Memang hujan selalu
saja mengerti situasiku. Aku rasa aku perlu berterimakasih dan membuat acara syukuran
kecil-kecilan dengan mengajak semua tetangga kamar kostku makan-makan di warung
Bu Estri. Bagaimana tidak, sebelum hujan turun, aku baru saja makan berdua
dengan Lisa dan mengajaknya jalan-jalan keliling kota. Walaupun sebenarnya bukan dalam suasana sengaja karena sebelumnya, Lisa meminta tolong untuk diantarkan ke rumah Bu Zum, Kaprodi kami. Katanya, ada suatu urusan yang penting. Apapun urusannya, untuk menolak, bagiku sangat-sangat mustahil.
Empat jam sudah kuhabiskan
waktu bersamanya untuk kemudian mengantarnya pulang dan ditutup dengan serbuan hujan. Hujan deras seperti ini akan sangat hidmat menemani tidur
bersama bayangan Lisa yang selalu memenuhi pikiranku. Tapi kuurungkan niat itu
karena hujan setengah lima sore seperti ini lebih istimewa bila kunikmati dengan menyeruput
kopi panas dengan diiringi lagu-lagu cinta Daniel Sahuleka. Oh, aku rasa ini perlu, rokok kretek akan lebih afdal tentunya.
Kehadiran Lisa memang
sangat menghiburku yang sedang dalam kondisi tak menentu setelah beberapa bulan lalu Wina, pacarku,
dan ibunya tiba-tiba datang ke kostku tanpa basa-basi memaksaku untuk
mengakhiri hubunganku dengannya. Waktu itu kulihat kesedihan di wajah Wina sangat jelas dan ia hanya bisa menunduk tanpa sekalipun melihat ke arahku. Aku
hanya ingat beberapa kata dari Ibunya bahwa sebentar lagi Wina akan dilamar
oleh anak dari teman ibunya. "Baik," kataku. Tanpa kutanyakan pendapat Wina yang menjadi pihak utama lainnya dalam hubungan ini. Bukan maksudku menyerah, hanya saja, diamnya Wina kuanggap sebagai suatu sikap persetujuan karena memang setelah orangtua Wina tahu bahwa anaknya akan wisuda lebih dulu dariku, sikap mereka menjadi sangat berbeda.
Itu
yang aku rasakan saat Wina wisuda satu tahun lalu. Ketika itu aku ditemani Yuda, teman
kostku yang sama-sama belum wisuda, hadir paling awal dan
membawa boquet bunga untuk kuberikan pada Wina sebagaimana layaknya orang kebanyakan. Bunga itu sudah kupesan sehari sebelumnya di toko bunga "Laras" depan hotel Dinasty Purwokerto. Toko bunga langganan kami, aku dan Wina. Aku tunggu sampai akhirnya Wina dan kedua orangtuanya keluar
dari gedung tempat acara wisuda.
Dari riuhnya peserta wisuda, kulihat Wina berjalan diiringi kedua orangtuanya. Om Irfan terlihat memakai setelan jas dengan dasi berwarna biru. Gagah. Aura bos memang tidak bisa dipisahkan dari sosoknya. Sementara Tante Santi sangat terlihat anggun. Berbalut tunik batik hitam, beliau terlihat sangat berwibawa. Kami, aku dan Yuda berjalan perlahan menuju gedung tempat wisuda. Ada rasa gemetar. Sedikit.
"Wina beruntung. Orangtuanya tajir," Ucap Yuda setengah berbisik.
"Mungkin. Yang aku tahu, bapaknya kepala cabang. Itu, Bank depan kampus kita." Jawabku.
"Oh, di situ kantornya?"
"Bukan. Terakhir Wina cerita, bapaknya baru mutasi. Kalau nggak salah di Magelang."
Langkahku semakin dekat ke arah Wina dan orangtuanya. Yuda masih mengawang-awang dan bertanya entah kepada siapa, berapa kira-kira gaji Om Irfan. Segera aku raih tangan Tante Santi, kusalami untuk kemudian berganti menyalami Om Irfan, menanyakan kabar sebagai bentuk hormat. Tidak ada senyum ataupun bertanya balik kepadaku. Singkat dan terkesan kaku. Pandanganku beralih ketika Wina menghampiriku.
