Dia Tersenyum
Oleh : Yanuar Firdaus
Belum ada satu menit ia
berlalu. Payung berwarna kuning itu berjalan menjauh. Dan tubuhnya mengecil.
Perlahan hilang dibalik arsiran deras hujan. Ia meninggalkan jaket bergambar
kucing kesayangannya yang ia selimutkan di tubuhku. Bau khas tubuhnya
tertera di jaket itu ketika kubenamkan kepalaku untuk mencari kehangatan lebih.
Hujan semakin menderas dan ketakutanku mendadak hadir mengingat wajahnya yang
sayu dan pucat itu. Tetapi tak sekalipun ia melepas senyumnya saat pertemuan
setengah jam tadi.
Aku semakin sibuk
mencari kehangatan. Godaan tempat tidurku yang semakin merayu menyuruh untuk
masuk rumah, kutepis. Si pemilik rumah mungkin sedang tidur. Aku tahu karena ia
tak menemui temannya yang menyelimutiku dengan jaket bergambar kucing tadi. Aku
masih ingin memandanginya meskipun tinggal payungnya yang masih terlihat.
Tubuhnya semakin jauh menghilang dari pandanganku. Tertutup jalan yang menurun.
Andai saja Tuhan bisa mendengar doa dari makhluk sepertiku, aku ingin meminta
satu saja. Hilangkan pucat dari wajahnya. Dan selamatkan ia sampai rumah. Aku
salah. Ternyata aku meminta banyak. Bukan hanya satu.
Hujan selalu menawarkan
ruang untuk berdiam berlama-lama. Tapi diamku kali ini terasa mengganjal. Aku
memikirkannya. Wanita yang menyelimutiku dengan jaket bergambar kucing ini. Ya.
Dia wanita yang selalu membawa setengah hatiku kemanapun. Ini yang aku rasakan.
Aku tak sekalipun peduli kalau ia tak merasa seperti yang aku rasakan. Sungguh.
Aku masih ingat saat
pertama kali aku bertemu dengannya di taman tempat biasa aku menyendiri dan
kemudian ia mengajakku kerumahnya. Sore. Ketika itu, tubuhku basah dan lusuh.
Aku sempat menolaknya, namun, ia tetap memaksa dengan rayuan lembut. Kupandangi
wajahnya. Tak ada kata lain selain aku harus mengatakan bahwa ia begitu cantik.
Memang begitu. Bahwa ketika sering kudengar cantik adalah Bidadari, tapi aku
ingin menyebutnya Dewi. Sungguh. Aku tak peduli.
“Ada yang salah dengan
penampilanku?” ia bertanya lirih. “oh mungkin kau hanya kaget melihat
tingkahku. Aku sangat senang bertemu denganmu,” jelasnya. “Oh iya namaku Luna. Maaf
aku baru pulang kerja. Agak capek si, tapi ketemu kamu, jadi seger lagi. Hihi.”
Imbuhnya.
Sentuhannya begitu
lembut. Aku tak merasa berlebihan bila harus jujur berkata bahwa tidak ada
manusia lain yang memiliki kelembutan sikap seperti yang ia miliki. Tidak ada. Aku
bukannya menyanjung. Aku hanya menjelaskan bahwa itu adalah benar. Aku harus
mengutuki diriku sendiri karena mulutku terkunci. Kalaupun tidak, aku takkan sanggup
mengeluarkan sepatah kata pun. Sial. Bias matanya telah menghentikan gerakku.
Diam adalah sikapku waktu itu untuk membalas kelembutannya.
Aku takut memberikan
kesan kesombongan padanya karena diamku. Aku takut membuat ia membatin, “Sial. Kenapa aku harus bertemu dengan
makhluk seangkuh ini?”. Aku takut. Untung dugaanku hanya sebatas dugaan tak
mendasar. Senyumnya membuatku yakin bahwa ia tak peduli dengan sikap diamku
waktu itu.
Sepanjang perjalanan
menuju rumahnya, aku tak berani berjalan disampingnya. Aku terus membuntuti.
Sesekali ia berhenti, menoleh ke arahku dan melempar senyum. Ia terlihat begitu
ceria. Tas kerja yang menggantung di tangan kirinya, sesekali ia lempar ke
atas. Sepanjang jalan itu serasa hanya milik kami berdua. Mobil yang berseliweran
seakan menjadi pengiring. Cahaya lampu jalan mulai tampak menguning. Aku terus
berjalan membututinnya.
Di depan gerbang rumah
sederhana dengan taman yang luas, ia berhenti. Ia membuka tas kerjanya dan
sibuk mencari sesuatu. Perlahan aku mendekat untuk mencari tahu apa yang ia
cari.
“Sebentar. Kamu ingin
membantuku mencari kunci gerbang? Jangan. Tunggu sebentar ya.” Jelasnya.
