Monday, 18 July 2016

Aku Ingin Malam Saja. Eps. I

     Jalan kota mulai riuh. Suara klakson motor maupun mobil saling beradu. Memang seperti itu setiap jam empat sore. Jamnya orang mulai pulang kerja kalau kata orang. Tapi Gadis berambut panjang itu bukan sedang dalam perjalanan pulang dari tempat kerja. Ia baru selesai menghadiri rapat organisasi UKM kampus yang ia ikuti. Sembilan puluh detik lampu hijau menyala, tak cukup untuk menyudahi barisan panjang kendaraan yang sedari tadi menunggu ingin cepat meneruskan perjalanan. Ada yang tak henti membunyikan klakson, menyalakan rokok, dan ada yang tak menyerah mencari celah diantara pengguna kendaraan lain untuk bisa merangsak ke depan. Ternyata gadis itu, Gita, tak kebagian lampu hijau. Lihat saja, ia terhambat mobil pick up yang harus mendahulukan motor di depannya berjalan. Lampu kini telah berganti menjadi merah. Ia kembali harus bersabar untuk beberapa detik. Beruntung posisinya kini berada paling depan, hanya beberapa senti dari zebra cross. Tapi Gita tetap tenang. Terang saja, ada earphone terpasang di salah satu telinganya. Biasanya ia paling tidak suka kalau berada dalam kondisi seperti itu, apalagi melihat banyak orang penuh sesak menunggu lampu hijau menyala. Hal yang dari dulu paling ia benci. Mungkin juga semua orang. Ternyata musik membuat kesabarannya berguna. 

     Masih setengah jam lagi untuk bisa sampai rumah. Tapi Gita ingin mampir sebentar ke warung kopi tempat biasa ia nongkrong. Sendiri. Di perjalanan, sudah beberapa kali suara lirihnya menyanyikan hampir semua lagu yang ia punya dalam daftar lagu di handphone-nya. Kali ini lagu nobody knows you when you're down and out yang ditulis oleh Jimmy Cox dan di cover Eric Clapton mendapat jatah untuk dinyanyikan. Bibir mungilnya dengan lirih mendendangkan lagu itu. Sesekali jemari tangan kirinya bergerak mengikuti ketukan lagu. Sekitar beberapa menit dari traffic lamp, akhirnya ia hampir sampai di warung kopi tempat biasa ia nongkrong. Lampu sen kanan ia hidupkan. Seketika beberapa kendaraan di belakang Gita melambatkan lajunya, mempersilahkan Gita untuk berbelok ke arah kanan. Sampai lah Gita di warung kopi yang di atasnya terpampang tulisan, "Warung Kopi Gini Aja". Warung Kopi itu terletak di daerah GOR SATRIA Purwokerto. Tempat yang kini seolah menjadi pusat kuliner. Karena hanya dalam beberapa tahun saja berbagai macam restoran, cafe dan tempat nongkrong berdiri di sana bak jamur tumbuhdimusim penghujan. Sangat berbeda sekali ketika kali pertama Gita berkunjung ke daerah itu. 

     Warung Kopi Gini Aja masih terlihat sepi. Setelah memarkirkan motor maticnya, segera Gita berjalan masuk menuju tempat pemesanan. Gita memang sudah tidak asing lagi bagi si pelayan warung kopi. Sekitar lima kali dalam seminggu, Gita menyempatkan diri untuk mampir walau dalam keadaan sesibuk apapun. Lihat, sangking begitu akrabnya Gita dengan si pelayan, sampai-sampai Gita masuk dalam area meja barista untuk meracik kopi yang ingin dibuatnya. Si Pelayan, sama sekali tidak merasa keberatan dengan itu. Bahkan dengan sabar ia mendampingi Gita meracik kopinya, sembari menunggu barista warung datang. Karena Gita belum hapal benar dengan alat-alat untuk membuat secangkir kopi dari mulai masih berbentuk biji sampai menjadi kopi yang siap untuk diminum.