“Wiiih cantik amat wisudawan satu ini. Selamat ya,” Aku menyelamati kelulusan Wina sembari kuserahkan bunga sebagai tanda suka cita.
“Kok wisudawan?" tanya Wina.
“Eh? Harusnya?" jawabku sekaligus balik bertanya.
“Wisudawati, dong. Kan cewek"
“Oh iya. Rada jarang dipakai sih, tapi baik. Aku ulang. Cantik amat wisudawati satu ini. Selamat ya,"
"Hehe, iya makasih. Kamu cepet-cepet nyusul, ya?"
"Hehe. Bismillah. Doain,"
“Hey, Anwar. Kok kamu ndak pakai toga seperti Wina gini?” sergah Om Irfan, ayah Wina, menyindirku dibarengi dengan asap rokok yang keluar dari mulutnya. “Kamu baca, Anwar. Tuh, Cumlaude.” Tambahnya.
“Saya nanti, Om, semester berikutnya. Semoga dikasih umur panjang. Minta doanya, Om. Biar
Wina dulu yang wisuda.” Kujawab seadanya supaya Om Irfan tidak menyinggung hal itu lebih jauh.
“Masak kuliahnya masuk
bareng, keluarnya sendiri-sendiri. Awas, tahu-tahu DO lho.”
“Minta doa, Om. Bukan DO."
“Anwar tinggal skripsi
saja, Ayah. Semester depan juga dia wisuda.” Ujar Wina membelaku.
Aku tahu Wina sedang
berbohong. Ia tidak ingin aku terlihat bodoh di depan orangtuanya. Karena
sebenarnya jangankan mengerjakan skripsi, judul skripsi yang aku ajukan saja sudah tiga
kali ditolak. Kata-kata Om Irfan entah mengapa membuat aku sedikit tersinggung
waktu itu. Kalau saja Om Irfan bukan ayah Wina, mungkin sudah aku rebut
rokoknya untuk kemudian kulempar ke kepalanya yang botak itu. Om Irfan yang dulu sangat baik padaku tiba-tiba sikapnya berbalik arah.
Mereka berfoto dengan teman, keluarga dan
wisudawan yang lain, setelah menunggu antrean panjang. Hari itu adalah hari raya bagi para pemotret wisudawan. Dengan background kain bergambar buku-buku, mereka yang wisuda berpose dengan bahagia yang sempurna. Suasana kaku aku rasakan selama menunggu mereka berfoto. Lidahku kelu, hanya bisa memandangi senyum, tawa dan antrean panjang mereka yang menunggu giliran berfoto. Begitu kontras terasa. Hanya arak-arakan teman-teman mahasiswa dari jurusan teknik yang bisa memecah perasaan sedihku, walau sebentar.
"SOLIDARITY FOREVER!!!" teriak barisan mahasiswa teknik mesin. Kulihat teriakan itu dikomandoi oleh si Farid. Teman sekaligus tetangga kamar kostku.
Sampai pada saat Wina mengajakku untuk berfoto dengan ayah
dan ibunya. Kulihat Om Irfan sedang menerima telpon entah dari siapa. Sementara Tante Santi, istrinya,
kulihat berbincang dengan sesama wali wisudawan. Aku menolak ajakan Wina untuk ikut berfoto walaupun
sebenarnya aku sangat ingin. Untungnya, Wina terus memaksaku. Ia menarik
tanganku dan berjalan ke arah orangtuanya.
“Ayah, ibu, foto satu
kali lagi ya. Kali ini sama Anwar.” Ujar Wina.
“Sepertinya kapan-kapan
saja, Nduk. Ini Ayah baru ditelpon teman. Ada urusan penting katanya.”
