penjara Sukamiskin yang letaknya kurang lebih 10 km di luar kota Bandung. Pada saat itu kesetiaan Inggit diuji. Setiap dua kali dalam seminggu Inggit menjenguk suaminya itu di penjara Sukamiskin yang menempuh jarak kurang lebih 30 km dari Caiteu. Inggit menempuhnya dengan berjalan kaki dengan alasan mengirit ongkos. Inggit menjadi informan bagi Soekarno atas apa yang terjadi di luar penjara. Dengan menggunakan kode-kode yang diberikan Inggit, Soekarno tetap tahu apa yang terjadi selama dirinya dalam penjara. Dalam keadaan seperti itu, Inggit Garnasih adalah orang yang paling berjasa dalam memberikan semua yang diperlukan Soekarno.

Saat Soekarno dipenjara, PNI dibubarkan oleh orang anggotanya sendiri yaitu, Sartono. Kemudia mendirikan Partindo. Setelah keluar dari penjara, Soekarno juga bergabung denga Partindo. Apa yang dilakukan Soekarno tidak berubah hanya karena ia dipenjara. Sehingga pemerintah Hindia-Belanda menjadi semakin marah dan menganggap Soekarno tidak mempan apabila dipenjara namun masih di tanah Jawa. Akhirnya Soekarno “dibuang” ke Ende, Flores. Demi kesetiaanya kepada sang suami, Inggit pun ikut serta dalam pembuangan tersebut dan mebawa serta ibunya, Amsi dan anaknya, Omi. Karena tidak tahu akan berapa lama selama pembuangan, akhirnya Inggit menjual rumahnya yang di Bandung.

Pada Saat Di Ende

“Aku sudah tahu, meskipun tidak dikatakan berapa lama kami harus hidup dalam pembuangan, aku sudah harus siap. Untuk hidup di sana itu sampai ajal.”
(Inggit Garnasih, Kuantar Ke Gerbang – Ramadhan K.H)


Ende merupakan tempat yang sangat asing. Begitulah yang dirasakan Inggit dan keluarganya. Tidak ada satu orang pun yang mengenal Soekarno. Pada saat-saat seperti itu, Inggit memang berperan sebagai kawan, partner diskusi yang intens serta sebagai seorang yang tidak kenal lelah menyemangati Soekarno. Sangking ketatnya penjagaan terhadap Soekarno sehingga setiap keluar rumah, Soekarno terus dijaga oleh polisi pemerintah Hindia-Belanda. Soekarno tidak diperbolehkan orasi atau apapun yang berhubungan dengan pergerakan karena pemerintah Hindia-Belanda khawatir pengaruhnya akan seperti saat Soekarno berada di tanah Jawa. Soekarno pun akhirnya berpikir bagaimana caranya agar ia bisa terus aktif dalam pergerakan. Akhirnya ia memilih cara lain yaitu dengan membentuk sebuah grup sandiwara sejenis teater dan menamakannya Tonil Kelimutu dan atas hubungannya yang baik dengan pastor yang ditugaskan di Ende, akhirnya sandiwara itu dapat dipentaskan di gedung Maria Immaculata.

Banyak peristiwa yang terjadi selama Soekarno dan Inggit di Ende. Soekarno sempat terkena malaria dan Inggit harus menerima kenyataan bahwa ibunya, Amsi meninggal dunia dan dimakamkan di sana. Soekarno dan Inggit juga mengangkat anak dari keluarga Atmosudirjo, keluarga dari Jawa dan memberi nama Kartika.

“Inggit merupakan tiga bentuk dalam satu kepribadian. Yakni ibu, kawan dan kekasih yang selalu memberi tanpa harus menerima.”
(Poeradisastra – The X Files of Bung Karno)


Setelah dari Ende, pada tahun 1938. pemerintah Hindia-Belanda memutuskan untuk memindahkan Soekarno ke Bengkulu. Dengan tabah dan sabar, Inggit tetap setia menemani Soekarno untuk pindah ke Bengkulu. Pembuangan Soekarno ke Bengkulu dirasakan telah memutus hubungan peran politiknya dengan Indonesia. Dan hampir saja orang tidak mengingat lagi ada sosok bernama Soekarno. Di Bengkulu, Soekarno menjadi seorang guru di sekolah Muhammadiyah dan berkenalan dengan Ketua Muhammadiyah Bengkulu, Hasan Din. Karena melihat Soekarno sebagai guru dan dengan alasan agar melanjutkan sekolahnya, Hasan Din menitipkan anaknya yaitu, Fatmah pada Soekarno agar diasuh dan Soekarno mengganti namanya menjadi Fatmawati.