Kembali ia mencari
sesuatu itu. Kunci gerbang. Ternyata rumah sederhana yang berhalaman luas ini adalah
rumahnya. Pohon dan bunga hias menutupi teras rumahnya. Oh, betapa asri rumah
ini. Ya. Seperti wajahnya, asri. Namun gelap memenuhi hampir penjuru rumah.
Hanya hiasan tiga bambu calung kecil yang menggantung di teras rumahnya yang berbunyi
ketika angin menerpa.
Aku tak merasa asing
dengan rumah ini. Oh ya. Di rumah ini aku pernah melihat dua manusia beradu
mulut. Di akhiri dengan si lelaki pergi menggunakan sebuah mobil hitam
meninggalkan seorang wanita sendirian. Aku tak begitu memperhatikan wajah si
wanita itu. Karena sebagian wajahnya ia tutupi dengan tangannya. Seperti
menangis. Apakah mungkin wanita itu adalah Luna? Mendadak kebencianku muncul.
Bukan hanya kebencian. Namun dendam rupanya telah menguasaiku juga. Kebencian
dan dendamku seketika muncul pada laki-laki yang telah meninggalkan wanita itu.
Kalau saja benar wanita itu adalah Luna, aku tak bisa memaafkan diriku sendiri
karena tak bisa berbuat apa-apa ketika ia sedang beradu mulut dengan lelaki
brengsek itu.
Lamunanku buyar sesaat
setelah Luna membentur-benturkan gembok ke gerbang. Itu tanda yang berarti ia
berhasil menemukan kunci gerbang dan berhasil pula membukanya.
“Hey! Ayok kita masuk,”
perintahnya. “kita nyalakan gua itu. Ayok.”
Aku telah berjanji
untuk selalu memenuhi apa yang ia mau. Bukan berarti aku mengikrarkan diri
sebagai budak. Bukan. Aku hanya ingin selalu melihat senyumnya. Dan, mungkin
dengan memenuhi semua kemauannya, aku berharap senyum itu selalu menghiasi
wajahnya. Aku tak memiliki alasan untuk itu. Sama seperti ketika matahari
memancarkan sinarnya ke sebagian bumi. Maka siang lah. Apakah ada yang bisa
menjelaskan mengapa siang menjadi label ketika sinar matahari menerpa bagian
bumi?. Mungkin saja ada. Tapi sekali pun ada yang menjelaskan, aku tidak akan
mendengarkannya. Aku hanya ingin mendengar tawanya, ceritanya, dan nyanyiannya
walau terdengar sumbang. Aku hanya ingin mendengar itu. Mendengar apa yang
keluar dari mulut wanita itu. Luna.
Cahaya lampu telah
menggantikan terangnya matahari waktu itu. Aku berada di ruang tamu rumahnya.
Sederhana. Luna tanpa pamit langsung menuju kamarnya. Nampak banyak benda-benda
antik. Tapi ada satu yang menarik perhatian netraku. Lukisan bayi manusia. Ya. Banyak
lukisan bayi menggantung di dinding rumahnya. Bayi-bayi dalam pose tersenyum. Oh
aku sadar, mungkin Luna sudah mempunyai bayi. Memang untuk wanita seusianya,
sangat pantas apabila ia sudah memiliki bayi barang umur tiga atau empat tahun.
Tapi dimana bayinya? Sementara sedari tadi aku tak melihat manusia lain kecuali
dirinya. Dan suaminya? Mungkin sedang pergi.
Luna kembali dengan
penampilan berbeda. Ia mengenakan baju santai. Terkesan sederhana, tapi paras
ayunya tak lenyap sama sekali. Walaupun wajah lesu masih tampak jelas terlihat.
Ia baru pulang kerja. Ia lelah. Ada rasa inginku menyuruhnya untuk istirahat.
Tapi perlahan Luna menghampiriku dan duduk persis di sampingku.
“Sebenarnya aku sangat lelah. Tapi ini bukan
waktu untuk tidur. Pamali kata orang.” Lekuk bibirnya sangat manis ketika
bicara.
Ada rasa canggung dan
kikuk ketika aku ingin mentap wajahnya. Aku harap ia bisa mengerti bahwa aku
tak bisa menatap wajahnya walaupun aku tahu, ia merasa lain ketika aku terus
memandangi lukisan bayi yang mengantung di dekat pintu kamarnya untuk
menyembunyikan rasa canggungku. Ia terdiam. Sekitar sepuluh menit sebelum
akhirnya membuka suara kembali.
“Lucu ya?” jelasnya
sambil mengarahkan pandangannya ke lukisan itu.
“Adalah surga bila bisa
melihat senyum bayi mungil di rumah ini. Polos, suci, ikhlas tidak ada setitik
pun dosa dalam dirinya. Aku sangat merindukan sosoknya dirumah ini.” Tambahnya.