“Sama. Ibu juga sudah
ada janji. Tante Rima, itu lho Nduk, yang kemarin ibu cerita ke kamu. Dia mau
datang dengan anak laki-lakinya yang baru pulang dari Jerman. Sekarang mereka di Meteeor. Nunggu kita,” UcapTante
Santi. “Kami duluan ya, Nak Anwar. Ayok, Nduk.” Imbuhnya sambil bersiap untuk pulang. Kalau kalian ingin tahu, Meteeor yang dimaksud Tante Santi adalah restoran di Jalan Jenderal Sudirman. Dekat Hero Housewares.
“Oh iya, Om, Tante, silakan. Sampaikan salam saya ke anaknya teman Tante yang dari Jerman itu. Hati-hati, selamat siang Om,
Tante. Kami juga permisi.”
Wina hanya bisa menatapku tanpa bisa menolak ajakan Ibunya. Aku merasakan ada rasa tidak enak hati dalam dirinya. Itu juga yang membuatku akhirnya memilih untuk permisi agar tidak ada semacam konflik di hari kelulusan Wina. Hari yang menurutku harus diisi dengan penuh tawa, bahagia dan kelegaan. Aku tidak ingin mengambil peran sebagai perusak masa-masa itu walaupun sebenarnya aku ingin merayakan lebih lama dengan Wina.
Berantakan sudah harapanku yang hanya ingin sekedar foto bersama pacar dan kedua
orangtuanya. Boro-boro foto dengan orangtuanya, foto berdua dengan Wina saja aku tidak
sempat. Besoknya, Wina menemuiku dan meminta maaf atas sikap kedua
orangtuanya. Dan entah mengapa sikap Wina juga semakin dingin dan perlahan
menjauh dariku. Hubungan kami semakin dingin. Sampai akhirnya kami putus, maaf kuralat, kami diputuskan oleh orangtua
pacarku sendiri. Hari-hari selanjutnya berulang kali kucoba menghubungi Wina tapi tidak ada respon. Maka semenjak saat itu, hari-hariku juga berubah sepi.
***
Tapi masa-masa itu sedikit demi sedikit menguap dari ingatanku seiring dengan
kehadiran Lisa. Apalagi saat hujan seperti ini. Kubuka jendela kamar agar hujan bisa mencium aroma kopi yang baru
saja kubuat. Rokok kretek empat batang sisa jalan-jalan bersama Lisa tadi,
kuambil satu dan kunyalakan. Poster Jimmi Hendrix saat tampil di Woodstock yang
kutempel di dekat jendela pun seolah tahu suasana hatiku dan ingin ikut serta
melengkapi dengan atraksi gitarnya. Terimakasih Jimmi.
Lisa adalah mahasiswi
di jurusanku dan sekarang dia semester tujuh. Jangan tanyakan sekarang aku
semester berapa. Karena aku sama sekali sedang tidak ingin membahas hal itu. Lisa
saja yang sedang ingin kubahas. Aku sudah jalan dengannya sekitar empat kali
sejak perkenalan di acara Bulan Seni fakultas satu bulan lalu. Itu terjadi karena kami sama-sama menjadi pengisi acara. Lisa tampil dengan membawakan puisi berjudul "Nyanyian Angsa" karya W.S Rendra. Yang menjadi pertanyaan
adalah, kemana saja aku selama ini? Sampai-sampai aku tidak menyadari bahwa ada
perempuan jelita di jurusanku! Bila kau tahu Paramitha Rusady, begitulah, kira-kira gambaran wajah Lisa.
Sangking khusuknya aku
mengingat-ingat kembali semua yang sudah aku lakukan dengan Lisa, tak terasa
rokokku semakin pendek dan baru kusadari setelah jariku terasa panas. Aku
buang puntung rokok itu, kemudian kusambung lagi dengan rokok kedua. Semakin
dalam aku membayangkannya, semakin hilang sosok Wina yang lama memenuhi pikiranku.
Aku juga baru sadar rupanya hujan turun semakin deras.
Masih bisa kuingat
dengan jelas saat pertama kali kuajak Lisa jalan. Malam sebelumnya, dia bertanya
apakah aku masih punya buku salah satu mata kuliah yang wajib untuk dibawa.
