Aku adalah luka. Luka yang baru-baru ini tergores, goresan yang begitu dalam. Terlebih kembali harus kurasakan ketika air garam menambah lara dan perih mengenai lukaku. Aku tak pernah mengira-ngira setelah sekian lama menjalin hubungan yang begitu membuat hati ini semangat, ceria dan penuh gairah harus terbenam dan tak bisa kembali ke permukaan. Aku tahu, mungkin memang suatu perpisahan tak selalu harus memiliki alasan, tapi aku tetap yakin bahwa suatu peristiwa harus memiliki sebab untuk memulai dan mengakhiri. Ini yang aku pelajari dari adanya hukum sebab-akibat. Oh, maaf terlalu teoritis, namun begitulah alam bekerja.
Lima tahun. Begitu singkat bila hanya sebatas angka. Begitu singkat bila hanya sebatas kata, dan begitu singkat bila sudah berlalu. Dalam waktu lima tahun, posisi presiden dalam suatu negara bisa berganti. Lima tahun, pembangunan suatu wilayah bisa rampung dengan perencanaan yang baik. Lima tahun, nama seseorang bisa bertambah panjang dengan bertambahnya titel gelar akademik yang ditempuhnya. Namun ini bukan soal demikian. Ini tentang suatu kedekatan, kebersamaan, penjajakan dan kenangan yang terbangun dalam suatu proses waktu yang menurutku panjang.
Aku sadar bahwa selama menjalin hubungan, banyak persoalan yang harus dilalui dan dihadapi. Karena menyatukan dua manusia, tak hanya menyatukan rasa. Masih ada embel-embel panjang di belakangnya. Hati, pengertian, perlakuan, pengorbanan. Semuanya perlu. Seperti sebuah kapal, bila tak ada lautan, tak bisa lah ia berlayar. Atau seperti sebatang rokok, bila tak ada pemantik, tak mungkin bisa dihisap lah rokok itu. Aku tak ingin hubungan ini hanya sebatas kebersamaan. Karena bersama, sama sekali berbeda dengan bersatu.
Ini aku dengan segala ketidaktahuanku. Aku dengan segala yang kubisa, aku dengan segala yang kumampu untuk bisa selalu pantas dan selalu belajar untuk memantaskan diri bila sedang bersamamu. Aku yang selalu berbangga hati bila dapat membuat sudut bibirmu membentuk sebuah senyuman. Aku yang selalu merasa istimewa bila dapat membuat tawamu lepas, walau kau selalu menutupi tawa indah itu dengan salah satu tanganmu. Aku hanya bisa mengira bahwa kau hanya ingin menyimpan tawa indah itu untukku. Kau tidak ingin membiarkan laki-laki lain melihat tawa indahmu. Hanya untukku. Terimakasih. Kata yang selalu kuucapkan setiap kali kau tertawa karenaku.
Kau selalu bilang bahwa jarak tidak akan bisa mengganggu, menggugat ataupun merusak hubungan ini. Jarak bukan menjadi sekat untuk mengungkapkan rasa rindu, bertanya kabar dan bercerita panjang lebar. Jarak hanya jarak. Sekalipun kita tak mampu menggulungnya. Dan aku selalu percaya itu. Apalagi kata-kata itu keluar dari mulut indahmu yang menurutku, benar. Jujur harus kukatakan, rindu ini tak bisa kubendung bila kau tutup kata-kata itu dengan rekaman lagu When You Tell Me That You Love Me yang kau nyanyikan dan kirimkan. Ingin rasanya kuminta lagu itu dari Diana Ross, agar hanya kau saja yang menyanyikannya untukku.
Teruntuk perempuanku lima tahun lalu. Aku kembali. Kembali ke kota di mana tempat kisah kita dimulai. Kembali dari jarak yang menjadi sekat hubungan kita. Menunggu tentang kabarmu. Walau kini kau bukan lagi perempuan yang selalu menanti saat aku pulang. Bukan lagi perempuan yang selalu manja memintaku untuk memijit kepalamu ketika semua aktifitas mengalahkan tubuhmu. Bukan lagi perempuan yang selalu memintaku untuk menghabiskan sisa makananmu yang tak pernah kau habiskan. Tapi sungguh. Aku masih ingat dan ingin mengulang saat-saat itu. Senja pun selalu datang lebih dini, saat aku mengingatnya.