     Secangkir kopi Sumatra sudah siap di meja. Sebelum bibir mungil Gita menyeruput kopi itu, dengan mata terpejam dihirupnya aroma kopi Sumatra yang terkenal memiliki aroma yang sangat menenangkan dan membuat rileks. Paling tidak bagi Gita. Karena memang, setelah menghirup aroma kopi, Gita merasakan beban di pikirannya seoalah hilang sama sekali. Apalagi setelah ia menyeruput kopi itu. Suasana nyaman seketika merasuk dalam tubuh kecilnya. Sebenarnya Gita bukan seorang yang fanatik dengan kopi. Namun karena ada salah seorang teman yang mengajaknya ke Warung Kopi Gini Aja dan memesan kopi Sumatra, Gita langsung suka dengan aromanya kemudian mencobanya. Semanjak itu Gita menjadi penikmat kopi yang hampir ke level fanatik.
     
     Jam menunjukkan pukul empat lewat empat puluh tiga menit. Gita merasa ada yang janggal dengan keadaan warung kopi itu. Dengan seksama ia memandang dan mengamati keadaan warung kopi. Semuanya terlihat sama. Foto-foto grup band seperti The Beatles, Queen, BB King, Godbless terpampang rapi. Masih sama seperti terakhir kali ia datang. Untuk beberapa saat akhirnya Gita menemukan ada sedikit perbedaan di salah satu sisi dinding. Ada sebuah lukisan besar di sana. Lukisan dengan tema pewayangan. Dalam lukisan itu ada salah satu tokoh pewayangan yang amat dikenalnya. Perlahan Gita mendekati lukisan itu dan benar apa yang ia duga sebelumnya. Tokoh pewayangan dalam lukisan itu adalah Kumbakarna, saudara kandung raja raksasa dari kerajaan Alengka, Rahwana, dalam cerita Ramayana. Jemarinya mulai meraba lukisan itu.

     Sementara Gita sedang serius mengamati lukisan, si barista, Ronny, datang dengan menenteng dua kantong kresek. Pria berambut gondrong itu berjalan hampir tidak mengeluarkan suara. Ia berjalan setengah berjinjit. Rupanya ia ingin membuat kaget cewek yang sedang serius mengamati lukisan yang berbeda dari semua lukisan yang ada di warung kopi itu. Ronny sampai di meja kerjanya. Setelah memasang apron berwarna cokelat yang biasa ia pakai, tangan kanannya gesit menata meja kerjanya yang sedikit berantakan. Ternyata Gita belum sempat membereskan meja yang sebelumnya ia gunakan untuk membuat secangkir kopi Sumatra. 

     "Kenapa Git? keren nggak"? tanya si Barista.
     Gita terkaget. Kemudian dengan cepat ia menarik tangannya dari lukisan itu, dan berbalik ke arah si barista.
     "Lho? Ron? Kapan dateng? tadi perasaan nggak ada kamu deh?" Tanya Gita sedikit aneh.
   "Lah? emang dari tadi aku di sini kan?" jawab Ronny. "Tadi pertanyaanku belum kamu jawab. Gimana? lukisannya keren nggak?" sambung Ronny.
    "Emang dari tadi kamu nggak ada kok. Tukang bohong dasar!" Ejek Gita. Mendengar ada seorang pelanggan mengejeknya, Ronny hanya tertawa kecil.
     "Ni lukisan keren banget, Ron, sumpah. Tapi kemaren-kemaren perasaan aku nggak lihat lukisan ini deh, baru?" Tanya Gita.
    "Iya baru tuh. Makanya tadi ni warung baru buka jam tengah empat. Tadi aku nemenin Si Bos nyari-nyari lukisan." Jelas Ronny. "Itu kan tembok kosong banget, makanya Bos pengin ada sesuatu di situ biar keliatan nggak kosong banget." Imbuhnya sembari menata gelas.
    "Oh gitu." Jawab Gita sambil manggut-manggut. "Ini keren banget tahu, Ron sumpah." Lanjutnya.     "Keren? atas dasar apa kamu bilang tuh lukisan keren? biasa gitu." Tanya Ronny dengan penuh penasaran. "Emang itu siapa? kayak ngerti wayang aja." Lanjut Ronny dengan sedikit tertawa.
     "Eh kadal! makanya kalau pelajaran Bahasa Jawa tuh masuk. SD cabut mulu si." Umpat Gita. "Ini tuh ya, aku kasih tahu, ini tuh Kumbakarna."
     "Siapa tuh?" Ronny memotong penjelasan Gita dan menghentikan pekerjaannya.
     "Makanya dengerin dulu. Kumbakarna itu saudaranya Rahwana, tahu kan? raja yang nyulik Dewi Shinta dari Rama. Rahwana itu raja dari Alengka. Masa nggak tahu?"
      "Sumpah Gita, nggak nyangka aku. Ternyata kamu ngerti ya tentang wayang." Ujar Ronny.
     "Makanya sekolah. Ya nggak ngerti-ngerti banget si, cuma ini tokoh emang dari dulu udah bikin aku tertarik. Dulu waktu masih SD, aku pernah nemenin. . . ."
     "nemenin siapa Git? Yah, njelasinnya setengah-setengah nih, nggak asik." Ujar Ronny semakin penasaran.
     