Tentu saja aku masih punya karena aku mengulang mata kuliah itu. Untungnya, aku tidak satu kelas dengan Lisa. Perkara nanti bila
aku membutuhkannya, itu soal gampang. Aku bisa pinjam ke Yuda. Akhirnya, kupinjamkan buku
itu pada Lisa dengan syarat dia harus mau kuajak makan lumpia boom di depan hotel Aston Purwokerto yang sedang dalam proses pembangunan. Lisa setuju dengan syarat itu dan bingo!
Ini saat-saat yang paling kutunggu.
Setelah hampir sehari penuh jalan-jalan, akhirnya kuantar Lisa pulang. Dari depan rumahnya, kulihat ada
seorang ibu-ibu yang sedang membopong bayi. Aku mengira-ngira itu ibunya dan bayi yang dibopong itu mungkin keponakannya. Karena Lisa pernah bercerita kalau ia punya kakak perempuan yang bekerja di salah satu bank swasta nasional. Lisa menawariku
untuk mampir tapi kutolak karena aku sudah ada janji dengan Yuda untuk menghadiri agenda diskusi formalitas bersama organisasi yang aku ikuti. Sebenarnya, aku lebih tertarik menerima ajakan Lisa. Tapi, Yuda sudah menunggu di kostku dan itu harus aku tepati. Setelah
melihat Lisa masuk, segera kutancap gas setelah sebelumnya kulemparkan
senyuman pada ibu-ibu yang sedang membopong bayi itu, dan ia pun
membalasnya. Terimakasih, calon mertua yang baik!
Hari-hari berikutnya
aku seperti terlahir kembali. Walaupun tidak ada kuliah, setiap hari aku bangun
pagi untuk kemudian berangkat ke kampus hanya ingin bertemu dengan Lisa. Harus aku akui, Lisa memang perempuan
yang menurutku baik, cantik, dan memiliki tanggungjawab. Aku memang belum mengungkapkan perasaanku
padanya karena aku tidak ingin terburu-buru. Lagi pula baru sebentar aku
mengenalnya. Aku takut kalau sampai Lisa merasa bahwa aku terlalu agresif. Sampai pada saat dimana
Lisa bertanya padaku ketika di atas motor dalam perjalanan pulang setelah bersama-sama menghadiri acara.
“Kamu kok masih betah
aja di kampus?”
Ternyata Lisa pintar
dalam menyederhanakan bahasa. Tapi kalau dia bertanya, ”Kok kamu nggak
lulus-lulus?” pun aku tidak akan tersinggung. Maka kujawab dengan sedikit
menggombal.
“Gimana nggak betah, kan
ada kamu. Hehe.”
“War, Anwar. Aku aja
ingin cepet lulus.”
“Hehe.”
“Ih ketawa mulu. Kuliah
yang bener, War. Jangan sering bolos.” Kata Lisa memberi ceramah.
“Iya, Sa. Bismillah. Judul skripsiku kemarin
sudah di acc lho.”
“Serius? Selamat ya.”
“Hehe.”
"Eh, mampir toko deket pasar manis ya, War. Aku ada beli keperluan."
"Apa? Pasar Lisa manis?" Sedetik kemudian aku merasakan ada sakit di punggungku. Lisa mencubitku lumayan keras.
"Pasar manis, War."
"Iya. . . iya. Toko Mas Deden?"
"Iya, kok kenal?"
"Yah, Sa. Ini Purwokerto, Sa. Bukan Rusia."
"Gede banget kalo Rusia, War."
"Makanya."
Kukira dia akan menyinggung soal apa tujuanku melakukan pendekatan kepadanya. Tapi itu bukan masalah bagiku. Karena suatu saat aku akan mengungkapkan perasaan ini tanpa Lisa harus menyinggungnya lebih dulu.