Teruntuk perempuanku lima tahun lalu. Setelah kau bilang tidak lagi bisa melanjutkan dan mempertahankan hubungan ini, seketika tubuhku goyah. Semua seperti hilang begitu saja. Tak bisa kusangga tubuhku sekalipun dengan tenaga yang tersisa. Hari-hariku sepi. Hanya bisa kuhibur lewat asap yang keluar dari mulutku. Aku tenggelam dalam muara kesunyian. Semakin dalam dan semakin dalam. Malam-malamku berlalu begitu saja yang sebelumnya selalu kunanti dan kupuja. Tentu kau tahu, kita selalu menghabiskan malam tanpa sisa. Lewat pesan singkatmu, kunikmati malam dengan sesekali tertawa ketika kau bertanya, "mengapa kita tidak tidur saja dan bercinta dalam mimpi?". Ternyata asmara bisa mengurung otak agar tidak lagi mengenal logika berpikir.
Aku tak bisa lagi menikmati setiap ulur waktu yang sudah menjadi jatahku. Ingin rasanya aku kembali ke masa itu saat kau duduk di sampingku. Kujamah tanganmu agar bisa kurasakan kehangatan lewat ujung jariku. Tanganmu yang halus tak pernah menolak. Menyambut dengan anggun dan menggenggam erat.
Teruntuk perempuanku lima tahun lalu. Kini kudengar kau sudah beda. Kau sudah sangat bisa membagi waktumu. Kau nikmati setiap detik antara kesibukanmu dengan kisah baru. Seseorang telah mengembalikan senyumanmu dan memberikan waktu untukmu. Sesuatu yang tak pernah kau dapatkan dariku selama lima tahun ini. Bersama melewati setiap harimu. Menikmati indahnya apa yang selalu orang sebut dengan kebersamaan. Aku senang. Aku senang mendengar itu. Walaupun dengan munafik aku mengatakannya. Padahal aku tahu, aku sedang berpura-pura merasakan apa yang sedang kau alami. Mungkin dengan berpura-pura, pelan-pelan aku akan bisa sepertimu. Menemukan apa yang bisa mengembalikan gairahku. Bukan seseorang tentunya, karena sampai saat ini hanya kau yang bisa mengembalikan semua itu.
Untuk sementara waktu, aku menjadi buta. Buta dan berhenti dari persoalan asmara. Aku akan kembali membangun harapan. Meninggalkan kota ini, meninggalkan kisah yang sementara akan ku tutup rapat. Kembali membangun jarak denganmu. Denganmu yang sudah lebih dulu menutup rapat kisah ini. Aku tak tahu kapan kau akan kembali membukanya. Ah, aku salah. Kau telah membukanya dengan seseorang yang baru. Nikmatilah. Bila kau dalam masalah, sampaikan padaku, tentunya kau masih punya nomor untuk menghubungiku. Atau kau sudah menghapusnya? Tak apa. Kau tanyakan saja pada temanmu. Tentu mereka memberikannya dengan senang hati walau dengan menyelipkan beberapa pertanyaan tentang diriku.
Terimakasih. Aku tak akan membawa kisah ini. Akan kusimpan dalam lemari kenanganku. Aku harap kau bisa menikmati waktu dalam bingkai kebersamaan.
(Cerita Dari Sahabat)
Kau selalu bilang bahwa jarak tidak akan bisa mengganggu, menggugat ataupun merusak hubungan ini. Jarak bukan menjadi sekat untuk mengungkapkan rasa rindu, bertanya kabar dan bercerita panjang lebar. Jarak hanya jarak. Sekalipun kita tak mampu menggulungnya. Dan aku selalu percaya itu. Apalagi kata-kata itu keluar dari mulut indahmu yang menurutku, benar. Jujur harus kukatakan, rindu ini tak bisa kubendung bila kau tutup kata-kata itu dengan rekaman lagu When You Tell Me That You Love Me yang kau nyanyikan dan kirimkan. Ingin rasanya kuminta lagu itu dari Diana Ross, agar hanya kau saja yang menyanyikannya untukku.