Seiring berjalannya waktu, Soekarno merasakan ada benih cinta antara dirinya dan Fatmawati. Inggit pun merasakan demikian. Hingga akhirnya Soekarno berterus terang tentang perasaannya itu pada Inggit dan tentang keinginannya untuk mempunyai keturunan. Pada film “Soekarno” garapan Hanung Bramantyo, kejadian itu digambarkan dengan marahnya Inggit pada Soekarno dan dengan tegas menolak untuk dipoligami. Dengan berpikiran logis bahwa Soekarno ingin mempunyai keturuan, akhirnya Inggit bersedia bila Soekarno ingin menikah lagi dengan syarat bercerai. Tetapi Soekarno tidak tega apabila harus menceraikan Inggit yang sudah begitu berjasa menemaninya selama hampir dua puluh tahun.

Hal ini menjadi demikian larut sampai akhirnya Soekarno dibebaskan dan kembali ke Jakarta. Pada saat itu kedudukan telah diambil alih oleh Jepang. Di Jakarta Soekarno bertemu dengan tokoh-tokoh pergerakan lainnya yang tergabung dalam 4 Serangkai yakni, Ia sendiri, Moh. Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan KH. Mas Mansyur. Dalam pergerakannya itu, keinginan Soekarno untuk mempunyai anak tidak pernah surut.

Soekarno akhirnya memutuskan untuk menceraikan Inggit pada tahun 1943. Atas pendapat teman-temannya yang tergabung dalam 4 Serangkai, Soekarno menceraikan Inggit dengan syarat agar Soekarno membelikan rumah untuk Inggit menikmati hari tuanya di Bandung. Soekarno pun menyanggupi syarat itu. Dalam masa tuanya Inggit tidak pernah menikah lagi dan menghabiskan masa tuanya di Bandung dengan kedua anak angkatnya Ratna Djuami dan Kartika. Ia bekerja sebagai pembuat jamu dan bedak kemudian dijualnya untuk menyambung hidup.

“Mencintai adalah menerima rasa sakit itu.”
(Inggit Garnasih, Kuantar Ke Gerbang – Ramadhan K.H)


Akhirnya sampailah pada akhir dari tugas seorang Inggit Garnasih sebagai sosok yang menemani dan mengantar Engkusnya (panggilan Inggti pada Soekarno) sampai ke gerbang kemerdekaan. Selesai sudah tugas Inggit sebagai Ibu, kawan dan kekasih yang setia bagi Bung Karno. Atau mungkin juga sebagai guru, sebagai teman seperjuangan dan pahlawan bagi Bung Karno.

Pada tahun 1960, Inggit sakit dan Bung Karno menjenguknya. Bung Karno mengakui bahwa Inggit lah tulang punggung dan tangan kanannya selama mereka berkeluarga dan dalam masa-masa sulit memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Hingga usia tuanya Inggit tetap bekerja dan meneruskan hidupnya di Bandung.

Pada tahun 1984, Inggit meninggal dunia empat belas tahun setelah kepergia Soekarno. Tepatnya pada tanggal 13 April 1984. Memang, nama ibu Inggit tidak sepopuler dibandingkan nama-nama yang saya sebutkan di atas. Tetapi peran Inggit Garnasih sangat berpengaruh pada pembentukan karakter Soekarno yang dikemudian hari menjadi Presiden Indonesia yang Pertama dan Sebagai Proklamator kemerdekaan Indonesia bersama Moh. Hatta.

“Aku telah mengantarkan seseorang sampai di gerbang yang amat berharga.”
(Inggit Garnasih, Kuantar Ke Gerbang – Ramadhan K.H)

Menurut kawan-kawan, pantaskah ibu Inggit mendapat gelar pahlawan?



Sumber: 
Metro TV. Melawan Lupa
Kuantar Ke Gerbang, Ramadhan K.H
Gambar : Google