Lisa. Monalisa,
Lisa A. Riyanto, Lisa Marie Presley, Lisa Kudrow, Lisa Kleypas, Lisa Bonet,
Lisa Simpson, Lisa Ono, Lisa Natalia, Lisa Patsy. Biarlah mereka dengan kehidupannya sebagai seorang Lisa yang lain. Tapi aku berharap kamu tetap jadi Lisa yang bisa kuajak jalan. Lisa yang sering kali menyanyikan “I’ll Be There” dan menurutku lebih bagus dari Mariah Carey. Lisa yang bila kuantar pulang, selalu minta untuk mampir sebentar ke mini market untuk membeli susu dan popok. Benar-benar keponakan yang beruntung punya tante sebaik Lisa.
***
Aku masih dengan posisi seperti tadi. Duduk menghadap jendela, menikmati kopi dan merokok kretek. Dari kaset album Daniel Sahuleka yang kuputar, gilirian lagu "Don't Sleep Away This Night" melantun merdu. Aku ikut bernyanyi dengan mengganti sedikit lirik pada bagian reff, Don't sleep away this night my Lisa. . . . . .
Langit mendung ditambah pikiranku yang melayang jauh bersama Lisa, ternyata mampu membuatku lupa waktu. Tak terasa ternyata jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam ketika kunyalakan telepon genggamku. Kuletakkan kembali dan selang beberapa detik ada panggilan masuk. Ternyata Lisa! Lisa menelponku!
"Hallo? War? Anwar?"
Terdengar suara Lisa dari seberang sana. Tapi kenapa nada suaranya seperti orang panik?
"Hallo," kataku. "Kenapa, Sa?"
"War tolong aku, War. Kamu ke rumah sekarang! Cepat tolong antar aku ke rumah sakit."
"I. . .iya, tapi siapa yang sakit?"
Tut, tut, tut.
Aku ikut panik karena tiba-tiba Lisa mematikan teleponnya. Segera kuambil kunci motor dan mantel kemudian langsung tancap gas menuju rumah Lisa di daerah Jalan Gereja. Dari tempat kostku yang berada di perumahan Purwo Kencana, perlu waktu sekitar sepuluh menit untuk sampai rumahnya. Benar. Sekitar sepuluh menit kemudian aku sudah sampai di depan rumah Lisa. Aku langsung masuk karena gerbang rumahnya tidak dikunci. Setelah kuparkirkan motorku di depan teras dan melepas mantel, segera aku menuju pintu dan mengetuknya.
"Assalamu'alaikum, Sa,"
"Wa'alaikumsalam," terdengar jawaban dari dalam rumah. Pintu pun terbuka.
"Alkhamdulillah, Nak Anwar. Maaf ya, Nak, jadi merepotkan Nak Anwar," Ibunya Lisa menyambutku dengan sikap panik.
"Siapa yang sakit, Tante?"
"Ayok cepat, Bu," tiba-tiba Lisa keluar dari kamar diikuti mbak-mbak, kulihat lebih tua dari Lisa, membawa tas lumayan besar. "War, kamu bisa nyetir mobil, kan? tolong antar kami ke rumah sakit," kata Lisa sambil memberiku kunci mobil. Kulihat Lisa sangat panik dan tergesa-gesa.
Aku berlari menuju mobil sedangkan Lisa kembali ke kamar. Beberapa menit kemudian Lisa keluar sambil membopong bayi bersama ibunya. Mbak-mbak yang tadi membawa tas, memayungi mereka dari belakang dan berjalan menuju gerbang setelah Lisa dan ibunya masuk mobil.
"Rumah Sakit Bunda Arif, Nak Anwar," Kata Ibunya Lisa yang tidak sempat kuketahui siapa namanya.
"Rada cepet ya, War," Lisa menambahi.
"I. . . i. .iya, Sa."
Sepanjang jalan aku hanya fokus menyetir untuk bisa cepat sampai rumah sakit. Lisa terlihat sedih dan paniknya belum juga menghilang. Aku bingung. Sementara Ibunya mencoba menenangkan Lisa dan sesekali berkata, "Hati-hati, Nak Anwar."
Sesampainya di rumah sakit, dengan buru-buru, aku turun memanggil perawat dan kembali lagi ke mobil. Dari dalam mobil, ibunya Lisa memberiku payung lalu kubuka pintu untuk Lisa dan ibunya keluar. Perawat dengan segera membawa Lisa dan si bayi itu menuju ruang pemeriksaan. Hujan belum juga memberi tanda akan reda.