Teruntuk perempuanku lima tahun lalu. Aku kembali. Kembali ke kota di mana tempat kisah kita dimulai. Kembali dari jarak yang menjadi sekat hubungan kita. Menunggu tentang kabarmu. Walau kini kau bukan lagi perempuan yang selalu menanti saat aku pulang. Bukan lagi perempuan yang selalu manja memintaku untuk memijit kepalamu ketika semua aktifitas mengalahkan tubuhmu. Bukan lagi perempuan yang selalu memintaku untuk menghabiskan sisa makananmu yang tak pernah kau habiskan. Tapi sungguh. Aku masih ingat dan ingin mengulang saat-saat itu. Senja pun selalu datang lebih dini, saat aku mengingatnya.
Teruntuk perempuanku lima tahun lalu. Setelah kau bilang tidak lagi bisa melanjutkan dan mempertahankan hubungan ini, seketika tubuhku goyah. Semua seperti hilang begitu saja. Tak bisa kusangga tubuhku sekalipun dengan tenaga yang tersisa. Hari-hariku sepi. Hanya bisa kuhibur lewat asap yang keluar dari mulutku. Aku tenggelam dalam muara kesunyian. Semakin dalam dan semakin dalam. Malam-malamku berlalu begitu saja yang sebelumnya selalu kunanti dan kupuja. Tentu kau tahu, kita selalu menghabiskan malam tanpa sisa. Lewat pesan singkatmu, kunikmati malam dengan sesekali tertawa ketika kau bertanya, "mengapa kita tidak tidur saja dan bercinta dalam mimpi?". Ternyata asmara bisa mengurung otak agar tidak lagi mengenal logika berpikir.
Aku tak bisa lagi menikmati setiap ulur waktu yang sudah menjadi jatahku. Ingin rasanya aku kembali ke masa itu saat kau duduk di sampingku. Kujamah tanganmu agar bisa kurasakan kehangatan lewat ujung jariku. Tanganmu yang halus tak pernah menolak. Menyambut dengan anggun dan menggenggam erat.
Teruntuk perempuanku lima tahun lalu. Kini kudengar kau sudah beda. Kau sudah sangat bisa membagi waktumu. Kau nikmati setiap detik antara kesibukanmu dengan kisah baru. Seseorang telah mengembalikan senyumanmu dan memberikan waktu untukmu. Sesuatu yang tak pernah kau dapatkan dariku selama lima tahun ini. Bersama melewati setiap harimu. Menikmati indahnya apa yang selalu orang sebut dengan kebersamaan. Aku senang. Aku senang mendengar itu. Walaupun dengan munafik aku mengatakannya. Padahal aku tahu, aku sedang berpura-pura merasakan apa yang sedang kau alami. Mungkin dengan berpura-pura, pelan-pelan aku akan bisa sepertimu. Menemukan apa yang bisa mengembalikan gairahku. Bukan seseorang tentunya, karena sampai saat ini hanya kau yang bisa mengembalikan semua itu.
Untuk sementara waktu, aku menjadi buta. Buta dan berhenti dari persoalan asmara. Aku akan kembali membangun harapan. Meninggalkan kota ini, meninggalkan kisah yang sementara akan ku tutup rapat. Kembali membangun jarak denganmu. Denganmu yang sudah lebih dulu menutup rapat kisah ini. Aku tak tahu kapan kau akan kembali membukanya. Ah, aku salah. Kau telah membukanya dengan seseorang yang baru. Nikmatilah. Bila kau dalam masalah, sampaikan padaku, tentunya kau masih punya nomor untuk menghubungiku. Atau kau sudah menghapusnya? Tak apa. Kau tanyakan saja pada temanmu. Tentu mereka memberikannya dengan senang hati walau dengan menyelipkan beberapa pertanyaan tentang diriku.
Terimakasih. Aku tak akan membawa kisah ini. Akan kusimpan dalam lemari kenanganku. Aku harap kau bisa menikmati waktu dalam bingkai kebersamaan.
(Cerita Dari Sahabat)