      Gita terdiam. Ada sesuatu yang seketika saja memenuhi pikirannya. Sesuatu yang selalu membuatnya ingin kembali ke masa-masa itu. Suatu keadaan dimana ia merasa sangat bahagia. Sesuatu yang membawanya kembali ke masa penuh warna-warna. Kuas, kanvas, corat-coret yang setiap hari ia temui. Dan membawanya pada sosok yang penuh kesabaran dan kasih sayang. Sosok yang mengajarinya lebih dari apa yang ia dapatkan di sekolah. Sosok yang selalu berlenggak-lenggok menari penuh ceria di kelilingi anak-anak sebayanya. Dan kini ia berhadapan dengan lukisan yang sangat ia kenali. Lukisan yang pernah dibuat beberapa tahun lalu namun belum sempat terselesaikan.

     "Git? Helooooo?" Ronny terus bertanya, berusaha menyadarkan Gita dari lamunannya. Namun Gita tetap diam. Tangannya kembali meraba lukisan itu. Ia baru sadar setelah ia merasakan seseorang telah menepuk pundak kanannya.
     "Kenapa Git? Aku panggil dari tadi dicuekin". Ronny menepuk pundak Gita.
     "Eh? Kenapa, Ron? Gita balik bertanya. Ia terkaget setelah pundaknya ditepuk.
     "Kenapa bengong? dari tadi aku panggil-panggil nggak dijawab".
     "Enggak kok, nggak apa-apa. Aku baru inget, ada perlu di rumah"
     "Yah, padahal dari tadi aku nungguin cerita tentang Kumbakarna, masa segitu doang?
     "Kapan-kapan deh kalau aku ke sini lagi, aku jelasin. Kalau perlu aku bawain bukunya, oke?
     "Yaudah deh. Langsung balik ni?
     "Iya. Aku balik ya, Ron"
     "Oke. Itu dihabisin dulu kopinya!

     Gita kemudian mengambil jaket dan menghabiskan kopinya yang sudah tidak lagi panas. Seketika saja ia ingin segera sampai rumah. memakai jaket jeans dan diletakkannya selembar dua puluh ribuan di meja. Sangking terburu-burunya, sampai-sampai kakinya menabrak kursi. Melihat tingkah Gita yang tidak sabaran dan menabrak kursi pula, Ronny yang sedang menata cangkir tertawa cekikikan.
   
     "Ron, aku balik ya? tuh duitnya di meja" ujar Gita.
   
     Ronny yang masih tertawa hanya bisa menggeleng. Sebenarnya harga kopi yang Gita buat hanya lima belas ribu. Memang Gita sering sekali meninggalkan kembalian. Hal itu menjadi tugas Ronny yang mempunyai kotak sendiri untuk menyimpan kembalian Gita.

     "Iya ati-ati. Helmnya di pakai di kepala, jangan di dengkul! 



Bersambung. . . . .