Aku dan ibunya Lisa duduk menunggu di kursi depan ruangan pemeriksaan. Aku bingung bagaimana harus membuka obrolan dengan beliau. Karena memang baru kali ini aku bertemu dan entah mengapa harus dalam keadaan seperti ini. Tapi bila kulihat-lihat ibunya Lisa terlihat masih muda walaupun beliau sudah punya cucu. Kulihat tangannya sibuk mengetik pesan. Mungkin sedang memberi kabar pada kakaknya Lisa bahwa anaknya masuk rumah sakit. Karena semenjak tadi aku tidak melihat kakaknya Lisa. Setelah berhenti mengetik pesan dan melepas kacamatanya, ibunya Lisa mencoba membuka obrolan denganku.
"Nak Anwar. Tante terimakasih banyak sudah mau direpotkan. Maaf ya, Nak Anwar," katanya.
"Waduh, nggak apa-apa, Tante. Saya senang bisa membantu. Hanya tadi saya panik waktu Lisa tiba-tiba menelpon. Memangnya kalau boleh tahu, itu dedeknya kenapa, Tante?"
"Itu tadi sore waktu Lisa baru pulang si Adi sudah agak panas badannya," ujarnya. Aku jadi tahu ternyata nama bayi itu Adi. "Tapi tadi sekitar habis maghrib badannya makin panas. Lisa panik dan langsung telpon kamu, Nak. Karena walaupun di rumah ada mobil, tapi yang bisa nyetir cuma Bunga, anak tante yang pertama, tapi dia sedang ada urusan di luar kota. Ini barusan tante kasih kabar ke dia." Lanjutnya.
"Iya, Tante. Harus dikasih kabar. Mbak Bunga harus tahu kalau anaknya sakit," kataku.
"Lho? Bukan, Nak. Adi bukan anaknya Bunga. Bunga belum menikah. Tante juga heran, dia belum kepengin nikah. Malah makin betah sama kerjaannya."
Mendengar hal itu aku terkejut. Aku diam untuk beberapa saat. Kalau Bunga belum menikah, lalu siapa orangtua Adi? Apa mungkin Adi adiknya Lisa? Apa mungkin, Lisa punya kakak lain selain Bunga? Aku mengambil kesimpulan bahwa Adi adalah anak kakaknya Lisa yang lain.
"Adi itu anaknya Lisa, Nak Anwar.
"Anaknya Lisa, Tante?" tanyaku tersentak tak menyangka. Tapi sebisa mungkin kukendalikan sikapku.
"Iya, Nak. Lisa ndak pernah cerita, to? Lisa memang begitu, Nak. Dia pernah bilang ke Tante kalau dia tidak akan memberi tahu kepada teman-teman kampusnya bahwa ia sudah menikah. Karena Lisa takut kalau teman-temannya tahu, mereka akan bersikap berbeda. Takut kalau mereka akan berpikiran bahwa ndak enak mengajak main orang yang sudah mempunyai suami. Apalagi punya anak seperti Lisa. Lisa menikah saat umurnya dua puluh tahun. Kira-kira semester empat. Sempat cuti kuliah juga, Nak. Tapi teman-temannya ndak ada yang tahu. Tahunya Lisa cuti karena ingin mengurus bisnis ayahnya yang meninggal sebelum Lisa masuk kuliah. Suaminya itu polisi, sekarang tugas di Semarang. Makanya tante suruh Lisa tinggal di rumah tante. Kasihan dia. Harus kuliah, ngurus anak juga." Jelas ibunya Lisa.
Selama ibunya Lisa menjelaskan panjang lebar tentang Lisa, aku sama sekali tidak memperhatikannya. Pikiranku kacau. Berantakan. Tak bisa berpikir jernih. Aku hanya memandangi beliau dengan tatapan kosong. "Suaminya tugas di Semarang ya, Tante." Hanya kalimat itu yang keluar dari mulutku. Gemetar, Lirih, tak bertenaga, dan sumbang.