Nampak ada butir air
mata menetes keluar dari sudut matanya. Jujur, aku sangat bingung. Ketidakpahaman
telah menjebakku. Aku tak tahu harus berbuat apa. Ketika janji akan selalu
membuat ia tersenyum yang kutanam dalam hatiku telah kuikrarkan, aku harus
menyaksikan air mata keluar tanpa bisa kuhentikan.
“Kau harus tahu betapa
teririsnya hati seorang perempuan ketika ia tahu bahwa rahimnya takkan pernah
bisa tertanam benih janin seorang manusia. Ini bukan maya. Ini nyata menimpaku.
Ketika suamiku tahu bahwa ada penyakit yang bersembunyi di rahimku, dan aku tak
bisa memberikannya keturunan,” ia menarik nafas panjang. “Ditambah lagi ia meninggalkanku
sendiri dalam keadaan seperti ini. Aku bukannya menyalahkan suamiku. Bukan. Aku
yang salah. Aku juga tak bisa menyalahkan Tuhan karena aku tak bisa mengandung.
Aku malah berterimakasih pada Tuhan karena tidak menitipkan janin di rahimku
ini. Rahimku bukan surga untuk para bayi. Tapi tak bisa kupungkiri aku sangat
merindukannya.” Tangisnya semakin dalam.
Andai saja aku bisa
menyeka air matanya yang menyeruah, andai saja aku bisa menawarkan pundakku
untuknya bersandar, andai saja aku tahu dimana suaminya yang tega
meninggalkannya, andai saja, andai saja, andai saja. Aku hanya bisa
berandai-andai. Aku ingin mengutuki diriku sendiri karena hanya bisa
berandai-andai. Aku bisa terima bila seandainya Luna berkata bahwa aku hanya
makhluk yang tidak berguna. Aku bisa terima.
“Mungkin usiaku tak
selama usiamu,” ia berkata sambil mengusap punggungku. “Dokter telah
menyarankan sebaiknya cepat dilakukan operasi pengangkatan rahim. Aku menolaknya.
Aku tak mau berpulang dalam keadaan tak mempunyai rahim. Aku tak mau. Mungkin aku
terlalu jahat apabila aku meminta pada Tuhan untuk menyembuhkan penyakitku ini.”
Aku sangat
berterimakasih pada langit ketika itu karena kulihat tak ada lagi air mata yang
menetes di pipinya. Dan untuk kesekian kalinya aku berjanji akan selalu
menemaninya. Aku tak mengerti mengapa setiap kali, ia harus memengangi
perutnya. Tak lama, ia berlari menuju kotak bergambar tanda ‘plus’ merah. Tiga pil
langsung ia teguk. Apa mungkin sakit di perutnya sudah tak tertahan lagi? Aku
tak tahu. Kemudian ia berjalan mendekat dengan masih memegangi perutnya.
“Aku ingin istirahat. Kalo
kamu mau tidur, kamu bisa tidur di sofa ini. Selamat malam”. Ia berjalan gontai
menuju kamarnya. Pucat. Tak ada suara lagi setelah ia menutup pintu kamarnya.
***
Hujan perlahan mereda.
Lama kutungu. Sebelum pergi, Luna berpesan agar aku di rumah saja menemani si
pemilik rumah. Luna tak mau aku basah dan sakit. Tapi aku harus memastikan
bahwa ia selamat sampai rumah walau hujan belum sepenuhnya reda. Maafkan aku
Luna, aku tak mengindahkan pesanmu.
Kususuri jalan dengan
sedikit berlari. Aku harap Luna belum sampai dirumahnya. Sehingga, aku bisa
mengantarnya dan memastikan ia sampai dengan selamat. Sepanjang jalan tak
kudapati Luna. Kupercepat langkah kakiku. Luna, semoga tak ada suatu apa
menimpamu.
Aku langsung menerobos
pintu gerbang rumah Luna dengan keadaan masih tertutup. Aku tak sabar ingin
melihatnya. Nampak pintu rumahnya terbuka. Sangat jarang Luna lupa menutup
pintu. Perasaanku semakin tak jelas. Di dalam rumah, tak juga kudapati Luna. Dimana
dia. Aku bingung. Teramat bingung. Panik merajai tubuhku sepenuhnya.
Untuk beberapa saat aku berpikir untuk
memasuki kamar Luna. Aku sangat ragu. Pasalnya, aku tak pernah sekali pun lancang
memasuki ruangan pribadinya. Aku melihat ke luar rumah. Memastikan tak ada
orang yang sedang mengamati gerakku. Aku harus melakukan ini. Segera. Kudorong pintu
kamar Luna. Dan apa yang kudapati? Ya Tuhan. Luna tergeletak di lantai. Wajahnya
pucat. Tubuhnya basah sebagian. Apa yang harus kulakukan. Aku panik. Aku terus
mengeong. Terus mengeong. Aku berlari ke luar rumah berharap ada orang yang
mendengar teriakku. Aku terus mengeong. Tuhan selamatkan dia, selamatkan wanita
pujaanku, selamatkan Luna, Tuhan!